Omed-Omedan: Tarik-Menarik, Guyuran Air, dan Ritual Penolak Bala di Sesetan
Refa - Tuesday, 23 December 2025 | 01:30 AM


Satu hari setelah umat Hindu di Bali melaksanakan Catur Brata Penyepian yang hening dan gelap gulita, suasana di Banjar Kaja, Desa Sesetan, Denpasar, berubah 180 derajat. Jalanan dipadati ribuan manusia, suara gamelan bleganjur bertalu-talu memekakkan telinga, dan air beterbangan ke segala arah. Inilah hari perayaan Ngembak Geni, momen kembalinya aktivitas warga yang ditandai dengan tradisi Omed-Omedan.
Sering kali media luar menyoroti tradisi ini secara dangkal sebagai "Festival Ciuman Massal". Padahal, di mata masyarakat Sesetan, Omed-Omedan adalah warisan sakral yang wajib dilaksanakan. Jika tidak, malapetaka diyakini akan menimpa desa mereka.
Asal-Usul: Obat bagi Raja yang Sakit
Keyakinan Omed-Omedan sebagai ritual tolak bala berakar dari sejarah lisan yang terjadi ratusan tahun silam. Konon, Raja Puri Oka yang berkuasa di wilayah tersebut menderita penyakit keras yang tak kunjung sembuh. Tabib demi tabib didatangkan, namun hasilnya nihil. Suatu hari, di tengah sakitnya, Sang Raja terganggu oleh kegaduhan di luar puri. Ternyata, para pemuda desa sedang bermain tarik-menarik dan saling dorong dengan riuh gembira.
Raja yang marah kemudian keluar dengan niat mengusir mereka. Namun, keajaiban terjadi. Saat melihat energi, tawa, dan interaksi fisik rakyatnya tersebut, sakit sang Raja mendadak hilang dan ia merasa segar bugar kembali. Sejak saat itu, Raja mengeluarkan titah bahwa tradisi ini harus terus dilaksanakan setiap tahun sebagai syarat keselamatan dan kesejahteraan desa. Menghentikan Omed-Omedan dianggap sama dengan mengundang kembali penyakit dan nasib buruk bagi seluruh warga banjar.
Koreografi Kekacauan yang Terkontrol
Secara harfiah, Omed-Omedan bermakna "tarik-menarik". Pesertanya adalah para pemuda dan pemudi (Sekaa Teruna Teruni) yang belum menikah, asli dari Banjar Kaja. Mereka dibagi menjadi dua kelompok besar, kelompok laki-laki dan kelompok perempuan yang berbaris berhadapan. Diiringi tabuhan gamelan yang memacu adrenalin, satu perwakilan dari masing-masing kelompok akan diarak ke depan, dipanggul atau didorong oleh teman-temannya hingga kedua kubu bertemu di tengah arena.
Saat kedua perwakilan ini bertemu dan berbenturan, terjadilah interaksi fisik berupa pelukan atau ciuman pipi, kadang juga di bibir secara sekilas di tengah desakan massa. Namun, momen ini tidak dibiarkan berlangsung lama karena para tetua adat dan pecalang yang bersiaga di atas panggung atau sisi jalan akan segera menyiramkan air berember-ember ke arah pasangan tersebut. Guyuran air ini berfungsi untuk memisahkan mereka sekaligus mendinginkan suasana, baik secara fisik maupun emosional, agar gairah muda tidak berubah menjadi nafsu yang tak terkendali.
Harmoni Purusa dan Pradana
Di balik keriuhan dan basah kuyupnya peserta, tersimpan filosofi keseimbangan alam. Pertemuan antara kelompok laki-laki (Purusa) dan perempuan (Pradana) adalah simbol dari penyatuan dua unsur kehidupan yang berbeda namun saling melengkapi. Momen tarik-menarik tersebut adalah representasi dari dinamika kehidupan yang selalu memiliki dua sisi, positif dan negatif, baik dan buruk.
Air yang disiramkan menjadi elemen pembersih yang menetralisir energi panas (api) yang muncul dari interaksi tersebut. Jadi, Omed-Omedan bukan sekadar ajang mencari jodoh, melainkan sebuah upacara untuk menjaga keharmonisan hubungan antarmanusia (Pawongan) serta memohon keselamatan kepada Tuhan. Kegembiraan yang terpancar dari wajah para peserta dianggap sebagai energi positif yang mampu mengusir roh-roh jahat (Bhuta Kala) yang mungkin masih berkeliaran pasca-Nyepi.
Pelestarian di Tengah Modernitas
Meskipun zaman telah berubah dan Denpasar telah menjadi kota metropolitan yang sibuk, warga Sesetan memegang teguh tradisi ini. Mereka percaya bahwa mengabaikan warisan leluhur adalah bentuk arogansi yang berbahaya. Pernah suatu masa tradisi ini ditiadakan, dan kejadian aneh berupa perkelahian dua ekor babi besar terjadi di balai banjar, yang dianggap sebagai pertanda buruk. Sejak itu, tidak ada yang berani menawar lagi. Omed-Omedan tetap digelar setiap tahun, menjadi bukti bahwa di Bali, kegembiraan duniawi dan kesakralan spiritual bisa berjalan beriringan dalam satu tarikan napas.
Next News

Kim Hye Yoon dan Park Solomon Hadirkan Romansa Fantasi Segar dalam 'No Tail to Tell'
in 6 hours

Selamat Tinggal Konten Toxic! Fitur Reset Instagram Ini Jadi Penyelamat Mental Health Kamu
in 4 hours

Donald Trump Mau Beli Greenland, NATO Diancam Bubar: Emangnya Ini Jual Beli Tanah Kavling di Citayam?
in 5 hours

Awas Tertipu! Video dari Google Veo 3.1 Saking Realistisnya Sampai Butuh Tanda Khusus
in 2 hours

Era Baru TikTok Shop 2026, Awas Kerkun 'Shadowban Duit'!
14 hours ago

Bangkit dari Sorotan Miring, Go Min Si Siap Mengguncang Bioskop Lewat Film 'Moral Family'
15 hours ago

Makna Strategis Bergabungnya Sri Mulyani ke Gates Foundation
16 hours ago

Kampung Rasa Paris di Pulau Dewata: Fenomena Keluarga Bali yang Fasih Berbahasa Prancis dalam Keseharian
17 hours ago

Kolaborasi Raksasa Abad Ini: LEGO dan Pokémon Akhirnya Bersatu dalam Satu Semesta Balok
17 hours ago

Panduan Lengkap Harga dan Cara Membeli Membership BTS ARMY
a day ago






