Ceritra
Ceritra Warga

Mengapa Nasi Kuning Identik dengan Syukuran di Indonesia?

Refa - Wednesday, 14 January 2026 | 02:30 PM

Background
Mengapa Nasi Kuning Identik dengan Syukuran di Indonesia?
Ilustrasi nasi kuning tumpeng (Pinterest/widyahalim)

Nasi kuning bukan sekadar hidangan lezat yang kaya akan rempah, melainkan sebuah artefak budaya yang sarat dengan makna filosofis mendalam di Indonesia, khususnya bagi masyarakat Jawa dan Bali. Kehadirannya yang selalu menyertai momen-momen penting mulai dari kelahiran, ulang tahun, hingga peresmian gedung menandakan bahwa sajian ini memegang peranan vital dalam tata cara adat istiadat. Di balik warnanya yang mencolok dan aromanya yang menggugah, tersimpan doa serta harapan yang dipanjatkan oleh tuan rumah kepada Sang Pencipta, menjadikan nasi kuning lebih dari sekadar makanan pengenyang perut, tetapi juga medium spiritual.

Representasi Emas dan Kemakmuran

Pemilihan warna kuning pada nasi ini tidak dilakukan secara sembarangan. Warna kuning yang dihasilkan dari penggunaan kunyit diasosiasikan dengan warna emas, logam mulia yang melambangkan kekayaan, kemakmuran, dan kejayaan. Dengan menyajikan nasi berwarna emas, masyarakat leluhur menyisipkan doa agar siapa pun yang memakannya atau pihak yang sedang dirayakan akan mendapatkan limpahan rezeki, keberkahan, serta kehidupan yang makmur. Oleh karena itu, nasi kuning menjadi simbol optimisme dan harapan akan masa depan yang gemilang, menjadikannya sajian wajib dalam acara syukuran atau selamatan.

Filosofi Tumpeng dan Konsep Ketuhanan

Secara tradisional, nasi kuning kerap disajikan dalam bentuk tumpeng atau kerucut yang menjulang ke atas. Bentuk ini berakar pada kepercayaan masyarakat Nusantara kuno saat sebelum masuknya agama-agama besar yang memuliakan gunung sebagai tempat bersemayamnya para leluhur dan dewa (Mahameru). Bentuk kerucut merepresentasikan hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan atau kekuatan ilahi. Puncaknya yang tunggal melambangkan keesaan Tuhan, sementara hamparan lauk-pauk di bagian bawahnya menyimbolkan kehidupan duniawi yang beragam dan harmonis. Dalam konteks ini, nasi kuning menjadi wujud rasa syukur manusia atas karunia alam semesta yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa.

Akulturasi Budaya dan Tradisi Berbagi

Seiring berjalannya waktu dan masuknya pengaruh Islam, makna nasi kuning mengalami adaptasi tanpa menghilangkan esensi aslinya. Para penyebar agama Islam di tanah Jawa, seperti Wali Songo, menggunakan tradisi tumpeng nasi kuning sebagai sarana dakwah dan perekat sosial. Ritual yang dulunya mungkin ditujukan sebagai sesajen untuk roh, diubah maknanya menjadi sedekah untuk sesama manusia sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah. Tradisi memotong puncak tumpeng dan memberikannya kepada orang yang dituakan atau dihormati juga menjadi simbol bakti dan penghormatan dalam struktur sosial masyarakat, memperkuat ikatan persaudaraan melalui kegiatan makan bersama.

Logo Radio
🔴 Radio Live