Ceritra
Ceritra Cinta

Menjawab Pertanyaan Kapan Nikah dengan Prestasi dan Karier

Zaza - Tuesday, 15 September 2026 | 10:55 AM

Background
Menjawab Pertanyaan Kapan Nikah dengan Prestasi dan Karier
Illustrasi momen menunjukan buku nikah setelah akad (kompas.com/-)

Antara KPR, Healing, dan Janji Suci: Kenapa Gen Z Lebih Pilih "Mapan Dulu" Baru "I Do"

Dulu, di zaman orang tua kita, umur 23 tahun itu standarnya sudah menimang anak atau setidaknya sudah sibuk memikirkan dekorasi pelaminan. Kalau belum menikah di usia segitu, tetangga mulai kasak-kusuk, nanya kapan nyusul, sampai-sampai dituduh yang enggak-enggak. Tapi sekarang? Coba tanya anak muda kelahiran 1997 ke atas. Jawaban mereka kemungkinan besar bukan soal kriteria pasangan idaman, melainkan soal target gaji, cicilan apartemen, atau rencana solo traveling ke Jepang.

Fenomena Gen Z yang lebih memilih nikah saat sudah mapan—bukan sekadar tren musiman. Ini adalah pergeseran paradigma yang cukup dalam. Kita enggak lagi bicara soal cinta monyet yang berakhir di pelaminan bermodal nekat dan doa restu orang tua. Bagi generasi yang tumbuh di tengah gempuran inflasi dan isu kesehatan mental ini, pernikahan adalah proyek besar yang butuh modal finansial dan kestabilan emosi yang nggak main-main.

Realita Ekonomi yang Enggak Bisa Diajak Kompromi

Harga rumah sekarang sudah di luar nalar kalau dibandingkan dengan kenaikan gaji rata-rata staf entry-level. Gen Z melihat kenyataan bahwa membangun rumah tangga itu butuh biaya. Bukan cuma buat pesta semalam yang habis puluhan juta, tapi buat kehidupan setelah "sah". Ada biaya KPR yang mencekik, biaya pendidikan anak yang makin mahal, sampai kebutuhan gaya hidup yang juga nggak murah.

Istilah "makan nasi garam yang penting bersama" sepertinya sudah nggak laku lagi di telinga anak muda zaman sekarang. Mereka lebih realistis. "Gimana mau kasih makan anak orang kalau buat bayar kosan sendiri saja masih ngos-ngosan?" Begitu kira-kira isi pikiran kolektifnya. Menunda pernikahan sampai posisi karier stabil atau tabungan aman dipandang sebagai bentuk tanggung jawab, bukan karena malas berkomitmen.

Selain itu, banyak dari Gen Z yang terjebak dalam fenomena Sandwich Generation. Mereka harus membiayai orang tua sekaligus menata masa depan sendiri. Menambah beban dengan menikah muda tanpa persiapan finansial yang matang rasanya seperti bunuh diri secara finansial. Jadi, target "mapan dulu" itu bukan sekadar gaya-gayaan biar bisa pamer di Instagram, tapi murni strategi bertahan hidup.

Memutus Rantai Trauma dan Prioritas Kesehatan Mental

Selain faktor dompet, ada faktor "jeroan" alias mental. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang mungkin menganggap konflik rumah tangga sebagai "bumbu" yang harus ditelan bulat-bulat, Gen Z jauh lebih peduli pada kesehatan mental. Mereka melihat banyak contoh pernikahan yang dipaksakan muda berakhir dengan drama, toksisitas, atau perceraian yang meninggalkan luka dalam bagi anak-anaknya.

Banyak anak muda sekarang yang merasa harus "selesai" dengan dirinya sendiri sebelum mengikat janji dengan orang lain. Mereka mau healing dulu, membereskan inner child yang terluka, atau sekadar belajar bagaimana cara berkomunikasi yang sehat. Mereka paham bahwa pernikahan bukan tempat untuk mencari kebahagiaan, tapi tempat untuk berbagi kebahagiaan yang sudah mereka miliki secara mandiri.

  • Self-Discovery: Menghabiskan waktu usia 20-an untuk mengenal diri sendiri, hobi, dan passion.
  • Emotional Stability: Belajar mengelola emosi agar tidak melimpahkan trauma pada pasangan atau anak nantinya.
  • Standard Setting: Tidak mau asal pilih pasangan hanya karena tuntutan umur atau desakan keluarga.

Definisi Mapan yang Bergeser

Standar "mapan" bagi tiap generasi itu beda-beda. Kalau dulu mapan artinya punya PNS atau kerja di bank, sekarang mapan bisa berarti punya passive income, punya portofolio saham yang sehat, atau setidaknya punya dana darurat yang cukup untuk hidup setahun tanpa kerja. Gen Z sangat menghargai kebebasan. Mereka takut kalau menikah terlalu cepat, mereka akan kehilangan kesempatan untuk mengeksplorasi dunia.

Ada ketakutan akan FOMO (Fear of Missing Out) terhadap karier dan pengalaman hidup. "Nanti kalau gue punya anak sekarang, gue nggak bisa ambil beasiswa ke luar negeri dong?" atau "Nanti kalau cicilan susu anak sudah jalan, gue nggak bisa lagi nonton konser Taylor Swift di Singapura." Kedengarannya mungkin egois bagi sebagian orang tua, tapi bagi mereka, ini adalah soal skala prioritas. Mereka ingin menikmati masa muda dengan maksimal supaya nanti saat sudah berkeluarga, tidak ada lagi rasa penasaran atau penyesalan yang tertinggal.

Tekanan Sosial yang Mulai Diabaikan

Meski pertanyaan "kapan nikah" masih sering muncul di grup WhatsApp keluarga, Gen Z mulai punya imun yang kuat. Mereka lebih memilih dicap "telat nikah" daripada "salah nikah". Media sosial juga berperan ganda di sini. Di satu sisi, melihat teman nikah bisa bikin baper, tapi di sisi lain, melihat curhatan orang soal peliknya dunia rumah tangga di Twitter atau TikTok justru bikin mereka makin yakin buat nggak buru-buru.

Narasi tentang "Independent Woman" atau "High Value Man" membuat standar dalam memilih pasangan semakin tinggi. Orang tidak lagi sekadar mencari teman tidur atau teman hidup, tapi partner strategis untuk membangun kekaisaran kecil bersama. Kalau belum ketemu yang cocok secara visi, misi, dan frekuensi dompet, ya mending sendiri dulu.

Kesimpulan, Sebuah Pilihan yang Berani

Pada akhirnya, tren nikah tua di kalangan Gen Z ini adalah sinyal bahwa kualitas hidup kini lebih diutamakan daripada sekadar status sosial. Menunda pernikahan demi kemapanan bukan berarti antikomitmen. Justru, ini bisa dibilang bentuk komitmen tertinggi memastikan bahwa ketika saatnya tiba, mereka sudah siap secara lahir dan batin untuk membangun pondasi yang kokoh.

Jadi, buat kalian yang sering ditanya "kapan nyusul?" saat kondangan, santai saja. Jawab saja kalau investasinya belum tembus target atau paspornya masih butuh banyak cap. Karena pernikahan bukan lomba lari yang siapa cepat dia hebat, tapi perjalanan panjang yang butuh bensin (finansial) dan mesin (mental) yang benar-benar siap tempur. Lagipula, lebih baik menunggu sedikit lebih lama untuk hasil yang jauh lebih bermakna, kan?

Logo Radio
🔴 Radio Live