Ceritra
Ceritra Warga

Produktif atau Terjebak? Saat Semangat Kerja Berubah Jadi Racun Halus

- Wednesday, 29 October 2025 | 03:00 PM

Background
Produktif atau Terjebak? Saat Semangat Kerja Berubah Jadi Racun Halus

Semakin sibuk terlihat, semakin banyak yang diam-diam kelelahan. Tren toxic productivity kembali disorot setelah banyak pekerja muda mengaku merasa bersalah jika tidak terus-menerus ‘berprogres’, meski tubuh dan pikiran mereka jelas meminta istirahat.


Fenomena ini tumbuh dari budaya yang memuja kesibukan. Jadwal rapat rapat, target harian, dan konten motivasi yang berseliweran membentuk ilusi bahwa berhenti sebentar adalah tanda kegagalan. “Capek, tapi takut kelihatan kurang kerja,” kata Rion, karyawan 26 tahun.


Di media sosial, banyak yang membagikan kisah bekerja tanpa jeda demi terlihat produktif. Mulai dari begadang untuk revisi, hingga menolak cuti karena takut ketinggalan. Beberapa konselor kerja menyebut tren ini membuat batas antara profesional dan pribadi makin kabur.


Dampaknya terasa luas. Para pekerja melaporkan kecemasan, sulit tidur, dan cepat marah. Di beberapa kantor, manajer mulai memberi peringatan bahwa performa bagus bukan berarti bekerja tanpa henti. “Produktif itu penting, tapi tetap manusia,” ujar seorang HR di Jakarta.


Pada akhirnya, kita harus belajar membedakan sibuk dan sehat. Bila produktivitas membuat kita lupa bernapas, mungkin saatnya menurunkan kecepatan. Hidup bukan perlombaan; kadang, berhenti sebentar justru membuat kita lebih mampu melangkah jauh.

Logo Radio
🔴 Radio Live