Omed-Omedan: Tarik-Menarik, Guyuran Air, dan Ritual Penolak Bala di Sesetan


Satu hari setelah umat Hindu di Bali melaksanakan Catur Brata Penyepian yang hening dan gelap gulita, suasana di Banjar Kaja, Desa Sesetan, Denpasar, berubah 180 derajat. Jalanan dipadati ribuan manusia, suara gamelan bleganjur bertalu-talu memekakkan telinga, dan air beterbangan ke segala arah. Inilah hari perayaan Ngembak Geni, momen kembalinya aktivitas warga yang ditandai dengan tradisi Omed-Omedan.
Sering kali media luar menyoroti tradisi ini secara dangkal sebagai "Festival Ciuman Massal". Padahal, di mata masyarakat Sesetan, Omed-Omedan adalah warisan sakral yang wajib dilaksanakan. Jika tidak, malapetaka diyakini akan menimpa desa mereka.
Asal-Usul: Obat bagi Raja yang Sakit
Keyakinan Omed-Omedan sebagai ritual tolak bala berakar dari sejarah lisan yang terjadi ratusan tahun silam. Konon, Raja Puri Oka yang berkuasa di wilayah tersebut menderita penyakit keras yang tak kunjung sembuh. Tabib demi tabib didatangkan, namun hasilnya nihil. Suatu hari, di tengah sakitnya, Sang Raja terganggu oleh kegaduhan di luar puri. Ternyata, para pemuda desa sedang bermain tarik-menarik dan saling dorong dengan riuh gembira.
Raja yang marah kemudian keluar dengan niat mengusir mereka. Namun, keajaiban terjadi. Saat melihat energi, tawa, dan interaksi fisik rakyatnya tersebut, sakit sang Raja mendadak hilang dan ia merasa segar bugar kembali. Sejak saat itu, Raja mengeluarkan titah bahwa tradisi ini harus terus dilaksanakan setiap tahun sebagai syarat keselamatan dan kesejahteraan desa. Menghentikan Omed-Omedan dianggap sama dengan mengundang kembali penyakit dan nasib buruk bagi seluruh warga banjar.
Koreografi Kekacauan yang Terkontrol
Secara harfiah, Omed-Omedan bermakna "tarik-menarik". Pesertanya adalah para pemuda dan pemudi (Sekaa Teruna Teruni) yang belum menikah, asli dari Banjar Kaja. Mereka dibagi menjadi dua kelompok besar, kelompok laki-laki dan kelompok perempuan yang berbaris berhadapan. Diiringi tabuhan gamelan yang memacu adrenalin, satu perwakilan dari masing-masing kelompok akan diarak ke depan, dipanggul atau didorong oleh teman-temannya hingga kedua kubu bertemu di tengah arena.
Saat kedua perwakilan ini bertemu dan berbenturan, terjadilah interaksi fisik berupa pelukan atau ciuman pipi, kadang juga di bibir secara sekilas di tengah desakan massa. Namun, momen ini tidak dibiarkan berlangsung lama karena para tetua adat dan pecalang yang bersiaga di atas panggung atau sisi jalan akan segera menyiramkan air berember-ember ke arah pasangan tersebut. Guyuran air ini berfungsi untuk memisahkan mereka sekaligus mendinginkan suasana, baik secara fisik maupun emosional, agar gairah muda tidak berubah menjadi nafsu yang tak terkendali.
Harmoni Purusa dan Pradana
Di balik keriuhan dan basah kuyupnya peserta, tersimpan filosofi keseimbangan alam. Pertemuan antara kelompok laki-laki (Purusa) dan perempuan (Pradana) adalah simbol dari penyatuan dua unsur kehidupan yang berbeda namun saling melengkapi. Momen tarik-menarik tersebut adalah representasi dari dinamika kehidupan yang selalu memiliki dua sisi, positif dan negatif, baik dan buruk.
Air yang disiramkan menjadi elemen pembersih yang menetralisir energi panas (api) yang muncul dari interaksi tersebut. Jadi, Omed-Omedan bukan sekadar ajang mencari jodoh, melainkan sebuah upacara untuk menjaga keharmonisan hubungan antarmanusia (Pawongan) serta memohon keselamatan kepada Tuhan. Kegembiraan yang terpancar dari wajah para peserta dianggap sebagai energi positif yang mampu mengusir roh-roh jahat (Bhuta Kala) yang mungkin masih berkeliaran pasca-Nyepi.
Pelestarian di Tengah Modernitas
Meskipun zaman telah berubah dan Denpasar telah menjadi kota metropolitan yang sibuk, warga Sesetan memegang teguh tradisi ini. Mereka percaya bahwa mengabaikan warisan leluhur adalah bentuk arogansi yang berbahaya. Pernah suatu masa tradisi ini ditiadakan, dan kejadian aneh berupa perkelahian dua ekor babi besar terjadi di balai banjar, yang dianggap sebagai pertanda buruk. Sejak itu, tidak ada yang berani menawar lagi. Omed-Omedan tetap digelar setiap tahun, menjadi bukti bahwa di Bali, kegembiraan duniawi dan kesakralan spiritual bisa berjalan beriringan dalam satu tarikan napas.
Next News

Usut Dugaan Aliran Dana Sel Mewah Cibinong: Kemenimipas Buka Celah Pelimpahan ke APH
20 days ago

Ditjenpas Uji Keabsahan Foto Terpidana Jimmy Masrin di Area Fasilitas Khusus Lapas Cibinong
21 days ago

Kehadiran Shandy Aulia di Agenda Resmi Kepolisian Bersama Irjen Suyudi Ario Seto Jadi Sorotan Publik
21 days ago

Kunci Pembuktian Kasus Lapas Cibinong: DPR Desak Buka Rekaman CCTV dan Logbook Pintu Masuk
22 days ago

DPR dan Kemenimipas Robohkan 10 Bangunan Ilegal di Lapas Cibinong Gunakan Alat Berat
22 days ago

Mencegah Penyelundupan Lewat Barang Titipan: Rutan Depok Perjelas SOP Pemeriksaan Fisik
20 days ago

Video Viral Pria Diduga Pesta Narkoba di Lapas Depok, Pihak Rutan Lakukan Penyelidikan
21 days ago

Tak Ada Toleransi Pelanggaran di Sel, Rutan Depok Siapkan Sanksi Pencabutan Hak Remisi
20 days ago

Kehadiran Shandy Aulia di Agenda Resmi Kepolisian Bersama Irjen Suyudi Ario Seto Jadi Sorotan Publik
24 days ago

Terungkap! Ombudsman Konfirmasi Koruptor Jimmy Masrin Tempati Hunian Mewah di Lapas Cibinong
a month ago

