Ceritra
Ceritra Warga

Sering Lapar Padahal Baru Makan? Bisa Jadi Ini Penyebabnya

Refa - Wednesday, 07 January 2026 | 02:00 PM

Background
Sering Lapar Padahal Baru Makan? Bisa Jadi Ini Penyebabnya
Ilustrasi Merasa Lapar (Pinterest/Freepik)

Piring makan siang sudah bersih licin, perut rasanya sudah penuh, bahkan sendawa tanda kekenyangan sudah keluar. Tapi anehnya, satu jam kemudian, kaki seolah bergerak sendiri menuju kulkas atau tangan mulai bergerilya mencari toples keripik di meja kerja.

Rasanya perut seperti lubang tanpa dasar. Ada suara kecil di kepala yang berbisik, "Kayaknya enak nih kalau ada yang manis-manis," atau "Masih muat lah kalau cuma bakso goreng satu biji."

Padahal secara logika, tangki bahan bakar tubuh masih penuh. Lantas, kenapa rasa lapar itu datang lagi secepat kilat? Sebelum menyalahkan cacing di perut, coba perhatikan dulu sinyal-sinyal tubuh yang seringkali salah diterjemahkan ini. Ternyata, "merasa lapar" dan "butuh makan" adalah dua hal yang sangat berbeda.

Berikut adalah beberapa alasan kenapa mulut rasanya ingin terus mengunyah meski perut sebenarnya tidak minta diisi.

Jebakan "Karbohidrat Kosong"

Pernah sarapan bubur ayam atau mie instan, lalu merasa sangat lapar lagi pukul 10 pagi? Ini bukan karena porsinya kurang, tapi karena jenis makanannya.

Makanan yang didominasi oleh karbohidrat olahan (nasi putih, tepung, gula) memang cepat menaikkan energi, tapi cepat juga menjatuhkannya. Proses ini dikenal dengan sugar crash. Saat gula darah melonjak drastis lalu anjlok tiba-tiba, otak panik dan mengirim sinyal darurat: "Energi habis! Cari makan lagi cepat!"

Jadi, meskipun perut penuh dengan nasi, jika tidak ada serat atau protein yang menahannya, rasa kenyang itu hanya numpang lewat.

Haus yang Menyamar Jadi Lapar

Ini adalah trik paling klasik yang sering dimainkan oleh otak. Pusat kendali rasa lapar dan rasa haus di otak (hipotalamus) letaknya berdekatan. Seringkali, saat tubuh sebenarnya berteriak "Butuh air!", otak justru menerjemahkannya sebagai "Butuh camilan!"

Banyak orang yang buru-buru mengambil biskuit saat merasa lesu atau perut keroncongan, padahal mungkin mereka hanya mengalami dehidrasi ringan. Coba minum segelas air putih dan tunggu 10 menit. Seringkali, rasa "lapar" yang menggebu-gebu itu hilang begitu saja setelah tenggorokan basah.

Makan dengan Kecepatan Cahaya

Di tengah kesibukan yang serba memburu, waktu makan seringkali dianggap sebagai tugas yang harus cepat diselesaikan. Masuk mulut, kunyah dua kali, telan. Selesai dalam 5 menit.

Masalahnya, perut dan otak itu punya jeda komunikasi sekitar 20 menit. Perut butuh waktu untuk mengirim email ke otak yang isinya: "Halo, di sini sudah penuh. Tolong berhenti makan."

Kalau makan terlalu cepat, piring sudah habis sebelum email itu sampai. Akibatnya, orang merasa belum puas dan nambah porsi lagi. Baru setelah 30 menit kemudian, rasa begah yang menyiksa itu datang menyerang.

Bosan, Stres, atau Cuma Butuh Dopamin?

Tidak semua rasa lapar berasal dari kebutuhan fisik. Ada yang namanya Emotional Hunger alias lapar emosi.

Saat seseorang sedang stres mengejar deadline, atau sebaliknya sedang bosan mati gaya di rumah, otak mencari pelarian untuk mendapatkan rasa nyaman (dopamin). Makanan—terutama yang gurih, manis, dan berlemak—adalah sumber dopamin paling instan.

Jadi, ketika tangan merogoh keripik saat sedang nonton film atau bekerja, tanyakan pada diri sendiri: "Ini perut yang lapar, atau cuma mulut yang kesepian?" Seringkali, jawabannya adalah yang kedua.

Kurang Tidur Semalam

Begadang bukan cuma bikin mata panda, tapi juga bikin perut "bocor". Saat kurang tidur, hormon penahan nafsu makan (leptin) menurun, sementara hormon pemicu rasa lapar (ghrelin) meningkat tajam.

Itulah kenapa orang yang habis begadang biasanya punya nafsu makan yang brutal keesokan harinya. Tubuh yang kelelahan menuntut asupan energi instan yang biasanya berujung pada keinginan makan junk food atau makanan manis secara berlebihan.

Logo Radio
🔴 Radio Live