Ceritra
Ceritra Cinta

Pernikahan Adat Nggak Lagi Kuno, Intip Gaya Seru Gen Z Ini!

Zaza - Thursday, 17 September 2026 | 12:50 PM

Background
Pernikahan Adat Nggak Lagi Kuno, Intip Gaya Seru Gen Z Ini!
pernikahan adat jawa (kalurahanwonokromo/-)

Menikah Pake Adat di Era Gen Z: Bukan Kuno, Justru Biar Tetap 'Slay' dan Berakar

Dulu, bayangan anak muda tentang pernikahan adat itu biasanya nggak jauh-jauh dari kesan ribet, panas, konde yang beratnya minta ampun, sampe durasi acara yang rasanya lebih lama daripada nungguin antrean konser Taylor Swift. Belum lagi urusan birokrasi keluarga besar yang bikin kepala mau pecah. Tapi, coba deh lihat tren di media sosial sekarang. Gen Z, yang katanya generasi paling digital dan anti-ribet, ternyata lagi hobi-hobinya naruh sentuhan tradisional di hari bahagia mereka. Ternyata, adat itu nggak melulu soal kuno; ini soal gimana kita ngerayain identitas dengan gaya yang tetap up-to-date.

Kenapa sih tiba-tiba adat jadi naik daun lagi di kalangan anak muda? Jujurly, salah satu alasannya adalah estetika. Di mata Gen Z, visual itu nomor satu. Kebaya kutubaru dengan warna-warna bumi (earth tone) kayak sage green atau terracotta, kalau dipadu sama latar dekorasi yang minimalis-industrial, hasilnya malah jadi kelihatan high-fashion banget. Kita nggak lagi ngomongin soal pernikahan yang "harus begini karena kata kakek-nenek", tapi lebih ke "gimana cara bikin warisan budaya ini kelihatan keren di feed Instagram dan TikTok, tanpa kehilangan maknanya."

Modifikasi Adat: Sat-Set tapi Tetap Bermakna

Gen Z itu tipikal yang suka efisiensi alias sat-set. Kalau dulu prosesi adat Jawa misalnya, bisa makan waktu berhari-hari dengan ritual yang sangat panjang, sekarang banyak pasangan muda yang melakukan kurasi. Mereka memilih prosesi yang dianggap paling punya kedekatan emosional. Misalnya, tetap ada sesi Siraman atau Sungkeman karena momen itu bener-bener dapet "vibes" harunya, tapi mungkin sesi kirabnya dipersingkat atau dibuat lebih santai.

Inspirasi lainnya datang dari penggunaan aksesori. Ambil contoh pengantin Minang. Dulu, Suntiang yang tinggi menjulang itu dikenal bikin pusing tujuh keliling karena beratnya yang bisa mencapai 5 kilogram lebih. Sekarang? Banyak pengrajin yang bikin Suntiang versi lebih ringan tapi tetep kelihatan megah. Jadi, si pengantin perempuan bisa tetap kelihatan kayak ratu seharian tanpa perlu minum obat sakit kepala setelah acara selesai. Ini namanya kompromi antara tradisi dan kenyamanan modern.

Intimate Wedding dengan Sentuhan Tradisi

Salah satu perubahan paling mencolok dari gaya nikah Gen Z adalah jumlah tamu. Kalau orang tua kita dulu pengennya ngundang seluruh warga kecamatan, Gen Z lebih milih intimate wedding. Cuma ada keluarga inti dan sahabat dekat. Nah, di sinilah adat main peran penting. Dalam suasana yang lebih kecil, ritual adat malah terasa lebih sakral dan personal. Nggak ada lagi tuh ceritanya pengantin cuma jadi pajangan di pelaminan yang disalamin ribuan orang nggak dikenal.

Bayangin nikahan di taman belakang rumah atau venue semi-outdoor dengan konsep garden party, tapi pengantinnya pakai busana adat yang sudah dimodifikasi. Pengantin pria pakai beskap yang potongannya lebih slim-fit, sementara pengantin wanita pakai kebaya transparan dengan aksen payet yang modern. Musiknya pun nggak cuma gamelan statis, tapi bisa live acoustic yang mengaransemen lagu-lagu tradisional jadi lebih easy listening. Rasanya tuh kayak pulang ke rumah tapi versi yang jauh lebih estetik.

Diplomasi sama Orang Tua: Tantangan Utama

Tentu saja, nggak semua perjalanan menuju pernikahan adat modern ini mulus-mulus aja. Tantangan terbesarnya biasanya adalah diplomasi sama orang tua atau sesepuh yang masih teguh sama pakem lama. Di sini, kemampuan negosiasi Gen Z diuji. Kita sering dibilang generasi yang vokal, dan itu kepakai banget di sini. Tipsnya? Kasih liat referensi visual yang bagus. Orang tua biasanya bakal luluh kalau kita bisa buktiin kalau konsep kita tetap hormat sama leluhur tapi nggak bikin kita kelihatan kayak lagi main drama kolosal tahun 80-an.

Gunakan argumen "budget" juga seringkali ampuh. Dengan menyederhanakan beberapa prosesi yang sifatnya cuma tambahan, budgetnya bisa dialokasikan ke hal lain yang lebih fungsional, kayak DP rumah atau modal bulan madu. Gen Z itu realistis, kita lebih milih punya masa depan finansial yang sehat daripada cuma pamer sehari tapi setelahnya makan promag sebulan.

Souvenir dan Katering: Lokal tapi Global

Inspirasi adat nggak cuma berhenti di baju atau ritual. Gen J juga sangat peduli sama isu lingkungan dan keberlanjutan (sustainability). Untuk souvenir, daripada kasih barang plastik yang ujung-ujungnya dibuang, pengantin sekarang lebih milih barang kerajinan lokal. Kayak tas anyaman dari perajin di desa, sabun artisan berbahan alami, atau bibit tanaman. Ini adalah cara halus untuk membawa unsur "adat" atau lokalitas ke dalam gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

Soal makanan? Jangan ditanya. Gen Z itu foodies sejati. Daripada nyediain katering internasional yang rasanya hambar, banyak yang balik lagi ke menu Nusantara tapi disajikan dengan standar hotel bintang lima. Ada pojokan khusus jamu yang dikemas modern, atau jajanan pasar yang dibuat versi bite-sized supaya nggak berantakan pas dimakan. Intinya adalah merayakan kekayaan lokal dengan standar kualitas yang tinggi.

Pada akhirnya, menikah dengan sentuhan adat buat Gen Z itu bukan soal pamer kekayaan atau sekadar ikut-ikutan. Ini soal rasa bangga. Di tengah gempuran budaya pop global, kembali ke akar budaya sendiri itu rasanya kayak punya "superpower" unik yang nggak dimiliki orang lain. Menikah pakai adat itu keren, selama kita tahu cara membawakannya dengan percaya diri dan tetap jadi diri sendiri. Jadi, buat kamu yang lagi ngerencanain pernikahan, jangan ragu buat eksplorasi adat daerahmu. Ubah yang kaku jadi luwes, ubah yang berat jadi ringan, tapi biarkan maknanya tetap abadi.

Logo Radio
🔴 Radio Live