Saat Beruang Merah Pasang Badan untuk Naga Asia dalam Isu Taiwan
Nisrina - Monday, 29 December 2025 | 12:48 PM


Peta kekuatan politik dunia kembali menonjolkan garis tegas persahabatan antara dua raksasa timur yakni Moskow dan Beijing. Di tengah gelombang tekanan internasional yang silih berganti, Rusia sekali lagi mempertegas posisi setianya dengan berdiri tegak di samping China terkait isu sensitif Selat Taiwan. Pernyataan keras baru saja dilontarkan oleh Kremlin yang menolak mentah-mentah segala bentuk kemerdekaan bagi Taiwan. Bagi Rusia, pulau tersebut adalah bagian tak terpisahkan dari wilayah kedaulatan Tiongkok dan tidak ada ruang tawar-menawar untuk narasi separatisme yang didengungkan oleh pihak manapun. Dukungan moral dan politik ini bukan sekadar basa-basi diplomatik, melainkan sinyal kuat bahwa kemesraan strategis antara kedua negara adidaya ini semakin sulit digoyahkan oleh pihak Barat.
Pemicu terbaru dari penegasan sikap ini adalah manuver pemimpin Taiwan, Lai Ching-te, yang melakukan perjalanan ke negara-negara Pasifik dengan transit di wilayah Amerika Serikat yaitu Hawaii dan Guam. Moskow memandang langkah ini bukan sekadar singgah untuk mengisi bahan bakar pesawat, melainkan sebuah provokasi politik yang terang-terangan. Rusia menilai bahwa dalih "transit" tersebut sering kali dimanfaatkan oleh Washington dan Taipei untuk memberikan panggung politik bagi agenda separatisme, sekaligus memancing emosi Beijing. Dalam pandangan Moskow, tindakan Amerika Serikat yang memberikan fasilitas bagi perjalanan tersebut adalah bentuk campur tangan urusan dalam negeri China yang justru memperkeruh stabilitas di kawasan Asia Pasifik yang sudah cukup panas.
Pemerintah Rusia melalui juru bicaranya menegaskan kembali komitmen mereka terhadap prinsip Satu China. Mereka percaya bahwa pemerintah di Beijing adalah satu-satunya pemerintahan yang sah yang mewakili seluruh Tiongkok, termasuk Taiwan di dalamnya. Oleh karena itu, Moskow mendukung penuh segala langkah yang diambil oleh Beijing untuk mempertahankan integritas teritorialnya dari ancaman luar. Sikap ini seolah menjadi balasan setimpal atas dukungan diam-diam maupun terbuka yang sering diberikan China kepada Rusia dalam menghadapi sanksi dan tekanan dari negara-negara Barat dalam beberapa tahun terakhir. Hubungan ini telah berevolusi menjadi sebuah tembok pertahanan bersama di mana jika satu pihak diganggu kedaulatannya, maka pihak lain akan ikut bersuara lantang.
Solidaritas ini mengirimkan pesan yang sangat jelas kepada dunia internasional bahwa upaya untuk mengepung atau mengisolasi salah satu dari mereka tidak akan berjalan mudah. Isu Taiwan kini bukan lagi sekadar masalah domestik China atau perseteruan regional semata, melainkan telah menjadi salah satu titik api utama dalam persaingan hegemoni global. Dengan Rusia yang kini secara vokal menjadi "beking" bagi klaim kedaulatan China, peta konflik di Asia Timur menjadi semakin kompleks. Dukungan tanpa syarat dari Moskow ini menjadi bukti bahwa di era ketidakpastian global saat ini, musuh dari musuhku adalah sahabat terbaikku, dan bagi Rusia serta China, persatuan adalah kunci untuk menghadapi dominasi narasi Barat.
Next News

Bosan Main Monopoli yang Itu-itu Aja? Cobain 6 Edisi Unik Ini Biar Nongkrong Gak Garing
3 days ago

Gak Perlu Malu Lagi! Cara Tenxi Mengubah Dangdut Jadi "Swag" dan Mendunia
3 days ago

Warna Pink dalam Perspektif Sejarah: Dari Simbol Maskulinitas hingga Identitas Feminitas
4 days ago

Mengapa Sebagian Orang Justru Mengantuk Setelah Minum Kopi?
4 days ago

Fenomena Efek Proust: Ketika Aroma Menghidupkan Kembali Kenangan
4 days ago

Dilema Lemari Penuh: Strategi Mengelola Pakaian Lama agar Tetap Bernilai Guna
4 days ago

Bedah House Music: Fondasi Ritmis di Balik Estetika Lagu K-pop yang Adiktif
5 days ago

Asal Usul Pepatah "An Apple a Day Keeps the Doctor Away"
5 days ago

Mengapa Bayi Perlu Menangis Saat Baru Lahir?
5 days ago

Mengapa Wanita Menjadi Lebih Sensitif Saat Menstruasi?
7 days ago




