Ceritra
Ceritra Warga

Mengapa Asumsi Lebih Sering Menang Melawan Komunikasi Nyata? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Refa - Monday, 12 January 2026 | 05:00 PM

Background
Mengapa Asumsi Lebih Sering Menang Melawan Komunikasi Nyata? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Ilustrasi anak laki-laki sedang meringkuk (Pinterest/fifatuta)

Sering kali sebuah konflik besar bermula bukan dari apa yang diucapkan, melainkan dari apa yang tidak diucapkan tetapi dipikirkan. Inilah wilayah di mana asumsi bekerja.

Dalam interaksi sosial, manusia memiliki kecenderungan alami untuk lebih memercayai skenario yang disusun oleh pikirannya sendiri (asumsi) dibandingkan mencari kebenaran melalui bertanya (komunikasi). Akibatnya, kesalahpahaman merajalela.

Fenomena "menangnya" asumsi atas komunikasi ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari cara kerja biologis otak dan mekanisme pertahanan psikologis manusia. Berikut adalah lima alasan mengapa hal ini terjadi.

1. Prinsip Penghematan Energi Otak (Cognitive Ease)

Secara biologis, otak manusia adalah organ yang "malas" atau hemat energi. Otak menghabiskan sekitar 20% energi tubuh, sehingga organ ini selalu mencari jalan pintas untuk memproses informasi dengan cepat dan minim usaha.

Melakukan komunikasi (bertanya, mendengarkan, memverifikasi) membutuhkan energi kognitif yang besar. Seseorang harus menyusun kalimat, memberanikan diri, dan memproses jawaban. Sebaliknya, asumsi adalah jalan pintas. Otak mengisi kekosongan informasi dengan data seadanya (biasanya dari pengalaman masa lalu) agar bisa segera mengambil kesimpulan. Otak lebih memilih kepastian semu yang cepat daripada kebenaran yang membutuhkan proses lama.

2. Ketidaksukaan Terhadap Ketidakpastian

Manusia memiliki dorongan psikologis yang kuat untuk menghindari ketidakpastian (ambiguity aversion). Ketidaktahuan tentang apa yang dipikirkan orang lain menimbulkan rasa cemas.

Untuk menghilangkan kecemasan tersebut, otak segera menciptakan sebuah narasi penutup lubang informasi. Sayangnya, narasi yang diciptakan otak sering kali bias ke arah negatif.

Contoh: Jika atasan diam saja setelah presentasi, otak karyawan lebih cepat berasumsi "atasan marah" atau "presentasi saya buruk" daripada berasumsi "atasan sedang berpikir". Asumsi negatif ini muncul sebagai mekanisme pertahanan diri untuk bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

3. Bias Proyeksi Diri

Asumsi sering kali merupakan cermin dari perasaan pemiliknya sendiri, bukan fakta tentang orang lain. Fenomena ini disebut Proyeksi.

Seseorang menilai tindakan orang lain berdasarkan standar perilaku dirinya sendiri. Jika seseorang terbiasa diam saat marah, maka ketika melihat pasangannya diam, ia akan berasumsi bahwa pasangannya juga sedang marah. Padahal, bisa saja pasangannya diam karena lelah atau sakit gigi. Komunikasi sering kalah karena individu tersebut merasa "sudah tahu" jawabannya berdasarkan cerminan dirinya sendiri, sehingga merasa tidak perlu bertanya lagi.

4. Ilusi Kedekatan (Closeness-Communication Bias)

Terdapat sebuah paradoks dalam hubungan: semakin dekat hubungan seseorang (misalnya suami-istri atau sahabat), semakin buruk komunikasi yang mungkin terjadi.

Fenomena ini disebut Closeness-Communication Bias. Orang cenderung merasa sangat mengenal orang terdekatnya sehingga yakin bisa membaca pikiran mereka tanpa perlu bicara verbal. "Tanpa bicara pun kami sudah saling mengerti" adalah asumsi romantis yang berbahaya. Faktanya, manusia terus berubah, dan apa yang disukai atau dipikirkan pasangan hari ini mungkin berbeda dengan tahun lalu. Ketergantungan pada "telepati" inilah yang mematikan komunikasi verbal.

5. Kecepatan Pikiran vs. Kecepatan Bicara

Faktor teknis terakhir adalah perbedaan kecepatan. Pikiran (asumsi) bergerak secepat kilat, sementara komunikasi verbal membutuhkan waktu fisik untuk diucapkan.

Dalam hitungan detik, seseorang bisa membangun skenario asumsi yang kompleks dan bercabang di kepalanya. Sementara itu, mulut baru sempat mengucapkan satu atau dua kata. Karena narasi di dalam kepala sudah terbangun begitu lengkap dan detail (meskipun fiktif), realitas komunikasi yang lambat sering kali dianggap tidak lagi relevan atau kalah meyakinkan dibandingkan "film" yang sudah diputar di dalam kepala.

Logo Radio
🔴 Radio Live