Mengembalikan Bayi ke Rahim Alam, Filosofi Haru di Balik Tradisi Passiliran Toraja
Refa - Monday, 15 December 2025 | 10:00 AM


Tana Toraja di Sulawesi Selatan tersohor ke penjuru dunia karena ritual kematiannya yang megah dan kompleks. Namun, di balik riuh rendah upacara Rambu Solo yang menyembelih puluhan kerbau, terdapat sebuah tradisi sunyi yang menyayat hati namun sarat makna, khusus untuk kematian bayi. Tradisi tersebut bernama Passiliran.
Berbeda dengan orang dewasa yang dimakamkan di liang batu bukit, bayi-bayi di Toraja yang meninggal sebelum tumbuh gigi tidak dikubur di dalam tanah, melainkan "disimpan" di dalam batang pohon yang masih hidup. Ini bukan sekadar cara pemakaman, melainkan doa panjang orang tua agar anaknya terus hidup bersama alam.
Syarat Kesucian Tanpa Dosa
Passiliran tidak berlaku untuk semua anak. Syarat mutlaknya adalah bayi tersebut harus belum tumbuh gigi susu. Dalam kepercayaan leluhur Aluk Todolo, bayi yang belum bergigi dianggap masih suci, murni, dan belum membawa dosa duniawi.
Karena kesuciannya itu, jiwa mereka dianggap belum siap untuk perjalanan arwah orang dewasa. Mereka tidak memerlukan upacara megah, melainkan perlu "dikembalikan" ke rahim ibunya. Dalam hal ini, pohon dianggap sebagai perwujudan rahim alam semesta yang akan melindungi dan membesarkan jiwa sang bayi.
Mengapa Harus Pohon Tarra?
Jenis pohon yang dipilih tidak sembarangan. Masyarakat Toraja hanya menggunakan Pohon Tarra (sejenis pohon Sukun hutan) untuk tradisi ini. Pohon ini dipilih karena memiliki getah berwarna putih yang sangat banyak.
Secara filosofis, getah putih pohon Tarra dianggap sebagai pengganti Air Susu Ibu (ASI). Dengan disemayamkan di dalam batang pohon Tarra, sang bayi dipercaya tetap bisa "menyusu" pada getah pohon tersebut. Jiwa bayi itu diyakini tidak mati, melainkan terus tumbuh besar seiring dengan bertambah tingginya pohon tersebut, hingga akhirnya nanti ia siap naik ke nirwana (Puya).
Prosesi Pemakaman yang Hening
Proses pemakamannya dilakukan dengan sangat hati-hati. Batang pohon Tarra yang diameternya cukup besar akan dilubangi sesuai ukuran tubuh bayi. Jenazah bayi yang tidak dibungkus kain kafan (biasanya hanya kain sederhana) dimasukkan ke dalam lubang tersebut dalam posisi seperti bayi dalam kandungan (meringkuk).
Lubang tersebut kemudian ditutup rapat menggunakan anyaman ijuk (serabut pohon aren). Seiring berjalannya waktu, kulit pohon Tarra akan tumbuh kembali dan menutup lubang tersebut secara alami, seolah-olah pohon itu sedang memeluk erat sang bayi. Satu pohon Tarra yang besar bisa menyimpan puluhan bayi di dalamnya.
Situs Wisata Sejarah di Kambira
Kini, seiring masuknya agama Kristen dan Islam, tradisi Passiliran sudah jarang dilakukan oleh penduduk modern Toraja. Namun, jejak sejarah ini masih bisa disaksikan di Kambira, sebuah desa yang menjadi situs makam bayi tertua.
Di sana, pengunjung bisa melihat pohon-pohon Tarra raksasa dengan banyak kotak-kotak ijuk di batangnya. Suasana di sekitar pohon Passiliran biasanya sangat hening dan sejuk. Bagi para pengunjung, berdiri di depan pohon ini memberikan perenungan mendalam tentang cinta orang tua yang tak terputus oleh kematian, sebuah upaya terakhir untuk memberikan "ASI" dan kehidupan bagi anak yang telah pergi terlalu cepat.
Next News

Alumni LPDP Wajib Tahu! Mengenal Aturan Pengabdian 2N dan Syarat Bekerja di Luar Negeri
7 days ago

Cara Mengajukan Pinjaman Pegadaian Lewat Aplikasi Digital Tanpa Datang ke Cabang
7 days ago

Panduan Lengkap Cara Mendapat Pinjaman Tanpa Jaminan di Pegadaian Tahun 2026
7 days ago

Fakta Menarik The Art of Sarah Drama Korea Thriller Viral di Netflix
8 days ago

Konser Swara Semesta Surabaya Bersama King Nassar
8 days ago

Lukisan Kuda Api SBY dan Deretan Karya Seni Fenomenalnya
10 days ago

Berburu Sembako Murah di Gebyar Ramadhan Disperindag Jatim 2026
10 days ago

6 Film Bioskop Indonesia Siap Tayang Lebaran 2026
12 days ago

Aturan Baru Inggris Larang Anak di Bawah 16 Tahun Main Media Sosial
13 days ago

Fakta Menarik Film Minions Monsters Tayang Juli 2026
14 days ago






