Pinjam Orang, Bukan Buku: Cara Unik Denmark Hapus Prasangka Lewat 'Perpustakaan Manusia'
Refa - Tuesday, 16 December 2025 | 11:00 AM


Biasanya, perpustakaan adalah tempat yang sunyi di mana orang meminjam buku untuk dibaca sendiri. Namun, di Denmark, lahir sebuah konsep revolusioner bernama "The Human Library" atau Perpustakaan Manusia.
Sesuai namanya, di sini "buku" yang dipinjam bukanlah kumpulan kertas, melainkan manusia sungguhan.
Pengunjung bisa "meminjam" orang tersebut selama 30 menit untuk diajak mengobrol, bertanya apa saja, dan mendengar kisah hidupnya. Tujuannya satu, yaitu jangan menilai buku dari sampulnya (don't judge a book by its cover).
Katalog 'Buku' yang Menantang
Yang membuat perpustakaan ini istimewa adalah daftar "judul buku" yang tersedia. Mereka adalah orang-orang yang selama ini sering ditempeli label negatif, prasangka, atau sering disalahpahami oleh masyarakat.
Contoh "judul" yang bisa dipinjam antara lain seorang pengungsi, penderita autisme, mantan pecandu narkoba, single parent, polisi, hingga penderita obesitas.
Di kehidupan nyata, kita mungkin enggan atau takut menyapa mereka karena stigma yang melekat. Namun di perpustakaan ini, tembok pembatas itu diruntuhkan.
Dialog yang Membuka Mata
Bayangkan duduk berhadapan dengan seseorang yang selama ini kita anggap "aneh" atau "berbeda", lalu mendengarkan cerita dari sudut pandang mereka.
Banyak pengunjung yang datang dengan kepala penuh stereotip, tapi pulang dengan mata yang basah karena haru. Mereka sadar bahwa di balik label "Mantan Narapidana" atau "Pengangguran", ada sosok manusia yang hangat, jenaka, dan punya perjuangan hidup yang luar biasa.
Percakapan tatap muka ini terbukti ampuh menghapus kebencian dan ketakutan yang sering kali muncul hanya karena ketidaktahuan.
Pelajaran untuk Kita
Dunia saat ini sering kali terbelah oleh komentar pedas di media sosial. Kita begitu mudah menghakimi orang lain hanya dari satu foto atau satu potongan video pendek.
Gerakan Human Library mengingatkan kita kembali pada kekuatan sebuah obrolan sederhana. Bahwa untuk memahami seseorang, kita perlu "membacanya" (mendengarkannya) secara langsung, bukan hanya melihat "sampulnya" (penampilannya).
Mungkin konsep ini bisa kita tiru dalam skala kecil di lingkungan tetangga: lebih banyak mengobrol, lebih sedikit berprasangka.
Next News

Tak Punya Pohon Kakao, Tapi Swiss Jadi Raja Cokelat Dunia, Ini Rahasianya
in 2 hours

Di Balik Keputusan Elon Musk Membungkam Sisi Liar Grok
7 minutes ago

Strategi Evelyn Afnilia Membidik Momen Emas Lebaran 2026 Lewat 'Tunggu Aku Sukses Nanti'
37 minutes ago

FIX! Jakarta Masuk Daftar, BTS Resmi Gelar Tur Dunia 2026!
an hour ago

Kim Hye Yoon dan Park Solomon Hadirkan Romansa Fantasi Segar dalam 'No Tail to Tell'
3 hours ago

Selamat Tinggal Konten Toxic! Fitur Reset Instagram Ini Jadi Penyelamat Mental Health Kamu
5 hours ago

Donald Trump Mau Beli Greenland, NATO Diancam Bubar: Emangnya Ini Jual Beli Tanah Kavling di Citayam?
4 hours ago

Awas Tertipu! Video dari Google Veo 3.1 Saking Realistisnya Sampai Butuh Tanda Khusus
7 hours ago

Era Baru TikTok Shop 2026, Awas Kerkun 'Shadowban Duit'!
a day ago

Bangkit dari Sorotan Miring, Go Min Si Siap Mengguncang Bioskop Lewat Film 'Moral Family'
a day ago





