Ceritra
Ceritra Warga

Sering Kehabisan Topik? Ini 5 Trik Bertanya Agar Obrolan Mengalir Tanpa Henti

Refa - Monday, 12 January 2026 | 05:30 PM

Background
Sering Kehabisan Topik? Ini 5 Trik Bertanya Agar Obrolan Mengalir Tanpa Henti
Ilustrasi keadaan awkward silence (Pinterest/factrepublic)

Momen hening yang canggung atau awkward silence adalah mimpi buruk dalam setiap interaksi sosial. Situasi ini sering terjadi ketika seseorang merasa kehabisan bahan pembicaraan, sehingga obrolan berhenti mendadak dan suasana menjadi kaku.

Banyak orang berpikir bahwa untuk menjadi lawan bicara yang asyik, seseorang harus memiliki wawasan luas atau pandai melucu. Padahal, kunci utama percakapan yang hidup bukanlah pada seberapa banyak cerita yang dimiliki, melainkan pada kualitas pertanyaan yang diajukan.

Pertanyaan yang tepat ibarat bahan bakar yang menjaga mesin percakapan tetap menyala. Berikut adalah lima teknik "seni bertanya" untuk mencegah obrolan menemui jalan buntu.

1. Hindari Pertanyaan "Ya" atau "Tidak"

Musuh terbesar percakapan adalah pertanyaan tertutup (closed-ended questions). Jenis pertanyaan ini hanya menghasilkan jawaban satu kata, yang otomatis mematikan dinamika dialog.

Dengan mengubah struktur kalimat menggunakan kata tanya "Apa", "Bagaimana", atau "Ceritakan", lawan bicara "dipaksa" untuk memberikan jawaban deskriptif yang panjang. Semakin panjang jawaban, semakin banyak celah untuk mengembangkan topik baru.

2. Teknik "Burung Beo" (Paraphrasing)

Terkadang, seseorang bingung harus merespons apa setelah lawan bicara selesai bercerita. Teknik paling mudah dan efektif adalah dengan menjadi "burung beo", yaitu mengulang 2-3 kata terakhir yang diucapkan lawan bicara dengan nada bertanya.

Teknik ini secara psikologis memberikan sinyal bahwa pendengar menyimak dengan baik, sekaligus memancing lawan bicara untuk menjelaskan detail cerita tanpa perlu memikirkan pertanyaan baru yang rumit.

3. Gali Cerita, Bukan Biodata

Pertanyaan standar seperti "Kerja di mana?" atau "Aslinya orang mana?" sering kali terasa membosankan karena jawabannya hanyalah fakta kering (biodata). Percakapan akan lebih menarik jika penanya menggali sisi emosional atau pengalaman.

Daripada bertanya hal teknis, cobalah pertanyaan yang memicu sebuah story. Alih-alih "Kuliah jurusan apa?", cobalah tanyakan, "Apa alasan yang membuatmu akhirnya memilih jurusan itu?"

Manusia secara alami lebih suka menceritakan pengalaman emosional dibandingkan data statistik hidupnya.

4. Rumus Pertanyaan Tindak Lanjut (Follow-up)

Kesalahan umum pembicara amatir adalah melompat-lompat antar topik (topic jumping). Hal ini membuat percakapan terasa seperti interogasi polisi.

Kuncinya adalah follow-up. Dengarkan satu kata kunci menarik dari jawaban lawan bicara, lalu gunakan itu sebagai basis pertanyaan selanjutnya.

Jika lawan bicara berkata, "Saya baru saja mencoba hobi fotografi," jangan langsung bertanya "Kamera apa yang dipakai?". Cobalah tanya, "Apa yang membuatmu tiba-tiba tertarik dengan fotografi?". Pertanyaan ini menggali motivasi, yang jauh lebih dalam daripada sekadar membahas alat.

5. Hati-hati dengan Kata "Kenapa"

Meskipun terdengar sepele, kata tanya "Kenapa" bisa menjadi bumerang. Dalam konteks tertentu, "Kenapa" terdengar menghakimi atau menuduh (judgmental). Contoh: "Kenapa kamu tidak ambil tawaran itu?" (Terdengar menyalahkan). Untuk menjaga suasana tetap nyaman, ganti kata "Kenapa" dengan "Apa alasannya" atau "Bagaimana ceritanya". Revisi, "Apa pertimbangan utama yang membuatmu melepas tawaran itu?"

Perubahan diksi yang halus ini membuat pertanyaan terdengar lebih netral, empatik, dan menunjukkan rasa ingin tahu yang tulus, bukan kritik.

Logo Radio
🔴 Radio Live