Mengapa Kita Berlomba Menimbun Barang?
Nisrina - Tuesday, 16 December 2025 | 11:45 AM


Pernahkah Anda membuka laci meja rias atau lemari pakaian, lalu tertegun melihat tumpukan barang yang nyaris tak tersentuh? Botol serum yang baru terpakai setengah, lipstik dengan shade yang mirip satu sama lain, atau baju yang masih berlabel harga. Jika ya, Anda tidak sendirian. Kita hidup di era di mana algoritma media sosial dirancang secara presisi untuk memicu rasa takut tertinggal atau Fear of Missing Out (FOMO). Setiap kali kita menggulir layar, kita disuguhi narasi bahwa kebahagiaan hanya berjarak satu kali "checkout" di keranjang belanja.
Namun, mari kita berhenti sejenak dan menelan realitas pahit ini: Kita bukan influencer atau content creator. Kita tidak dibayar untuk menguji 50 jenis pelembap dalam sebulan. Kita tidak mendapatkan kiriman paket PR (Public Relations) gratis. Kita membeli semua itu dengan uang hasil kerja keras, menukar waktu hidup kita dengan barang-barang yang sering kali tidak kita butuhkan. Sudah saatnya kita menormalisasi gaya hidup yang lebih sadar, melepaskan diri dari jerat kapitalisme modern, dan mulai menghargai apa yang sudah kita miliki.
Salah satu dampak psikologis terbesar dari media sosial adalah pergeseran pola pikir konsumen menjadi seperti seorang pengulas produk. Tanpa sadar, kita mengadopsi mentalitas bahwa kita harus terus mencoba hal baru agar tetap relevan. Tren kecantikan dan gaya hidup bergerak dengan kecepatan cahaya, dari Clean Girl Aesthetic, Mob Wife, hingga Coquette Core memaksa kita untuk terus membeli properti baru demi menyesuaikan diri dengan "estetika" terkini.
Padahal, bagi seorang influencer, mencoba produk adalah bagian dari pekerjaan (job desk). Bagi kita, menumpuk produk yang fungsinya sama hanyalah bentuk pemborosan sumber daya dan penciptaan limbah. Siklus ini adalah roda gerigi kapitalisme yang sempurna: menciptakan ketidakpuasan buatan agar kita terus membeli solusi yang sebenarnya tidak menyelesaikan masalah batin kita. Kita menjadi penimbun yang terkurasi secara estetis, namun dompet dan mental kita perlahan terkuras.
Kebangkitan Deinfluencing dan Underconsumption Core
Beruntung, di tengah gempuran konten "racun belanja", muncul perlawanan kultural yang menyegarkan bernama Deinfluencing dan Underconsumption Core.
Deinfluencing bukan sekadar tren sesaat, melainkan sebuah koreksi pasar. Ini adalah gerakan di mana para kreator, dan kita sebagai konsumen mulai jujur berkata: "Jangan beli ini, kamu tidak membutuhkannya." Gerakan ini mengajak kita untuk berpikir kritis sebelum membeli. Apakah barang viral seharga jutaan rupiah itu benar-benar mengubah hidup, atau hanya marketing yang brilian?
Sementara itu, Underconsumption Core adalah seni meromantisasi penggunaan barang secara wajar dan maksimal. Ini adalah tentang kebanggaan memakai baju yang sama berulang kali, menggunakan tote bag lama yang sudah lusuh tapi penuh kenangan, dan tidak merasa perlu mengganti gawai setiap tahun. Tren ini menantang narasi bahwa "baru" selalu berarti "lebih baik".
Normalisasi Project Pan: Pakai Sampai Habis
Langkah paling konkret untuk melawan arus konsumerisme ini adalah dengan menerapkan prinsip Project Pan. Istilah yang populer di komunitas kecantikan ini merujuk pada kepuasan melihat dasar wadah (pan) kosmetik karena produknya benar-benar habis terpakai.
Filosofi ini bisa diterapkan di segala aspek kehidupan. Ada kepuasan batin yang mendalam saat kita berhasil menghabiskan satu botol sampo sebelum membeli yang baru, atau menambal celana favorit yang robek alih-alih membuangnya. "Memakai sampai habis" adalah bentuk penghormatan kita terhadap sumber daya alam yang digunakan untuk membuat produk tersebut dan penghormatan terhadap uang yang kita keluarkan.
Menolak konsumerisme bukan berarti kita harus hidup asketis atau anti-belanja sama sekali. Ini adalah tentang mengambil alih kembali kendali atas keinginan kita. Sebelum menekan tombol beli, tanyakan pada diri sendiri: Apakah saya membeli ini karena saya butuh, atau karena saya ingin merasakan sensasi menjadi bagian dari tren?
Ingatlah, kita adalah manusia biasa dengan kebutuhan yang terbatas. Kulit wajah kita hanya satu, tubuh kita hanya satu. Kita tidak butuh 10 jenis serum atau 20 pasang sepatu untuk menjalani hidup yang bermakna. Kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam tumpukan paket belanjaan di depan pintu, melainkan dalam kebebasan finansial dan ketenangan pikiran karena merasa "cukup".
Next News

Malam Paling Agung di Masjidil Aqsa Saat Nabi Muhammad SAW Menjadi Imam Seluruh Nabi
in an hour

4 Lokasi Bersejarah yang Disinggahi dan Menjadi Tempat Sholat Rasulullah Saat Isra' Mi'raj
in 39 minutes

Bukan Sekadar Perjalanan, Ini Protokol Langit Saat Nabi Muhammad SAW Naik Buraq
in 39 minutes

Langkahnya Sejauh Pandangan Mata, Keajaiban Buraq dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj
in 9 minutes

Kenapa Rajaban Selalu Dinanti? Tradisi Jawa Rayakan Isra’ Mi’raj dengan Cara Berbeda
21 minutes ago

Mengapa Isra’ Mi’raj Terjadi Setelah Tahun Kesedihan? Ini Jawabannya
an hour ago

Salat Masih Terasa Hampa? Coba Renungi Makna Al-Fatihah Ayat per Ayat
an hour ago

Bukan Sihir! Penyakit Aneh Ini Bisa Bikin Kamu Mabuk Berat Cuma Gara-gara Sepotong Roti
in 24 minutes

Sholat Sering Melamun? Coba 6 Teknik Ini agar Lebih Khusyuk
2 hours ago

Bukan Beban, Ini Alasan Sholat Disebut Hadiah Langsung dari Allah
3 hours ago






