Ceritra
Ceritra Warga

Sering Dianggap Remeh, 5 Kesalahan Komunikasi Kecil Ini Bisa Hancurkan Hubungan dan Karir

Refa - Monday, 12 January 2026 | 03:30 PM

Background
Sering Dianggap Remeh, 5 Kesalahan Komunikasi Kecil Ini Bisa Hancurkan Hubungan dan Karir
Ilustrasi pasangan yang sedang bertengkar (Pinterest/idntimes)

Kehancuran sebuah hubungan, baik personal maupun profesional, jarang disebabkan oleh satu peristiwa besar yang terjadi tiba-tiba. Sebaliknya, retaknya kepercayaan sering kali bermula dari akumulasi kesalahan-kesalahan komunikasi kecil yang dilakukan berulang kali.

Banyak orang tidak menyadari bahwa kebiasaan bicara atau pola interaksi tertentu yang dianggap "biasa" sebenarnya mengandung pesan tersirat yang negatif. Kesalahan-kesalahan mikro ini, jika dibiarkan, akan menciptakan jarak emosional dan kesalahpahaman fatal.

Berikut adalah lima kesalahan komunikasi yang terlihat sepele namun memiliki dampak psikologis yang besar.

1. Jebakan Kata "Selalu" dan "Tidak Pernah"

Saat sedang berargumen atau memberikan umpan balik, seseorang sering kali menggunakan kata generalisasi absolut. Contoh: "Kamu selalu telat" atau "Kamu tidak pernah mendengarkan saran."

Secara teknis, penggunaan dua kata ini hampir pasti tidak akurat (faktualnya, jarang ada orang yang 100% selalu salah). Dampaknya, lawan bicara akan langsung bersikap defensif dan menolak mendengarkan karena merasa dituduh secara tidak adil. Diskusi yang seharusnya mencari solusi berubah menjadi perdebatan membela diri. Fokus masalah bergeser dari "keterlambatan" menjadi "ketidakadilan tuduhan".

2. Mengandalkan Asumsi ("Saya Kira...")

Kesalahan terbesar dalam komunikasi adalah mengharapkan orang lain bisa membaca pikiran. Kalimat "Saya kira dia sudah mengerti" adalah sumber utama kegagalan proyek di tempat kerja.

Menganggap bahwa instruksi singkat sudah cukup, atau berasumsi bahwa pasangan paham kenapa seseorang diam, adalah tindakan berisiko. Asumsi menciptakan celah ekspektasi. Ketika realitas tidak sesuai dengan asumsi tersebut, timbul kekecewaan yang sebenarnya bisa dicegah dengan satu pertanyaan verifikasi sederhana di awal.

3. Respons Singkat di Pesan Teks (Ambigu)

Dalam komunikasi digital (WhatsApp/Email), nada suara dan ekspresi wajah tidak terlihat. Oleh karena itu, konteks sangat bergantung pada pemilihan kata dan tanda baca.

Membalas pesan panjang atau laporan serius hanya dengan kata "Ok", "Y", atau "Siap" tanpa emoji atau konteks tambahan sering kali diterjemahkan sebagai nada ketus, marah, atau tidak peduli oleh penerima pesan. Meskipun pengirim tidak bermaksud demikian, ambiguitas ini memicu kecemasan (anxiety) pada penerima pesan, yang merasa bahwa kinerjanya tidak dihargai.

4. Memotong Pembicaraan (Interrupting)

Banyak orang memotong pembicaraan lawan bicaranya dengan alasan "antusiasme" atau "ingin segera menanggapi poinnya". Namun, secara psikologis, memotong pembicaraan orang lain mengirimkan sinyal dominasi.

Tindakan ini secara implisit mengatakan: "Apa yang akan saya katakan lebih penting daripada apa yang sedang kamu ucapkan." Hal ini membuat lawan bicara merasa tidak divalidasi dan dikecilkan. Dalam jangka panjang, orang akan enggan berbicara terbuka dengan individu yang memiliki kebiasaan memotong pembicaraan.

5. Menunda Kabar Tanpa Kepastian (Silent Treatment)

Tidak segera membalas pesan adalah hal yang wajar jika sedang sibuk. Namun, membaca pesan penting lalu membiarkannya berhari-hari tanpa kabar (terutama dalam konteks pekerjaan) adalah bentuk pengabaian.

Kesalahan ini sering dianggap sepele dengan alasan "nanti akan dibalas saat senggang". Padahal, bagi pengirim pesan, ketiadaan respons menciptakan ketidakpastian. Hal ini menggerus kepercayaan profesional. Etika yang benar adalah memberikan respons singkat seperti "Pesan diterima, saya akan balas lengkap nanti sore," untuk memberikan kepastian.

Logo Radio
🔴 Radio Live