Pernah Merasa Seperti Jatuh Saat Mau Tidur? Ini Penjelasannya
Refa - Thursday, 08 January 2026 | 03:30 PM


Sedang enak-enaknya memejamkan mata dan hampir terlelap, tiba-tiba tubuh tersentak hebat. Sensasinya mirip seperti terpeleset, tersandung, atau jatuh dari ketinggian. Jantung pun berdegup kencang dan rasa kantuk seketika hilang.
Pengalaman ini dialami oleh hampir 70% populasi manusia di dunia. Meski sering memicu kekhawatiran tentang adanya gangguan kesehatan, kondisi yang dikenal secara medis sebagai Hypnic Jerk atau Sleep Start ini sebenarnya adalah fenomena fisiologis yang normal.
Berikut adalah penjelasan ilmiah di balik sensasi "jatuh" yang sering mengganggu momen istirahat tersebut.
Apa Itu Hypnic Jerk?
Hypnic Jerk adalah kedutan otot tak sadar (involuntary muscle twitch) yang terjadi tepat saat seseorang berada dalam fase transisi dari terjaga menuju tidur (fase hipnagogik). Secara sederhana, ini mirip dengan kedutan yang terjadi saat dokter mengetuk lutut pasien, namun kali ini terjadi pada seluruh tubuh.
Fenomena ini biasanya ditandai dengan sentakan tunggal yang cepat pada kaki, lengan, atau seluruh badan, sering kali disertai sensasi visual seperti mimpi jatuh ke jurang atau kilatan cahaya.
Pemicu Utama
Meskipun merupakan kejadian alamiah, frekuensi Hypnic Jerk bisa meningkat drastis akibat gaya hidup tertentu. Beberapa pemicu utamanya meliputi:
- Konsumsi Kafein Berlebih: Kafein memblokir reseptor otak yang memicu rasa kantuk, sehingga menyulitkan otak untuk beralih ke fase tidur dengan mulus.
- Stres dan Kecemasan: Otak yang "sibuk" dan cemas cenderung tetap waspada meskipun tubuh sudah lelah, meningkatkan risiko terjadinya sinyal palsu saat transisi tidur.
- Kelelahan Ekstrem: Saat tubuh terlalu lelah, fase tidur bisa terjadi terlalu cepat, yang membingungkan sistem saraf otak.
Apakah Berbahaya?
Secara medis, Hypnic Jerk tidak berbahaya dan tidak memerlukan pengobatan khusus. Fenomena ini tidak mengindikasikan kerusakan saraf atau penyakit serius.
Namun, jika sentakan ini terjadi terlalu sering hingga mengganggu kualitas tidur atau menyebabkan insomnia (takut untuk tidur), disarankan untuk mulai mengurangi konsumsi kafein di sore hari dan menerapkan teknik relaksasi sebelum tidur untuk menenangkan sistem saraf.
Next News

5 Tips Mengubah Nasib Apes Jadi Hari yang Tetap Produktif
9 hours ago

Bukan Mood Swing Semata, Ini 4 Fase yang Dialami Wanita Setiap Bulan
10 hours ago

Solusi Bebas Antre BBM: Haruskah Ganti ke Mobil Listrik/Hybrid Sekarang?
4 days ago

Mengapa Kita Malah Beres-Beres Saat Ada Tugas? Ini Jawabannya
4 days ago

Merah Cat atau Darah? Menguak Misteri Jembatan Merah Surabaya
7 days ago

Team Bedong vs Team M-Shape, Mana yang Lebih Baik untuk Bayi?
8 days ago

Pilih Sepatu Olahraga Tepat Biar Kaki Stabil dan Bebas Cedera
8 days ago

Tren Dompet, Pouch dan Tas Mini: Solusi Praktis Tanpa Ransel Berat
9 days ago

Pilih Estetika Totebag atau Fungsi Ransel? Ini Panduannya!
11 days ago

Digital Detox: Solusi dari Kebiasaan Scroll Tanpa Henti di Era Digital
11 days ago





