Self Harm, Perilaku Melukai Diri yang Bukan Hanya Sekadar Luka Fisik
Nisrina - Tuesday, 10 February 2026 | 09:15 PM


Ketika mendengar istilah self harm atau melukai diri sendiri sebagian besar orang langsung membayangkan benda tajam atau luka goresan di lengan. Stereotip ini begitu melekat kuat di masyarakat sehingga bentuk bentuk lain dari perilaku menyakiti diri sering kali luput dari perhatian. Padahal self harm adalah fenomena gunung es yang jauh lebih kompleks dan memiliki banyak wajah.
Banyak orang yang mungkin sedang melakukan self harm tanpa menyadarinya. Mereka berpikir bahwa karena mereka tidak menggunakan silet atau pisau maka mereka baik baik saja. Padahal perilaku seperti sengaja tidak makan agar jatuh sakit memukul tembok hingga tangan memar atau sengaja tidak tidur berhari hari juga termasuk dalam kategori ini.
Artikel ini akan menyelami kedalaman psikologis dari keinginan untuk menyakiti diri sendiri. Kita akan membongkar mitos bahwa ini hanyalah "mencari perhatian" dan melihatnya sebagai mekanisme pertahanan diri yang keliru dalam menghadapi rasa sakit emosional yang tak tertahankan. Mari kita pahami spektrum luas perilaku ini agar kita bisa lebih peka terhadap diri sendiri dan orang orang di sekitar kita.
Definisi Luas Self Harm yang Sering Disalahartikan
Secara medis perilaku ini sering disebut sebagai Non Suicidal Self Injury atau NSSI. Artinya tindakan ini dilakukan dengan sengaja untuk menimbulkan rasa sakit atau kerusakan pada tubuh namun tanpa niat untuk mengakhiri hidup. Ini adalah poin penting yang membedakannya dengan percobaan bunuh diri.
Pelaku self harm melakukan hal tersebut bukan karena ingin mati tetapi justru karena mereka kesulitan untuk hidup dengan emosi yang mereka rasakan. Rasa sakit fisik dijadikan pelarian atau pengalihan dari rasa sakit batin yang jauh lebih menyiksa.
Definisi ini mencakup segala tindakan yang merugikan integritas fisik dan mental seseorang yang dilakukan secara sadar. Jadi jika Anda dengan sengaja melakukan sesuatu yang Anda tahu akan membuat tubuh Anda sakit atau rusak demi mendapatkan rasa "lega" atau "puas" itu sudah termasuk dalam kategori self harm.
Bentuk Bentuk Halus yang Sering Diabaikan
Seperti yang disinggung sebelumnya melukai diri tidak selalu melibatkan darah. Ada banyak bentuk self harm yang "halus" namun sama berbahayanya karena sering kali tidak dianggap serius oleh lingkungan sekitar.
Salah satu yang paling umum namun jarang dibahas adalah menelantarkan kebutuhan dasar tubuh atau self neglect. Contoh paling nyata adalah sengaja menahan lapar atau tidak makan berhari hari. Tujuannya bukan untuk diet atau kurus seperti pada anoreksia melainkan murni untuk menghukum diri sendiri. Ada kepuasan tersendiri saat merasakan perut perih melilit atau tubuh lemas tak berdaya. Rasa sakit lambung itu menjadi validasi bahwa "saya sedang menderita".
Bentuk lainnya adalah sengaja memicu penyakit. Seseorang mungkin sengaja hujan hujanan agar demam sengaja memakan makanan yang membuat alergi atau menolak minum obat saat sedang sakit parah. Logika bawah sadar yang bermain di sini adalah keinginan untuk dirawat atau keinginan untuk merasakan sakit fisik yang nyata karena sakit emosional terasa terlalu abstrak.
Selain itu ada juga perilaku seperti mencabuti rambut (trikotilomania) mengelupasi kulit bibir atau jari hingga berdarah (dermatilomania) memukul diri sendiri menonjok tembok benda keras atau bahkan olahraga berlebihan sampai cedera otot parah. Semua ini adalah manifestasi dari gejolak batin yang tidak tersalurkan.
Mengapa Seseorang Ingin Menyakiti Diri Sendiri
Pertanyaan terbesar bagi mereka yang tidak pernah mengalaminya adalah "Kenapa". Mengapa ada orang yang waras mau menyakiti tubuhnya sendiri. Jawabannya terletak pada regulasi emosi.
Bagi pelaku self harm emosi negatif seperti sedih marah kecewa benci pada diri sendiri atau rasa bersalah sering kali datang seperti ombak tsunami yang menghantam. Mereka tidak memiliki kemampuan atau mekanisme koping yang sehat untuk meredakan ombak tersebut.
Rasa sakit fisik berfungsi sebagai "jangkar" atau grounding. Ketika tubuh terluka otak akan langsung fokus pada rasa perih tersebut. Seketika rasa sakit hati rasa hampa atau suara suara negatif di kepala menjadi hening karena fokus beralih ke luka fisik. Ini memberikan sensasi kelegaan instan meskipun hanya sementara.
Selain itu bagi mereka yang mengalami mati rasa emosional atau numbness (sering terjadi pada penderita depresi berat) menyakiti diri sendiri adalah cara untuk "merasakan sesuatu". Rasa perih membuktikan bahwa mereka masih hidup dan masih nyata.
Aspek Kecanduan dan Reaksi Kimia Otak
Hal yang menakutkan dari perilaku ini adalah sifatnya yang adiktif atau membuat kecanduan. Saat tubuh mengalami luka fisik otak secara otomatis melepaskan hormon endorfin. Endorfin adalah pereda nyeri alami tubuh yang juga memberikan efek menenangkan dan sedikit rasa nyaman.
Siklus inilah yang membuat seseorang sulit berhenti. Ketika stres datang otak akan mengingat bahwa "terluka = tenang". Pelaku akan kembali mencari rasa sakit itu untuk mendapatkan suntikan endorfin demi meredakan kecemasan mereka.
Lama kelamaan toleransi tubuh akan meningkat. Luka yang kecil tidak lagi memberikan efek tenang yang sama sehingga pelaku cenderung melakukan tindakan yang lebih ekstrem atau lebih sering. Inilah mengapa self harm sekecil apa pun tidak boleh diremehkan dan harus segera ditangani.
Hukuman Diri dan Rasa Bersalah yang Ekstrem
Sudut pandang lain yang tak kalah penting adalah self harm sebagai bentuk hukuman diri atau self punishment. Ini sering terjadi pada individu yang tumbuh di lingkungan yang sangat kritis penuh tekanan atau memiliki trauma masa lalu.
Mereka memiliki kritikus batin yang sangat jahat. Suara di kepala mereka terus berkata "Kamu bodoh", "Kamu tidak berguna", atau "Kamu pantas menderita". Untuk menebus "kesalahan" atau "kegagalan" yang sering kali hanya ada di pikiran mereka mereka menghukum tubuh mereka sendiri.
Dalam kasus sengaja tidak makan misalnya pelakunya mungkin berpikir "Aku tidak pantas mendapatkan kenikmatan makanan karena aku gagal ujian" atau "Tubuh ini menjijikkan jadi harus dibuat sakit". Ini adalah pola pikir destruktif yang mengakar kuat dan membutuhkan terapi kognitif untuk mengubahnya.
Tanda Bahaya yang Harus Diwaspadai Orang Terdekat
Karena banyak bentuk self harm yang tidak terlihat (seperti memukul diri sendiri atau tidak makan) mendeteksinya bisa jadi sulit. Namun ada beberapa perubahan perilaku yang bisa menjadi petunjuk.
Perhatikan jika seseorang tiba tiba selalu memakai baju lengan panjang atau celana panjang meski cuaca panas. Perhatikan jika ada luka memar lebam atau bekas gigitan yang tidak bisa dijelaskan penyebabnya secara logis.
Perubahan pola makan yang drastis juga harus diwaspadai. Jika teman atau anak Anda terlihat sering menahan lapar terlihat lemas namun menolak makan atau sering mengeluh sakit fisik (sakit perut, pusing) yang sepertinya "sengaja" dibiarkan itu bisa jadi sinyal minta tolong. Isolasi sosial menarik diri dari pergaulan dan perubahan suasana hati yang ekstrem juga sering menyertai perilaku ini.
Langkah Menuju Pemulihan dan Alternatif Koping
Berhenti menyakiti diri sendiri adalah proses yang panjang dan sering kali terjadi relapse atau kambuh. Itu wajar. Langkah pertama adalah menyadari bahwa perilaku ini tidak menyelesaikan masalah inti melainkan hanya menundanya.
Penting untuk mencari pengganti atau distraksi yang lebih aman saat dorongan itu muncul. Teknik yang sering disarankan psikolog meliputi menggenggam es batu (memberikan sensasi dingin yang menyengat tapi tidak melukai) mencoret coret kertas dengan krayon merah merobek kertas bekas atau menjentikkan karet gelang di pergelangan tangan.
Namun solusi jangka panjangnya adalah terapi profesional. Terapi Perilaku Dialektis atau DBT (Dialectical Behavior Therapy) terbukti sangat efektif untuk menangani kasus self harm. Terapi ini mengajarkan toleransi terhadap stres regulasi emosi dan kesadaran penuh (mindfulness).
Jika Anda sedang berjuang dengan hal ini ketahuilah bahwa Anda tidak sendirian dan Anda tidak "gila". Rasa sakit Anda valid namun tubuh Anda tidak pantas menjadi sasaran kemarahan itu. Ada cara lain untuk menyalurkan rasa sakit yang lebih menyembuhkan dan Anda berhak mendapatkan bantuan untuk menemukannya.
PERINGATAN: Berita ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri.
Jika Anda memerlukan layanan konsultasi masalah kejiwaan, jangan ragu bercerita, konsultasi, atau memeriksakan diri ke psikiater di rumah sakit yang memiliki fasilitas layanan kesehatan jiwa. Terlebih apabila pernah terbersit keinginan melakukan percobaan bunuh diri.
Untuk konsultasi, Anda dapat menghubungi nomor hotline Psikolog Klinis Rumah Sakit Jiwa Menur di 081-3472-753-07 via WhatsApp, setiap Senin-Kamis: 08.00-19.00 dan Jumat: 08.00-13.00 WIB. Atau mengakses layanan Love Inside Sucide Awareness (LISA) Kementerian Kesehatan di Call Center 119 atau hotline 08113855472.
Next News

Jangan Salah Tidur! Simak Panduan Power Nap yang Benar
9 days ago

Apakah Déjà Vu Bisa Menandakan Masalah Kesehatan? Simak Penjelasan
11 days ago






