Sering Overthinking Justru Saat Waktu Luang? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Refa - Thursday, 08 January 2026 | 03:00 PM


Pernahkah merencanakan akhir pekan untuk bersantai, namun saat waktunya tiba, pikiran justru dipenuhi kecemasan dan skenario buruk yang belum tentu terjadi? Fenomena ini sering dikeluhkan banyak orang di media sosial. Bukannya merasa rileks, waktu luang sering kali malah menjadi pemicu utama overthinking atau berpikir berlebihan.
Ternyata, ada penjelasan ilmiah mengapa otak manusia cenderung "berisik" justru ketika tubuh sedang beristirahat. Para ahli psikologi dan neurosains menyebut kondisi ini bukan sekadar kebiasaan buruk, melainkan mekanisme alami otak.
Berikut adalah tiga alasan utama mengapa overthinking menyerang di waktu santai:
1. Aktivitas Default Mode Network (DMN)
Secara biologis, otak tidak pernah benar-benar berhenti bekerja. Saat seseorang sedang fokus mengerjakan tugas kantor atau belajar, otak menggunakan jaringan eksekutif. Namun, saat melamun atau berdiam diri, otak mengalihkan daya ke jaringan yang disebut Default Mode Network (DMN).
DMN berfungsi untuk introspeksi, memproses ingatan masa lalu, dan merencanakan masa depan. Masalahnya, ketika DMN terlalu aktif tanpa kontrol, fungsi ini sering kali berubah menjadi perenungan berlebihan tentang kesalahan masa lampau atau kekhawatiran berlebih tentang masa depan. Inilah sebabnya saat diam, seseorang bisa tiba-tiba teringat kejadian memalukan lima tahun lalu.
2. Hilangnya Distraksi Eksternal
Kesibukan sehari-hari sering kali berfungsi sebagai "penghalang" bagi pikiran-pikiran negatif. Saat sibuk, otak dipaksa memproses informasi dari luar, seperti tenggat waktu pekerjaan, kemacetan lalu lintas, atau obrolan dengan rekan kerja.
Ketika waktu luang tiba, distraksi atau pengalih perhatian tersebut hilang. Tanpa adanya fokus eksternal, suara-suara internal yang selama ini terabaikan, seperti kritik terhadap diri sendiri atau kekhawatiran finansial, menjadi lebih terdengar dan mendominasi pikiran.
3. Bias Negatif Otak untuk Bertahan Hidup
Secara evolusi, otak manusia dirancang untuk memprioritaskan keselamatan, bukan kebahagiaan. Nenek moyang manusia purba harus selalu waspada terhadap ancaman predator agar bisa bertahan hidup.
Meski di zaman modern ancaman predator sudah tidak ada, mekanisme otak ini tetap berjalan. Saat situasi terasa tenang (waktu luang), otak justru menganggap ini adalah "waktu yang aman" untuk memindai potensi bahaya lain dalam hidup, seperti masalah sosial, karier, atau hubungan. Akibatnya, otak mencari-cari masalah untuk diselesaikan, yang berujung pada siklus overthinking.
Cara Mengatasinya
Untuk mengurangi dampak ini, para ahli menyarankan agar tidak membiarkan pikiran kosong terlalu lama saat sedang stres. Melakukan "istirahat aktif" dinilai lebih efektif daripada sekadar berbaring diam.
Kegiatan ringan seperti berjalan kaki di alam, membaca buku, merapikan rumah, atau menuliskan isi pikiran ke dalam jurnal (brain dumping) dapat membantu menjaga DMN tetap terkendali tanpa membebani mental.
Next News

Kenapa Rajaban Selalu Dinanti? Tradisi Jawa Rayakan Isra’ Mi’raj dengan Cara Berbeda
in 7 hours

Mengapa Isra’ Mi’raj Terjadi Setelah Tahun Kesedihan? Ini Jawabannya
in 6 hours

Salat Masih Terasa Hampa? Coba Renungi Makna Al-Fatihah Ayat per Ayat
in 6 hours

Sholat Sering Melamun? Coba 6 Teknik Ini agar Lebih Khusyuk
in 5 hours

Bukan Beban, Ini Alasan Sholat Disebut Hadiah Langsung dari Allah
in 4 hours

Bagaimana Danur Mengubah Takdir Karier Prilly Latuconsina Selamanya
in 5 hours

Kupas Tuntas Penyebab Kebocoran Halus pada Ban Tubeless yang Sering Luput dari Pandangan
in 5 hours

Ini Cara Tepat Membersihkan Motor Setelah Terabas Hujan Agar Awet
in 4 hours

Bagaimana Gelombang Alfa Menentukan Batas Antara 'Aku' dan Dunia Luar
in 3 hours

Sekali Coba Pasti Ketagihan! Ini Resep Nasi Bogana Lengkap ala Tradisi
in 4 hours






