Ceritra
Ceritra Uang

Mengapa Dompet Cepat Menipis Saat Lebaran? Ini Realita Pahitnya

Nisrina - Wednesday, 18 March 2026 | 11:45 AM

Background
Mengapa Dompet Cepat Menipis Saat Lebaran? Ini Realita Pahitnya
Ilustrasi (Flare Account/)

Lebaran itu ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, hati kita penuh dengan sukacita karena bisa kumpul keluarga, maaf-maafan, dan tentu saja menyantap opor ayam buatan ibu yang rasanya nggak ada tandingannya. Tapi di sisi lain, ada sebuah kenyataan pahit yang harus kita telan bulat-bulat begitu bulan Syawal menyapa: dompet yang tiba-tiba melangsing tanpa diet, alias kempes sepes-pesnya.

Pernah nggak sih kamu ngerasa kalau uang Tunjangan Hari Raya (THR) itu cuma numpang lewat doang di rekening? Baru juga masuk notifikasi SMS banking, eh tiba-tiba beberapa hari kemudian saldo sudah kembali ke pengaturan pabrik. Fenomena ini bukan hal baru, tapi selalu terulang setiap tahun layaknya ritual wajib. Pertanyaannya, kenapa sih Lebaran sering banget bikin dompet kita kritis?

1. Jebakan Batman Bernama Mudik dan Transportasi

Bagi anak rantau, mudik adalah harga mati. Tapi ya itu, harganya benar-benar bikin mati gaya. Tiket pesawat, kereta, atau bus harganya mendadak melambung tinggi ke angkasa. Kalaupun bawa kendaraan pribadi, kita harus siap mental menghadapi tarif tol yang kalau ditotal bisa buat beli cicilan motor, plus bensin yang boros karena macet berjam-jam.

Belum lagi urusan "oleh-oleh". Rasanya nggak afdol kalau pulang kampung tangan kosong. Kita merasa punya beban moral untuk membawa martabak kekinian, kaos dari kota besar, atau makanan khas untuk tetangga di kampung. Di titik ini, logika finansial biasanya kalah telak sama perasaan "nggak enak kalau nggak bawa apa-apa". Hasilnya? Tabungan mulai terkikis bahkan sebelum kita sampai di depan pintu rumah orang tua.

2. Tradisi Salam Tempel: Kita Jadi Sinterklas Mendadak

Dulu pas kecil, kita adalah penerima manfaat. Kita rajin keliling rumah saudara cuma buat ngumpulin amplop yang isinya lumayan buat beli mainan. Tapi roda kehidupan berputar, kawan. Sekarang, giliran kita yang jadi sasaran empuk keponakan-keponakan lucu yang sudah paham konsep "salam tempel".

Lucunya, kita sering terjebak dalam gengsi. Mau kasih sepuluh ribu kok rasanya terlalu pelit, tapi kalau mau kasih lima puluh ribu per anak, sedangkan keponakan ada dua puluh orang, ya boncos juga. Alhasil, demi menjaga citra "kakak sukses" atau "paman royal", kita rela membagi-bagikan lembaran merah yang sebenarnya adalah napas terakhir dari gaji bulan ini.

3. Budaya Baju Baru dan FOMO Sosial Media

Sebenarnya nggak ada aturan tertulis di agama kalau Lebaran harus pakai baju baru. Tapi entah kenapa, industri retail sukses banget menanamkan mindset "Idul Fitri = Fashion Show". Kita sering merasa minder kalau pakai baju yang sama dengan tahun lalu, apalagi kalau nanti masuk ke feed Instagram atau story TikTok.

Godaan diskon di mall atau marketplace pun luar biasa agresif. "Diskon Lebaran 70%!" katanya. Padahal, kita beli barang yang sebenarnya nggak terlalu kita butuhkan. Kita terjebak dalam pusaran konsumerisme yang didorong oleh rasa takut ketinggalan zaman (FOMO). Kita ingin terlihat glowing di hari raya, tapi lupa kalau tagihan listrik tetap berjalan meski kita sedang asyik pamer baju koko atau gamis terbaru.

4. Harga Pangan yang Ikut-ikutan "Hari Raya"

Coba deh tanya ibu-ibu di pasar pas H-3 Lebaran. Harga daging sapi per kilonya bisa bikin tekanan darah naik. Begitu juga harga cabai, bawang, sampai telur. Karena Lebaran identik dengan pesta pora makanan seperti rendang, opor, dan sambal goreng ati, mau nggak mau kita harus merogoh kocek lebih dalam untuk belanja bahan makanan.

Belum lagi urusan kue kering. Nastar, kastengel, dan putri salju itu harganya makin tahun makin nggak masuk akal. Tapi karena tamu-tamu bakal datang ke rumah, meja ruang tamu nggak boleh terlihat sepi. Akhirnya, anggaran untuk perut ini memakan porsi yang sangat besar dari total anggaran Lebaran kita.

5. Psikologi "Self-Reward" yang kebablasan

Nah, ini nih yang paling bahaya. Setelah sebulan penuh berpuasa dan menahan lapar serta dahaga, otak kita sering mengirimkan sinyal: "Hey, kamu sudah kerja keras dan puasa sebulan, kamu berhak merayakan ini!". Sinyal ini sering diterjemahkan sebagai lampu hijau untuk belanja apa saja tanpa mikir panjang. Kita merasa THR adalah uang bonus yang bebas digunakan untuk foya-foya tanpa perlu masuk dalam perencanaan keuangan.

Kita lupa kalau setelah Lebaran, hari-hari biasa masih terus berlanjut. Masih ada cicilan rumah, tagihan air, sampai biaya sekolah anak yang sudah menunggu di depan mata. Kita terlalu fokus pada euforia satu minggu, tapi mengorbankan ketenangan finansial untuk satu bulan ke depan.

Gimana Caranya Biar Nggak "Kiamat" Finansial?

Sebenarnya kuncinya cuma satu: sadar diri. Kita perlu belajar membedakan mana kebutuhan dan mana sekadar keinginan demi gengsi. Lebaran itu esensinya adalah kemenangan melawan hawa nafsu, termasuk nafsu untuk belanja berlebihan. Nggak salah kok kalau kita mau kasih THR ke saudara atau beli baju baru, asal sudah dialokasikan jauh-jauh hari.

Mungkin tahun depan kita bisa mulai nabung khusus untuk Lebaran dari awal tahun, biar nggak cuma ngandelin THR yang cuma "numpang lewat" itu. Dan yang paling penting, kurangi membandingkan hidup kita dengan orang lain di media sosial. Karena apa yang terlihat mewah di postingan, belum tentu kondisi aslinya seindah itu. Jangan sampai pasca-Lebaran kita malah makan mi instan tiap hari gara-gara saldo ludes buat pamer satu hari.

Intinya, nikmati Lebaran dengan sederhana. Kebahagiaan saat berkumpul dengan keluarga itu gratis, yang bikin mahal itu biasanya adalah aksesoris-aksesoris yang kita paksakan ada. Jadi, sudah siap cek saldo m-banking hari ini? Jangan kaget ya kalau angkanya bikin mata berkaca-kaca!

Logo Radio
🔴 Radio Live