Ceritra
Ceritra Update

Ragam Tradisi Advent yang Menerangi Suasana Natal di Benua Eropa

Refa - Wednesday, 24 December 2025 | 10:30 AM

Background
Ragam Tradisi Advent yang Menerangi Suasana Natal di Benua Eropa
Ilustrasi Natal (Pinterest/janieljgillmor)

Bagi masyarakat Eropa, Natal bukanlah sekadar perayaan satu hari pada tanggal 25 Desember. Justru, magis yang sesungguhnya terletak pada masa penantian selama empat minggu sebelumnya yang disebut Masa Advent.

Di belahan bumi utara, Advent jatuh pada hari-hari terpendek dan tergelap dalam setahun. Oleh karena itu, hampir seluruh tradisi Advent di Eropa berpusat pada satu tema besar, yaitu membawa cahaya ke dalam kegelapan. Mulai dari Jerman hingga Skandinavia, setiap negara memiliki cara unik untuk menghitung mundur menuju hari kelahiran Kristus.

Berikut adalah tradisi-tradisi Advent paling ikonik yang mewarnai benua biru.

1. Adventskranz: Lingkaran Lilin Pengharapan (Jerman & Austria)

Tradisi yang kini mendunia ini berakar kuat di tanah Jerman. Keluarga-keluarga di sana akan meletakkan sebuah Lingkaran Advent (Advent Wreath) di meja makan atau ruang tamu.

Lingkaran ini terbuat dari anyaman daun cemara segar yang dihiasi dengan empat batang lilin. Setiap hari Minggu selama masa Advent, satu lilin akan dinyalakan.

  • Minggu pertama: Satu lilin menyala (Simbol Harapan).
  • Minggu kedua: Dua lilin menyala (Simbol Damai).
  • Minggu ketiga: Tiga lilin menyala (Simbol Sukacita/Gaudete).
  • Minggu keempat: Semua lilin menyala (Simbol Cinta).

Momen penyalaan lilin ini biasanya dilakukan sambil menyanyikan lagu-lagu Natal kuno dan menikmati kue kering (Plätzchen), menciptakan suasana kontemplatif yang hangat di tengah dinginnya udara luar.

2. Kalender Advent: Hitung Mundur yang Manis

Jika Adventskranz lebih bersifat religius, maka Kalender Advent adalah favorit anak-anak. Tradisi yang bermula di Jerman pada abad ke-19 ini awalnya hanya berupa garis kapur di pintu atau gambar religius.

Namun kini, Kalender Advent berbentuk kotak besar dengan 24 "jendela" atau pintu kecil. Anak-anak diperbolehkan membuka satu jendela setiap hari mulai tanggal 1 Desember hingga 24 Desember. Di balik jendela tersebut biasanya tersembunyi cokelat, permen, atau mainan kecil. Di beberapa kota tua Eropa, gedung balai kota sering disulap menjadi "Kalender Advent Raksasa", di mana setiap jendela gedung akan menyala dan menampilkan karya seni berbeda setiap malamnya.

3. Christkindlmarkt: Pasar Natal (Eropa Tengah)

Masa Advent di Eropa tidak akan lengkap tanpa kehadiran Pasar Natal. Alun-alun kota di Jerman, Austria, Prancis (Strasbourg), hingga Ceko (Praha) berubah menjadi desa musim dingin yang gemerlap.

Deretan gubuk kayu menjual kerajinan tangan, hiasan pohon Natal, dan tentu saja kuliner khas. Aroma Glühwein (anggur panas berempah), Lebkuchen (kue jahe), dan sosis panggang memenuhi udara. Pasar ini bukan sekadar tempat belanja, melainkan ruang sosial utama bagi warga untuk berkumpul, menahan dingin bersama, dan merayakan kebersamaan sebelum hari raya tiba.

4. St. Nicholas dan Krampus: Hadiah dan Hukuman (5-6 Desember)

Di Belanda, Jerman, dan Austria, ada satu hari di tengah masa Advent yang sangat dinanti sekaligus ditakuti anak-anak. Tanggal 5 atau 6 Desember adalah perayaan Santo Nicholas (Sinterklas).

Berbeda dengan Santa Claus versi Amerika yang datang tanggal 25, Santo Nicholas datang lebih awal. Ia digambarkan sebagai uskup bijak yang mengisi sepatu anak-anak yang diletakkan di depan pintu dengan jeruk, kacang-kacangan, dan cokelat.

Namun, di wilayah Alpen (Austria & Bavaria), Santo Nicholas tidak datang sendiri. Ia ditemani oleh Krampus, sosok makhluk bertanduk dan berbulu menyeramkan. Jika Santo Nicholas memberi hadiah pada anak baik, Krampus bertugas menakut-nakuti anak nakal dengan rantai dan loncengnya. Tradisi Krampuslauf (parade Krampus) menjadi tontonan jalanan yang mendebarkan di malam hari.

5. Hari St. Lucia: Festival Cahaya (Swedia & Skandinavia)

Di Eropa Utara yang mengalami musim dingin paling gelap (hanya sedikit cahaya matahari), tanggal 13 Desember dirayakan sebagai Hari Santo Lucia.

Tradisi ini sangat visual dan puitis. Seorang gadis muda (biasanya putri tertua dalam keluarga atau perwakilan kota) akan berpakaian jubah putih dengan pita merah di pinggang, mengenakan mahkota yang dihiasi lilin-lilin menyala di atas kepalanya. Ia memimpin prosesi sambil membawa nampan berisi roti safron (Lussekatter) dan kopi untuk membangunkan keluarganya. Cahaya lilin di atas kepala Lucia melambangkan kemenangan cahaya atas kegelapan yang menyelimuti musim dingin Skandinavia.

Logo Radio
🔴 Radio Live