Ceritra
Ceritra Warga

Mengapa Musik Sheila on 7 Tak Pernah Bosan Meski Diputar Berulang?

Nisrina - Monday, 30 March 2026 | 07:15 PM

Background
Mengapa Musik Sheila on 7 Tak Pernah Bosan Meski Diputar Berulang?
Ilustrasi (vice.com/)

Pernah nggak sih, lagi asyik scrolling media sosial atau terjebak macet di TransJakarta, tiba-tiba terdengar intro lagu dari Sheila on 7 atau mungkin dewa 19? Secara otomatis, jempol berhenti bergerak, dan tanpa sadar bibir mulai komat-kamit mengikuti liriknya. Padahal, lagu itu rilisnya mungkin pas kita masih pakai seragam putih-merah atau bahkan sebelum kita lahir. Anehnya, rasa "nyangkut" dan emosi yang dibawa lagu itu terasa jauh lebih dalam dibandingkan lagu-lagu Top 50 Global yang baru rilis minggu lalu.

Fenomena ini bukan cuma dialami oleh mereka yang sudah berkepala tiga atau empat. Anak-anak Gen Z pun sekarang banyak yang hobi dengerin piringan hitam atau bikin playlist "Indie 90-an" di Spotify mereka. Ada semacam konsensus tidak tertulis bahwa lagu lama itu punya "jiwa" yang lebih kuat. Tapi pertanyaannya, kenapa ya? Apakah ini cuma masalah selera, atau memang ada bumbu rahasia di balik melodi jadul tersebut?

Mesin Waktu Bernama Reminiscence Bump

Secara psikologis, ada istilah keren namanya reminiscence bump. Ini adalah kecenderungan otak orang dewasa untuk mengingat kembali memori yang terbentuk selama masa remaja dan dewasa muda (kisaran umur 12 sampai 22 tahun) dengan sangat kuat. Di usia-usia itulah identitas kita terbentuk. Kita pertama kali jatuh cinta, pertama kali patah hati sampai nangis sesenggukan di pojok kamar, atau pertama kali ngerasa bebas main bareng temen-temen sampai larut malam.

Musik yang kita dengerin di masa-masa penuh gejolak itu menempel permanen di otak. Jadi, ketika kita dengerin lagu lama, kita nggak cuma dengerin suara penyanyinya, tapi kita lagi dengerin kembali rekaman hidup kita sendiri. Mendengarkan lagu lama itu kayak naik mesin waktu yang nggak butuh bensin, cuma butuh tombol play. Begitu nadanya masuk, memori tentang bau parfum mantan atau suasana kantin sekolah langsung muncul tanpa permisi. Itulah kenapa lagu lama terasa begitu bermakna; mereka adalah soundtrack dari momen-momen paling "hidup" dalam sejarah personal kita.

Lirik yang Bercerita, Bukan Cuma Jualan Hook

Kalau kita perhatikan, struktur lagu jaman dulu tuh seringkali lebih "sabar". Mereka nggak buru-buru pengen viral di TikTok. Lagu-lagu era 90-an atau awal 2000-an biasanya punya durasi yang cukup panjang, ada intro yang megah, bridge yang bikin merinding, sampai outro yang memudar perlahan. Liriknya pun cenderung naratif. Penulis lagu dulu kayaknya lebih niat buat bikin puisi yang dijadiin nada.

Coba bandingkan dengan tren musik sekarang yang banyak mengejar durasi pendek—seringkali di bawah tiga menit—biar gampang masuk algoritma. Fokusnya seringkali cuma di bagian reff yang catchy biar bisa dipakai buat background video dance atau konten estetik. Akibatnya, kedalaman ceritanya kadang jadi terpinggirkan. Lagu lama mengajak kita menyelami perasaan lewat diksi yang barangkali agak "lebay" tapi jujur. Itulah kenapa dengerin lagu lawas bikin kita merasa divalidasi perasaannya, seolah si penulis lagu tahu banget apa yang kita rasakan tanpa perlu banyak gimik.

Sentuhan Manusia dalam Ketidaksempurnaan

Ada satu hal lagi yang bikin lagu lama terasa lebih hangat: ketidaksempurnaan. Zaman dulu, rekaman musik itu prosesnya organik banget. Belum ada teknologi Auto-Tune yang bisa bikin suara sumbang jadi lurus seketika atau aplikasi AI yang bisa bikin musik dalam hitungan detik. Musisi dulu harus benar-benar latihan sampai "berdarah-darah" sebelum masuk studio rekaman yang mahal biayanya.

Hasilnya? Ada tekstur suara yang asli. Kadang ada suara napas yang kedengaran, atau petikan gitar yang nggak terlalu rapi tapi justru di situ letak "nyawa"-nya. Ada emosi yang tersalurkan lewat getaran vokal yang nggak melulu sempurna secara teknis tapi ngena di hati. Sementara itu, musik modern yang serba dipoles secara digital terkadang terasa terlalu "bersih" dan steril. Ibarat makanan, lagu lama itu kayak masakan rumahan ibu yang bumbunya kira-kira tapi rasanya juara, sedangkan lagu modern itu kayak makanan cepat saji: enak, cakep dipandang, tapi kadang kurang bikin kenyang di batin.

Efek Seleksi Alam atau Survivor Bias

Kita juga harus realistis. Kenapa kita ngerasa lagu lama lebih bermakna? Ya karena yang kita dengerin sekarang adalah lagu-lagu terbaik yang berhasil bertahan melewati ujian waktu. Ini yang disebut dengan survivor bias. Di tahun 1995, pasti ada ribuan lagu sampah yang rilis, tapi kita nggak dengerin itu sekarang karena sudah terlupakan. Yang tersisa di playlist "Oldies but Goldies" kita hanyalah mahakarya yang memang punya kualitas jempolan.

Jadi, kalau ada yang bilang "musik jaman sekarang nggak bermutu," ya nggak sepenuhnya benar juga. Musik bagus tetap ada di setiap era, cuma masalahnya musik sekarang tuh jumlahnya masif banget. Setiap hari ada ribuan lagu baru diunggah ke layanan streaming. Kita jadi bingung mana yang benar-benar punya makna dalam dan mana yang cuma sekadar lewat. Lagu lama punya keunggulan karena mereka sudah divalidasi oleh jutaan telinga selama puluhan tahun.

Yang Klasik Memang Tak Terganti

Pada akhirnya, alasan kenapa lagu lama terasa lebih bermakna adalah kombinasi antara sains otak, kualitas produksi yang lebih "manusiawi", dan ikatan emosional yang kita bangun seiring berjalannya waktu. Lagu lama memberikan rasa nyaman dan kepastian di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat. Saat semuanya berubah, melodi dari lagu favorit kita sepuluh tahun lalu tetap sama, tidak berubah sedikit pun.

Jadi, nggak perlu malu kalau kamu dianggap "tua" karena lebih suka dengerin lagu-lagu lama. Musik bukan soal siapa yang paling update, tapi soal siapa yang paling bisa menyentuh sisi terdalam kemanusiaan kita. Lagipula, dengerin lagu lawas sambil ngopi sore itu emang vibenya nggak ada lawan, kan? Klasik itu abadi, dan makna yang ada di dalamnya akan terus hidup selama masih ada telinga yang mau mendengarkan dan hati yang mau merasakan.

Logo Radio
🔴 Radio Live