Ceritra
Ceritra Warga

Omongan Kamu Sering Dianggap Angin Lalu? Mungkin Ini Penyebabnya

Refa - Tuesday, 13 January 2026 | 11:30 AM

Background
Omongan Kamu Sering Dianggap Angin Lalu? Mungkin Ini Penyebabnya
Ilustrasi kelompok sedang berdiskusi (Pinterest/enlightiocom)

Kita hidup di zaman di mana fokus manusia konon lebih pendek daripada ikan mas koki. Coba perhatikan sekeliling. Lagi ngobrol tapi mata melirik notifikasi HP, lagi rapat tapi tangan scrolling media sosial, atau lagi disuruh beli gula malah pulang bawa garam karena pikiran melayang ke mana-mana.

Tantangan komunikasi hari ini bukan lagi soal "bagaimana bicara yang baik", tapi "bagaimana memenangkan perhatian". Pesan yang paling penting sekalipun bisa lenyap tak berbekas kalau harus bersaing dengan bunyi tring WhatsApp atau kebisingan lingkungan.

Supaya omongan kita nggak cuma masuk telinga kiri keluar telinga kanan, kita butuh strategi khusus untuk menembus tembok distraksi ini. Berikut caranya menjaga makna pesan tetap utuh sampai ke tujuan.

1. Pastikan Mata Ketemu Mata (Kontak Visual)

Jangan pernah menitipkan pesan penting pada punggung seseorang. Kesalahan paling umum adalah kita berbicara sambil lalu, berteriak dari ruangan sebelah, atau berbicara saat lawan bicara masih asyik menatap layar gadgetnya. Suara kita mungkin terdengar, tapi maknanya pasti tidak diproses oleh otak mereka.

Mulai sekarang, terapkan aturan "cegat sinyal". Sebelum bicara inti masalah, pastikan kita sudah mendapatkan kontak mata penuh. Kalau perlu, sentuh pundaknya pelan atau panggil namanya sampai mereka menoleh dan meletakkan HP-nya. Contohnya, daripada teriak "Jangan lupa kunci pintu!" saat suami sedang main game, lebih baik hampiri, tunggu dia pause game-nya, tatap matanya, baru bilang pesannya. Itu jauh lebih efektif daripada mengomel seharian.

2. Sajikan "Dagingnya" di Depan

Di tengah banjir informasi, otak manusia cenderung membuang detail yang dianggap tidak penting di awal kalimat. Kalau kita bicara berputar-putar dulu baru masuk ke poin utama, kemungkinan besar lawan bicara sudah kehilangan fokus di tengah jalan ("zonk out").

Triknya adalah dengan membalik struktur kalimat: sampaikan inti pesan di 10 detik pertama. Bayangkan kita sedang menulis judul berita. Daripada cerita panjang lebar soal macet, ban bocor, dan susah cari parkir baru bilang telat, lebih baik langsung bilang: "Maaf aku bakal telat 20 menit karena ban bocor." Dengan begitu, pesan utamanya (telat 20 menit) sudah aman diterima, sisanya hanyalah bumbu cerita yang boleh didengar boleh tidak.

3. Kunci dengan "Jejak Digital"

Jangan terlalu percaya pada memori jangka pendek, apalagi di situasi yang penuh distraksi (seperti di kantor yang berisik atau kafe). Kata-kata yang diucapkan lisan sifatnya menguap. Seringkali orang mengangguk paham saat itu, tapi lima menit kemudian lupa total karena ada telepon masuk.

Biasakan untuk selalu melakukan follow-up tertulis untuk hal-hal krusial. Setelah ngobrol lisan atau meeting, kirim pesan singkat via chat: "Bro, sesuai obrolan tadi, deadline-nya dimajuin jadi Jumat ya." Ini bukan karena kita nggak percaya sama orangnya, tapi kita nggak percaya sama situasi distraksinya. Pesan teks ini berfungsi sebagai jangkar ingatan yang bisa mereka cek ulang saat fokus mereka sudah kembali.

4. Cek "Bandwidth" Lawan Bicara

Terkadang pesan gagal sampai bukan karena kita salah ngomong, tapi karena "memori internal" lawan bicara lagi penuh. Memaksa bicara serius pada orang yang sedang stres, buru-buru ke toilet, atau sedang dikejar deadline adalah resep pasti terjadinya miskomunikasi.

Lakukan "cek ombak" sebelum masuk ke topik berat. Tanya dulu kesiapan mereka dengan kalimat simpel seperti, "Lagi riweh nggak? Aku butuh 5 menit buat bahas anggaran, bisa sekarang atau nanti sore?" Memberi mereka opsi waktu membuat mereka bisa menyiapkan ruang mental (headspace) khusus untuk mendengarkan kita. Pesan yang diterima saat pikiran tenang akan jauh lebih presisi maknanya daripada pesan yang diselipkan di tengah kepanikan.

Logo Radio
🔴 Radio Live