

Dikiranya hidup di negeri orang akan memberi harapan, tapi nasib berkata lain. DA (43), pekerja migran asal Blitar, ditemukan di pinggir jalan Malaysia dalam kondisi mengenaskan penuh luka tusuk, satu mata buta, tubuh lebam. Lebih pilu lagi, pelakunya ternyata sesama WNI.
DA sudah 15 tahun mengabdi sebagai pekerja migran di Malaysia. Ia dikenal sabar dan rajin, mengirim uang untuk membiayai anak perempuannya yang kini duduk di bangku SMP. Namun, mimpi yang ia perjuangkan di negeri seberang mendadak berubah jadi mimpi buruk.
Perempuan asal Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar itu diserang oleh enam orang satu pria dan lima perempuan WNI yang diduga teman dekatnya. Peristiwa keji itu terjadi di dalam mobil. Tubuh DA ditusuk hingga 17 kali, sebelum akhirnya dibuang di pinggir jalan tol. Ketika ditemukan, matanya sudah rusak, wajahnya penuh luka, dan tubuhnya nyaris tak dikenali.
"Kakak saya sempat cerita, sebelumnya juga pernah dianiaya orang yang sama. Tapi waktu itu tidak dilaporkan ke polisi," kata Bagus, adik korban, dengan suara bergetar. Ia mengaku keluarga hanya bisa pasrah dan berharap kasus ini benar-benar dikawal sampai tuntas.
Kini DA telah keluar dari rumah sakit setelah sempat dirawat intensif selama beberapa pekan. Meski kondisinya berangsur pulih, ia masih menunggu proses persidangan di Malaysia. Pemerintah Indonesia melalui KBRI Kuala Lumpur disebut sudah turun tangan, namun keluarga masih khawatir soal kepulangan DA ke tanah air.
Kasus ini mengguncang banyak kalangan, terutama para pekerja migran. Di media sosial, sesama PMI mengungkapkan keprihatinan dan rasa takut. Tak sedikit yang menuntut agar pemerintah memperkuat sistem perlindungan hukum bagi WNI di luar negeri bukan hanya dari majikan, tapi juga dari sesama.
"Miris, dianiaya bukan oleh orang asing tapi oleh saudara sendiri. Kita ini merantau untuk hidup, bukan untuk saling menghancurkan," tulis salah satu pengguna Facebook yang mengaku bekerja di Johor Bahru.
Kisah DA menyadarkan kita bahwa kekerasan tak selalu datang dari luar, tapi bisa juga dari dalam lingkaran sendiri. Dalam dunia kerja yang keras, solidaritas seharusnya jadi pelindung, bukan senjata. Mungkin sudah saatnya, negara dan sesama anak bangsa menaruh empati lebih—agar tak ada lagi "DA" berikutnya yang harus pulang dalam luka.
Next News

Bosan Main Monopoli yang Itu-itu Aja? Cobain 6 Edisi Unik Ini Biar Nongkrong Gak Garing
12 hours ago

Gak Perlu Malu Lagi! Cara Tenxi Mengubah Dangdut Jadi "Swag" dan Mendunia
12 hours ago

Warna Pink dalam Perspektif Sejarah: Dari Simbol Maskulinitas hingga Identitas Feminitas
a day ago

Mengapa Sebagian Orang Justru Mengantuk Setelah Minum Kopi?
a day ago

Fenomena Efek Proust: Ketika Aroma Menghidupkan Kembali Kenangan
a day ago

Dilema Lemari Penuh: Strategi Mengelola Pakaian Lama agar Tetap Bernilai Guna
a day ago

Bedah House Music: Fondasi Ritmis di Balik Estetika Lagu K-pop yang Adiktif
2 days ago

Asal Usul Pepatah "An Apple a Day Keeps the Doctor Away"
2 days ago

Mengapa Bayi Perlu Menangis Saat Baru Lahir?
2 days ago

Mengapa Wanita Menjadi Lebih Sensitif Saat Menstruasi?
4 days ago





