Ceritra
Ceritra Warga

Menelisik Dampak Senyap Media Sosial pada Kesehatan Mental

Refa - Saturday, 03 January 2026 | 10:00 AM

Background
Menelisik Dampak Senyap Media Sosial pada Kesehatan Mental
Ilustrasi Media Sosial (Pinterest/upsstore2679)

Media sosial telah bertransformasi dari sekadar alat komunikasi menjadi ekosistem digital yang mendominasi hampir seluruh aspek kehidupan manusia modern. Di balik janji konektivitas tanpa batas dan kemudahan berbagi informasi, tersimpan fenomena gunung es yang mengkhawatirkan, yaitu krisis kesehatan mental yang tumbuh subur dalam diam. Platform yang awalnya diciptakan untuk mendekatkan yang jauh, kini justru sering kali menjadi pemicu utama kecemasan, depresi, dan rasa terasing bagi para penggunanya.

Dampak psikologis dari penggunaan media sosial tidak terjadi secara instan, melainkan melalui akumulasi kebiasaan sehari-hari yang perlahan mengubah cara otak memandang diri sendiri dan dunia luar.

Jebakan Perbandingan Sosial

Salah satu racun paling mematikan di media sosial adalah budaya pamer atau kurasi kehidupan. Linimasa dipenuhi dengan sorotan terbaik (highlight reel) dari hidup orang lain, mulai dari pencapaian karier, liburan mewah, hingga hubungan yang tampak sempurna. Tanpa disadari, pengguna sering membandingkan kenyataan hidup mereka yang "biasa-biasa saja" atau sedang sulit, dengan citra sempurna yang ditampilkan orang lain di layar.

Distorsi realitas ini memicu perasaan tidak mampu (inadequacy) dan rendah diri. Seseorang merasa tertinggal dan gagal karena standar kesuksesan dan kebahagiaan kini diukur berdasarkan apa yang terlihat di Instagram atau TikTok, padahal apa yang tampil di sana hanyalah sebagian kecil dari realitas yang telah dipoles filter.

Fenomena FOMO dan Kecemasan Kronis

Istilah Fear of Missing Out (FOMO) bukan sekadar jargon tren, melainkan bentuk kecemasan nyata. FOMO adalah ketakutan terus-menerus bahwa orang lain sedang mengalami kejadian menarik atau bersenang-senang tanpa melibatkan dirinya. Hal ini menciptakan kompulsi atau dorongan tak tertahankan untuk terus mengecek ponsel setiap beberapa menit.

Kondisi "selalu terhubung" (hyper-connectivity) ini membuat otak tidak pernah benar-benar beristirahat. Sistem saraf dipaksa untuk selalu waspada terhadap notifikasi, tren terbaru, atau berita viral. Akibatnya, tingkat stres meningkat dan kemampuan untuk menikmati momen saat ini (mindfulness) menjadi tumpul.

Perundungan Siber dan Toksisitas

Ruang digital juga membuka pintu bagi sisi gelap interaksi manusia: perundungan siber (cyberbullying). Anonimitas yang ditawarkan internet sering kali membuat individu merasa lepas tanggung jawab, sehingga lebih berani melontarkan komentar jahat, kritik pedas, atau ujaran kebencian yang mungkin tidak akan berani diucapkan secara langsung.

Dampak dari perundungan ini sangat destruktif. Korban sering kali mengalami trauma psikologis mendalam, gangguan tidur, hingga penurunan harga diri yang drastis. Bahkan bagi mereka yang bukan target langsung, terpapar atmosfer komentar yang penuh kebencian dan perdebatan toksik setiap hari dapat menguras energi emosional dan memicu pandangan pesimis terhadap masyarakat.

Gangguan Tidur dan Depresi

Kesehatan mental sangat erat kaitannya dengan kesehatan fisik, terutama kualitas tidur. Kebiasaan doomscrolling—menelusuri konten negatif atau tidak penting hingga larut malam—adalah musuh utama ritme sirkadian. Cahaya biru (blue light) dari layar gawai menekan produksi melatonin, hormon yang mengatur tidur.

Kurang tidur kronis akibat media sosial melemahkan kemampuan otak untuk meregulasi emosi. Seseorang menjadi lebih mudah marah, tersinggung, dan rentan terhadap gejala depresi. Lingkaran setan ini terus berputar: stres karena media sosial menyebabkan susah tidur, dan kurang tidur membuat mental semakin rapuh menghadapi tekanan di media sosial.

Logo Radio
🔴 Radio Live