Ceritra
Ceritra Warga

Mengapa Isra’ Mi’raj Selalu Diperingati? Ternyata Ini Mandat Terbesar dalam Islam

Refa - Thursday, 15 January 2026 | 10:00 AM

Background
Mengapa Isra’ Mi’raj Selalu Diperingati? Ternyata Ini Mandat Terbesar dalam Islam
Ilustrasi Isra Miraj (Pinterest/Freepik)

Setiap bulan Rajab, umat Islam di seluruh dunia kembali mengenang peristiwa monumental yang melampaui batas logika manusia, yaitu Isra’ Mi’raj. Peristiwa ini bukan sekadar catatan sejarah tentang perjalanan fisik Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha dalam satu malam. Lebih dari itu, Isra’ Mi’raj diperingati secara rutin karena peristiwa ini membawa mandat spiritual terbesar yang menjadi tiang agama Islam. Peringatan ini berfungsi sebagai pengingat tahunan akan kedudukan istimewa sholat, kekuasaan Allah yang tak terbatas, dan keteguhan hati Sang Nabi di tengah himpitan ujian duniawi.

Mandat Agung Sholat Lima Waktu

Alasan paling fundamental mengapa Isra’ Mi’raj begitu sakral adalah karena peristiwa inilah yang melahirkan perintah sholat lima waktu. Berbeda dengan perintah ibadah lain seperti puasa atau zakat yang diturunkan melalui perantara Malaikat Jibril di bumi, perintah sholat dijemput langsung oleh Nabi Muhammad SAW menghadap Allah SWT di Sidratul Muntaha. Hal ini menegaskan status sholat sebagai ibadah paling utama dan sarana komunikasi langsung antara hamba dengan Sang Pencipta. Memperingati Isra’ Mi’raj berarti memperbarui komitmen umat Islam terhadap kualitas ibadah sholat mereka, mengingat betapa "mahal" dan istimewanya cara perintah ini diturunkan.

Penghiburan di Tahun Kesedihan (Amul Huzni)

Secara historis, Isra’ Mi’raj terjadi pada saat Nabi Muhammad SAW sedang berada di titik terendah dalam kehidupan manusiawinya, periode yang dikenal sebagai Amul Huzni atau Tahun Kesedihan. Beliau baru saja ditinggal wafat oleh dua pendukung utamanya, sang istri tercinta Khadijah dan pamannya Abu Thalib, serta mengalami penolakan keras dari penduduk Thaif. Allah SWT memperjalankan Nabi bukan hanya untuk menerima perintah, tetapi sebagai bentuk "hiburan" dan validasi ilahiah. Peristiwa ini mengajarkan umat bahwa ketika pintu-pintu bumi seolah tertutup dan manusia menolak, pintu langit selalu terbuka bagi hamba yang bersabar. Peringatan ini menjadi sumber kekuatan mental bagi siapa saja yang sedang menghadapi cobaan berat.

Ujian Keimanan di Atas Logika

Isra’ Mi’raj juga diperingati sebagai momentum untuk menguji dan mengasah keimanan terhadap hal yang ghaib. Pada masa itu, perjalanan Mekkah ke Palestina yang biasanya memakan waktu satu bulan, ditempuh Nabi hanya dalam sebagian malam. Hal ini tentu mengguncang akal sehat masyarakat Arab Jahiliyah. Peringatan ini mengenang sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq yang langsung membenarkan kabar tersebut tanpa keraguan, sebuah tingkatan iman yang melampaui kalkulasi matematika dan logika manusia. Bagi umat modern, ini adalah pengingat bahwa iman kepada kekuasaan Allah harus ditempatkan di atas rasionalitas terbatas manusia.

Ikatan Suci dengan Baitul Maqdis

Peristiwa ini juga mengukuhkan posisi Masjidil Aqsa di Palestina sebagai tempat suci ketiga dalam Islam. Persinggahan Nabi di sana dan menjadi imam bagi para nabi terdahulu menunjukkan adanya kesinambungan risalah tauhid. Isra’ Mi’raj menanamkan kesadaran kolektif bahwa Masjidil Haram di Mekkah dan Masjidil Aqsa di Palestina memiliki ikatan spiritual yang tidak bisa dipisahkan. Peringatan ini senantiasa menjaga kepedulian umat Islam terhadap tanah Palestina dan keberkahan yang melingkupinya.

Logo Radio
🔴 Radio Live