Ceritra
Ceritra Warga

Sejarah Gingerbread Dari Rempah Perang Salib hingga Ikon Manis Natal

Refa - Wednesday, 24 December 2025 | 10:45 AM

Background
Sejarah Gingerbread Dari Rempah Perang Salib hingga Ikon Manis Natal
Ilustrasi Kue Jahe (Pinterest/claudiandfin)

Setiap bulan Desember, aroma hangat yang memadukan jahe, kayu manis, cengkih, dan gula merah seolah menjadi parfum alami yang memenuhi udara di berbagai belahan dunia. Aroma ini berasal dari Gingerbread, kue yang telah melampaui statusnya sekadar camilan menjadi simbol global perayaan Natal.

Namun, di balik bentuk orang-orangan yang lucu dan rumah-rumahan yang dihias permen, tersimpan sejarah panjang yang melibatkan biarawan abad pertengahan, ratu Inggris yang cerdik, hingga dongeng klasik Jerman.

Akar Sejarah: "Obat" yang Menjadi Kudapan

Jauh sebelum menjadi kue kering renyah, jahe adalah komoditas mewah. Sejarah mencatat bahwa resep awal kue jahe dapat ditelusuri hingga ke Yunani kuno dan Mesir, di mana jahe digunakan untuk tujuan ritual dan pengawetan.

Masuknya jahe ke daratan Eropa secara masif terjadi berkat Perang Salib pada abad ke-11. Para ksatria yang kembali dari Timur Tengah membawa pulang rempah-rempah eksotis, termasuk jahe. Kala itu, jahe bukan hanya penyedap rasa, tetapi juga dianggap sebagai obat pengawet makanan dan penghangat tubuh di musim dingin.

Pada Abad Pertengahan di Eropa, pembuatan kue jahe adalah hak istimewa para biarawan di biara. Mereka membuat kue padat dari remah roti, air mawar, madu, dan jahe yang dicetak dengan ukiran simbol-simbol agama atau potret orang suci. Kue ini sering dibagikan pada festival keagamaan sebagai "roti suci" yang diyakini memiliki khasiat penyembuhan.

Kelahiran "Gingerbread Man": Diplomasi Ratu Elizabeth I

Siapa yang pertama kali memiliki ide untuk membentuk kue ini menjadi menyerupai manusia? Kredit tersebut diberikan kepada Ratu Elizabeth I dari Inggris pada abad ke-16.

Sang Ratu dikenal sering mengadakan jamuan makan mewah. Ia memerintahkan pembuat rotinya untuk membentuk kue jahe menyerupai rupa para tamu kehormatan dan diplomat asing yang berkunjung ke istana. Kue-kue tersebut dihias dengan daun emas untuk menunjukkan kemewahan. Ini adalah bentuk awal dari "diplomasi kuliner", di mana tamu merasa tersanjung (atau mungkin terintimidasi) saat memakan kue berbentuk diri mereka sendiri. Sejak saat itu, Gingerbread Man menjadi populer di kalangan bangsawan sebelum akhirnya menyebar ke rakyat jelata.

Revolusi Dongeng: Rumah Hansel dan Gretel

Jika Inggris mempopulerkan bentuk orang, maka Jerman mempopulerkan bentuk rumah. Di Jerman, kue jahe dikenal dengan nama Lebkuchen, yang teksturnya lebih lunak seperti roti bolu padat.

Lonjakan popularitas "Rumah Kue Jahe" (Gingerbread House) terjadi pada awal abad ke-19, dipicu oleh cerita rakyat yang dibukukan oleh Grimm Bersaudara: Hansel dan Gretel. Dalam dongeng tersebut, dikisahkan dua anak yang menemukan rumah penyihir yang terbuat dari roti, kue, dan permen.

Kisah ini begitu meledak di pasaran sehingga memicu tren baru di kalangan pembuat roti Jerman. Mereka mulai berlomba-lomba membuat rumah miniatur dari adonan kue jahe yang keras, dihias dengan icing gula putih menyerupai salju. Tradisi ini kemudian menyebar ke Amerika dibawa oleh imigran Jerman dan menjadi standar dekorasi Natal modern.

Evolusi Bahan Dari Madu ke Molase

Perubahan rasa dan tekstur Gingerbread dari masa ke masa sangat dipengaruhi oleh ketersediaan bahan.

Pada awalnya, pemanis utama yang digunakan adalah madu, yang membuat teksturnya lebih lembut. Namun, seiring dengan mahalnya harga madu dan munculnya gula yang lebih terjangkau di abad ke-17, resep mulai berubah. Penggunaan molase (tetes tebu) menjadi populer, terutama di Amerika. Molase memberikan warna cokelat gelap yang khas, tekstur yang lebih renyah (untuk versi biskuit), dan rasa manis yang lebih "dalam" serta sedikit pahit, yang kini menjadi ciri khas Gingerbread modern.

Simbolisme Perekat Keluarga

Hari ini, Gingerbread telah kehilangan fungsi mistis atau medisnya, namun mendapatkan fungsi sosial yang baru. Membuat dan menghias rumah kue jahe atau Gingerbread Man adalah aktivitas komunal.

Kue ini menjadi kanvas kreativitas bagi anak-anak dan orang dewasa. Teksturnya yang keras dan tahan lama membuatnya ideal sebagai bahan konstruksi yang bisa dipajang selama berminggu-minggu tanpa basi. Ia mengajarkan kesabaran saat merakit dinding kue dengan "semen" gula, dan kegembiraan saat menempelkan permen warna-warni di atapnya.

Logo Radio
🔴 Radio Live