Ceritra
Ceritra Warga

Pikun di Usia Muda? Kenapa Generasi Kita Makin Susah Fokus dan Malas Mikir

Refa - Tuesday, 06 January 2026 | 03:30 PM

Background
Pikun di Usia Muda? Kenapa Generasi Kita Makin Susah Fokus dan Malas Mikir
Ilsutrasi Pelupa (Pinterest/ariefsigli)

"Eh, tadi gue mau ngomong apa ya? Lupa." "Bentar, gue googling dulu, males mikir."

Sering mengalami momen di atas? Padahal umur masih 20-an atau 30-an, tapi daya ingat rasanya sudah setara nenek-nenek usia 70 tahun. Banyak yang bercanda kalau ini efek kebanyakan makan micin. Padahal, penyebab utamanya ada di genggaman tanganmu 24 jam sehari. Smartphone.

Di tahun 2026 ini, fenomena ini dikenal dengan istilah Digital Amnesia atau Popcorn Brain. Otak kita tidak rusak, tapi "terlena" oleh kenyamanan teknologi.

Kenapa generasi kita makin sulit fokus dan malas berpikir mendalam? Ini penjelasan ilmiahnya yang bikin merinding.

1. Otak Kita Berhenti Menyimpan Memori

Dulu, kita hafal nomor telepon orang tua, pacar, dan sahabat. Kita hafal rute jalan tanpa Google Maps. Sekarang? Kita menyerahkan tugas "mengingat" itu kepada eksternal (HP/Cloud).

Otak manusia itu hemat energi. Saat dia tahu informasi itu bisa diakses dalam 1 detik lewat Google atau AI, otak akan menolak untuk menyimpannya di memori jangka panjang (Long Term Memory). Akibatnya, Hippocampus (bagian otak untuk memori) jadi jarang dilatih dan melemah. Kita jadi "pikun" untuk hal-hal sepele.

2. Efek 'Popcorn Brain' Akibat Video Pendek

Jujur saja, berapa lama kamu bisa tahan membaca buku atau artikel panjang tanpa mengecek notifikasi?

Kebiasaan scrolling video pendek (TikTok, Reels, Shorts) selama berjam-jam telah melatih otak kita untuk terbiasa dengan durasi atensi yang sangat pendek (kurang dari 15 detik). Otak kita terus-menerus disuapi dopamin instan.

Akibatnya, saat harus melakukan aktivitas yang butuh fokus lama dan membosankan (seperti belajar, bekerja, atau rapat), otak kita memberontak. Pikiran melompat-lompat seperti berondong jagung (popcorn) yang meletup. Kita jadi susah fokus, gelisah, dan cepat bosan.

3. Hilangnya Kemampuan Deep Thinking

Tahun 2026 adalah era di mana AI bisa menjawab segalanya. Mau bikin caption Instagram? Pakai AI. Mau bikin tugas kuliah? Tanya AI.

Kenyamanan ini membuat kita kehilangan kemampuan berpikir kritis (Critical Thinking). Kita menjadi konsumen informasi yang pasif, bukan pemikir aktif. Otot analisis di otak kita menjadi lembek karena jarang dipakai untuk memecahkan masalah yang rumit.

Bagaimana Cara Mengembalikannya?

Kabar baiknya, otak itu plastis (Neuroplasticity). Dia bisa dibentuk ulang. Sebelum kamu benar-benar pikun dini, coba lakukan "Detoks Dopamin" sederhana ini:

  1. Stop Multitasking: Lakukan satu hal dalam satu waktu. Kalau sedang makan, jangan main HP. Kalau sedang nonton film, jangan sambil balas chat.
  2. Baca Buku Fisik (Kertas): Paksa otakmu membaca minimal 15 menit sehari tanpa gangguan. Ini melatih "otot" fokusmu untuk kembali kuat.
  3. Hafalkan Kembali: Coba hafalkan 3 nomor telepon penting atau rute jalan ke kantor tanpa melihat Maps.
  4. Bosan itu Sehat: Jangan buru-buru ambil HP saat sedang menunggu antrean atau di toilet. Biarkan pikiranmu melamun (daydreaming). Saat itulah otak beristirahat dan memproses informasi.

Jadi, lain kali kamu lupa mau ngapain saat masuk kamar, jangan salahkan micin di seblakmu. Salahkan HP yang tidak pernah lepas dari tanganmu itu.

Logo Radio
🔴 Radio Live