Ceritra
Ceritra Warga

Merasa Paling Benar Saat Dengar Curhatan? Hati-Hati, Kamu Terjebak Ini

Refa - Monday, 12 January 2026 | 07:00 PM

Background
Merasa Paling Benar Saat Dengar Curhatan? Hati-Hati, Kamu Terjebak Ini
Ilustrasi menunjukkan empati kepada teman (Pinterest/entrepreneurmedia)

Pernah nggak sih berada di situasi begini. Pasangan atau teman datang dengan wajah kusut, lalu menumpahkan kekesalan soal masalah di kantor. Sebagai pendengar yang (merasa) baik, otak kita langsung bekerja cepat. Kita menganalisis masalah, lalu bilang: "Sebenarnya itu salah kamu juga sih, harusnya laporannya dikirim pagi, bukan sore."

Niatnya baik, memberi solusi. Tapi bukannya bilang terima kasih, dia malah makin cemberut atau malah marah: "Kamu tuh gak ngerti banget sih!" Kita jadi bingung. "Lho? Kan solusinya bener? Masuk akal, kan?"

Iya, itu masuk akal. Tapi dalam komunikasi antarmanusia, menjadi benar saja tidak cukup. Di sinilah peran vital sebuah 'barang langka' bernama empati.

Jebakan Mental "Tukang Servis"

Kita hidup di dunia yang memuja kecepatan dan efisiensi. Di sekolah dan kantor, kita dilatih buat jadi problem solver. Ada masalah A, cari solusi B. Selesai.

Tanpa sadar, mentalitas ini terbawa sampai ke meja makan atau obrolan santai. Kita mendengarkan bukan untuk memahami, tapi untuk menjawab atau memperbaiki.

Masalah utamanya sederhana. Manusia bukan mesin rusak yang perlu dibongkar pasang. Manusia adalah makhluk perasa yang ingin didengar.

Saat seseorang sedang emosi tinggi, bagian otak yang memproses logika itu sedang "istirahat". Mereka lagi banjir hormon stres. Menjejali mereka dengan fakta saat itu ibarat menyuruh orang yang lagi tenggelam buat belajar teori berenang. Percuma.

Logika Tanpa Empati = Kejam

Coba bayangkan empati itu sebagai jembatan, dan logika adalah truk muatannya. Kalau jembatannya belum dibangun (koneksi emosional belum dapat), truk muatan (saran/fakta) nggak bakal sampai ke seberang. Malah bisa bikin jembatannya runtuh.

Komunikasi yang cuma modal logika seringkali jatuhnya menyakitkan. Kalimat seperti "Ah, gitu doang kok nangis, lebay deh" atau "Makanya pakai otak kalau kerja", mungkin secara fakta ada benarnya, tapi efeknya bikin lawan bicara merasa kecil dan bodoh.

Padahal, inti dari ngobrol itu adalah koneksi, bukan kompetisi siapa yang paling pintar.

Sambung Dulu, Baru Betulkan

Para ahli komunikasi punya prinsip: Connection before Correction. Bangun koneksi dulu, baru koreksi (itu pun kalau diminta).

Empati bukan berarti kita harus setuju dengan semua keluhan teman yang mungkin nggak rasional itu. Empati cuma berarti kita mengakui kalau perasaan mereka itu nyata.

Bedanya kerasa banget, lho:

  • Gaya Logika: "Kamu marah karena laper doang itu. Makan sana."
  • Gaya Empati: "Kayaknya hari ini berat banget ya buat kamu? Wajar sih kalau jadi emosi. Mau cari makan biar enakan?"

Tujuannya sama-sama makan, tapi rasanya beda langit dan bumi. Yang satu merintah, yang satu peduli.

Jadi, Kapan Pakai Logika?

Terus, apa logika harus dibuang? Ya enggak dong. Logika itu penting banget kalau lagi ngatur keuangan atau debat skripsi. Tapi kalau lagi deep talk atau menghadapi orang curhat, suruh logikanya "antre" dulu di belakang empati.

Caranya gampang-gampang susah. Saat ada yang curhat, tahan lidah. Jangan langsung memotong dengan saran canggih. Validasi dulu perasaan mereka dengan kalimat simpel seperti, "Pasti capek banget ya rasanya," atau "Aku ngerti kenapa kamu kecewa."

Seringkali, orang sudah tahu solusi masalahnya sendiri kok. Mereka cuma butuh ruang aman biar emosinya reda dan logikanya bisa jalan lagi.

Jadi, menjadi cerdas dan logis itu memang seksi. Tapi punya hati yang peka, itu yang bikin hubungan awet. Yuk, simpan dulu kalkulator logikanya, dan mulai pakai telinganya.

Logo Radio
🔴 Radio Live