Ceritra
Ceritra Warga

Pesan Berantai Bisa Bikin Kacau! Ini Cara Mencegah Informasi Dipelintir

Refa - Monday, 12 January 2026 | 01:30 PM

Background
Pesan Berantai Bisa Bikin Kacau! Ini Cara Mencegah Informasi Dipelintir
Ilustrasi penyampaian informasi (Pinterest/edtechwire_official)

Distorsi informasi adalah masalah klasik dalam komunikasi, baik di lingkungan kerja maupun sosial. Fenomena ini sering disebut sebagai efek "pesan berantai", di mana sebuah informasi asli perlahan berubah makna, berkurang, atau bahkan menyimpang jauh setelah melewati beberapa orang.

Perubahan pesan ini sering kali bukan disebabkan oleh niat buruk untuk berbohong, melainkan karena keterbatasan memori manusia dan perbedaan persepsi saat mendengar. Akibatnya, instruksi kerja menjadi salah atau timbul kesalahpahaman antar rekan.

Untuk meminimalkan risiko tersebut, berikut adalah lima teknik komunikasi teknis agar pesan tetap utuh dan akurat meski disampaikan ulang.

1. Terapkan Metode Verifikasi Ulang (Read-Back)

Dalam komunikasi penerbangan atau militer, akurasi adalah hal vital. Oleh karena itu, mereka menggunakan metode read-back.

Teknik ini mewajibkan penerima pesan untuk mengulangi kembali instruksi atau informasi yang baru saja didengar dengan bahasa mereka sendiri. Pengirim pesan kemudian mendengarkan dan mengonfirmasi apakah pemahaman tersebut sudah benar atau masih keliru. Jangan mengakhiri pembicaraan sebelum penerima mampu menyebutkan ulang poin utama dengan tepat.

2. Gunakan Media Tertulis sebagai Bukti Utama

Memori manusia bersifat rekonstruktif dan mudah lupa. Mengandalkan ingatan verbal untuk instruksi yang kompleks sangat berisiko.

Jika pesan berisi data angka, tanggal, lokasi, atau urutan langkah teknis, penyampaian harus dilakukan secara tertulis (melalui email, pesan teks, atau memo). Tulisan berfungsi sebagai jejak rekam yang statis dan tidak bisa berubah, sehingga menjadi rujukan yang valid jika terjadi perdebatan di kemudian hari mengenai isi pesan yang sebenarnya.

3. Struktur Pesan Menggunakan Rumus 5W+1H

Pesan yang tidak terstruktur cenderung membingungkan dan memicu interpretasi bebas. Untuk menjaga keutuhan informasi, gunakan standar jurnalistik dasar: 5W+1H (What, Who, When, Where, Why, How).

  • What: Apa yang harus dilakukan?
  • Who: Siapa yang bertanggung jawab?
  • When: Kapan tenggat waktunya?
  • Where: Di mana lokasinya?
  • Why: Mengapa ini penting?
  • How: Bagaimana cara melaksanakannya?

Dengan memenuhi elemen-elemen ini, celah ambiguitas menjadi tertutup rapat. Penerima pesan tidak perlu menebak-nebak bagian yang hilang.

4. Pisahkan Antara Fakta dan Opini

Penyebab utama membeloknya sebuah pesan adalah tercampurnya fakta dengan opini pribadi perantara. Saat menyampaikan ulang sebuah pesan, seseorang sering kali tanpa sadar menambahkan bumbu perasaan atau tafsir subjektif mereka.

Penyampai pesan harus disiplin untuk hanya meneruskan data objektif. Jika perlu menyampaikan pendapat pribadi, hal tersebut harus diberi label yang jelas, misalnya dengan kalimat: "Informasi resminya adalah A, namun menurut pendapat saya kondisi di lapangan adalah B." Pemisahan yang tegas ini mencegah pendengar menganggap opini sebagai fakta.

5. Pangkas Rantai Distribusi

Semakin panjang rantai manusia yang dilewati sebuah pesan, semakin tinggi tingkat penyimpangan informasinya (distorsi). Setiap orang yang menjadi perantara memiliki potensi mengurangi atau melebih-lebihkan detail pesan.

Cara paling efektif menjaga keaslian pesan adalah dengan memangkas jalur distribusi. Komunikasikan informasi langsung kepada pihak yang berkepentingan tanpa melalui perantara. Jika hal ini tidak memungkinkan, gunakan grup komunikasi digital di mana semua pihak bisa membaca pesan asli dari sumber pertama secara bersamaan.

Logo Radio
🔴 Radio Live