Ceritra
Ceritra Warga

Multitasking: Ilusi Produktivitas yang Memeras Energi Otak

Refa - Friday, 02 January 2026 | 01:30 PM

Background
Multitasking: Ilusi Produktivitas yang Memeras Energi Otak
Ilustrasi Multitasking (Pinterest/imalittlesalt)

Di dunia kerja modern yang serba cepat, kemampuan melakukan banyak hal sekaligus atau multitasking sering kali dianggap sebagai lencana kehormatan. Seseorang yang bisa membalas surel, mengikuti rapat daring, dan menyusun laporan dalam satu waktu kerap dipuji sebagai sosok yang efisien dan produktif. Namun, riset neurosains menunjukkan fakta yang bertolak belakang. Otak manusia sebenarnya tidak dirancang untuk memproses dua tugas kognitif berat secara bersamaan.

Apa yang sering dibanggakan sebagai kemampuan multitasking sering kali hanyalah jalan pintas menuju kelelahan mental yang kronis dan penurunan kualitas kerja. Berikut adalah penjelasan mengapa kebiasaan ini lebih banyak membawa mudarat daripada manfaat.

Mitos Otak yang Bisa Membelah Fokus

Secara biologis, otak manusia tidak dapat melakukan dua pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi secara paralel. Apa yang sebenarnya terjadi adalah task-switching atau pengalihan tugas yang sangat cepat.

Otak berpindah dari tugas A ke tugas B dan kembali lagi ke A dalam hitungan milidetik. Meskipun terasa mulus, proses ini memakan biaya kognitif yang disebut switching cost. Setiap kali otak beralih fokus, ia harus "mematikan" aturan untuk tugas pertama dan "menyalakan" aturan untuk tugas kedua. Proses henti-tulis ini memakan waktu dan energi, membuat penyelesaian tugas justru memakan waktu 40 persen lebih lama dibandingkan jika dikerjakan satu per satu hingga tuntas.

Penurunan IQ dan Kualitas Kerja

Selain memperlambat kinerja, multitasking juga menurunkan kualitas output yang dihasilkan. Ketika perhatian terpecah, otak hanya mampu memproses informasi di permukaan. Hal ini menghambat kemampuan untuk berpikir kritis, kreatif, dan mendalam (deep work).

Sebuah studi dari University of London bahkan menemukan bahwa subjek yang melakukan multitasking saat mengerjakan tugas kognitif mengalami penurunan skor IQ yang setara dengan orang yang begadang semalaman atau pengguna ganja. Dampaknya jelas: tingkat kesalahan meningkat, detail-detail penting terlewatkan, dan hasil pekerjaan menjadi dangkal. Seseorang mungkin merasa sibuk, tetapi sebenarnya efektivitasnya sedang terjun bebas.

Menguras Glukosa dan Memicu Stres

Mengapa multitasking membuat tubuh terasa sangat lelah meski hanya duduk di depan meja? Jawabannya terletak pada bahan bakar otak. Proses pengalihan fokus yang terus-menerus membakar glukosa oksigen (bahan bakar utama otak) dengan laju yang sangat cepat. Hal ini menyebabkan otak cepat lelah dan kehilangan stamina mental di siang hari.

Lebih buruk lagi, perpindahan fokus yang konstan ini memicu pelepasan hormon kortisol (hormon stres). Otak berada dalam kondisi waspada tinggi dan tertekan, yang jika dibiarkan terus-menerus dapat menyebabkan kecemasan (anxiety) dan perasaan kewalahan (overwhelmed). Alih-alih merasa puas dengan pencapaian hari itu, seseorang justru akan merasa hampa dan lelah secara emosional.

Jebakan Dopamin

Jika multitasking begitu merugikan, mengapa banyak orang sulit berhenti melakukannya? Hal ini disebabkan oleh feedback loop dopamin. Setiap kali seseorang merespons notifikasi baru atau menyelesaikan tugas kecil yang remeh di tengah pekerjaan besar, otak melepaskan sedikit dopamin—hormon rasa senang.

Sensasi ini menciptakan ilusi produktivitas. Seseorang merasa seolah-olah telah mencapai banyak hal karena sibuk berpindah-pindah aktivitas, padahal tugas utama yang substansial mungkin belum tersentuh. Otak menjadi kecanduan pada stimulasi jangka pendek ini, sehingga semakin sulit untuk duduk diam dan fokus pada satu hal dalam waktu lama.

Logo Radio
🔴 Radio Live