Ceritra
Ceritra Update

Mengapa Bayi di Aceh Diberi Cuka dan Garam? Mengupas Makna Tradisi Peucicap

Refa - Monday, 15 December 2025 | 10:30 AM

Background
Mengapa Bayi di Aceh Diberi Cuka dan Garam? Mengupas Makna Tradisi Peucicap
Peucicap (Good News From Indonesia/)

Dalam pedoman medis modern, bayi yang baru lahir disarankan hanya mengonsumsi ASI eksklusif. Namun, dalam kacamata budaya masyarakat Aceh, seorang bayi perlu diperkenalkan dengan "rasa dunia" sesegera mungkin melalui ritual adat. Tradisi unik ini bernama Peucicap.

Biasanya dilaksanakan pada hari ketujuh setelah kelahiran, Peucicap bukan sekadar ritual memberi makan, melainkan sebuah prosesi spiritual yang sarat filosofi. Di momen inilah, lidah mungil sang bayi untuk pertama kalinya menyentuh rasa asing selain air susu ibunya, seperti rasa manis, asam, dan asin. Ini adalah bekal pertama orang tua agar sang anak siap menghadapi realita kehidupan yang sesungguhnya.

Mencicipi Rasa, Memaknai Hidup

Prosesi Peucicap biasanya dipimpin oleh seorang tetua adat, tokoh agama (Teungku), atau bidan kampung yang disegani. Mereka akan menyiapkan piring kecil berisi madu (manis), air perasan jeruk nipis atau cuka (asam), dan sedikit garam (asin).

Dengan lembut, tetua adat akan mengoleskan sedikit cairan tersebut ke bibir bayi. Bukan untuk ditelan dalam jumlah banyak, melainkan sekadar dicicipi. Setiap rasa memiliki doa tersendiri:

  • Madu (Manis) memiliki harapan agar sang anak memiliki sifat yang manis, bertutur kata sopan, dan hidupnya dipenuhi kebahagiaan.
  • Jeruk Nipis/Cuka (Asam) mempunyai simbol bahwa hidup tidak selalu mulus. Akan ada masalah dan tantangan yang datang, dan sang anak diharapkan memiliki mental yang tangguh untuk menghadapinya.
  • Garam (Asin/Gurih) dengan harapan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang bijaksana, "berisi" ilmunya, dan memberikan manfaat (rasa) bagi lingkungan sekitarnya.

Membelah Buah, Membagi Rezeki

Selain mencicipi rasa, tradisi Peucicap sering dibarengi dengan ritual membelah buah-buahan lokal seperti rambutan, langsat, atau delima. Buah tersebut diletakkan di atas talam, lalu dibelah oleh tetua adat dan dibagikan kepada anak-anak kecil atau kerabat yang hadir menyaksikan.

Filosofi di balik membelah buah ini adalah mengajarkan kedermawanan. Sejak bayi, anak Aceh diajarkan untuk tidak menikmati rezekinya sendirian. Ia diharapkan tumbuh menjadi sosok yang murah hati, suka berbagi, dan memiliki jiwa sosial yang tinggi terhadap sesama.

Doa untuk Kefasihan Bicara

Momen Peucicap juga menjadi waktu yang sakral untuk mendoakan kemampuan komunikasi sang bayi. Sambil mengoleskan madu, tetua adat biasanya melantunkan syair-syair doa atau Hadih Maja (peribahasa Aceh).

Mereka berdoa agar kelak mulut bayi tersebut "semulus" rasa madu dalam berkata-kata, fasih dalam membaca Al-Quran, dan tegas dalam menyuarakan kebenaran. Masyarakat Aceh percaya bahwa apa yang masuk pertama kali ke mulut bayi akan mempengaruhi karakternya saat dewasa nanti. Oleh karena itu, ritual ini dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan kesucian.

Menjaga Identitas di Era Modern

Meskipun zaman telah berubah, banyak keluarga Aceh yang tetap melestarikan Peucicap. Bagi mereka, ini bukan sekadar tradisi kuno, melainkan bentuk kasih sayang terdalam. Melalui Peucicap, orang tua seolah berbisik kepada anaknya: "Nak, dunia ini keras dan penuh warna. Ada manis, ada pahit. Tapi jangan takut, kami membekalimu dengan doa dan ketangguhan sejak hari pertamamu."

Logo Radio
🔴 Radio Live