Menang Debat, Tapi Kehilangan Kedekatan: Worth It Nggak Sih?
Refa - Tuesday, 13 January 2026 | 01:30 PM


Pernah nggak sih merasakan kepuasan luar biasa saat berhasil memojokkan lawan bicara dalam sebuah argumen? Kita mengeluarkan fakta A, data B, dan logika C sampai mereka diam tak berkutik. Rasanya seperti mencetak gol kemenangan di menit terakhir. Kita merasa pintar, kita merasa benar, dan kita merasa menang.
Tapi, coba perhatikan apa yang terjadi setelah "kemenangan" itu. Lawan bicara kita entah itu pasangan, teman, atau rekan kerja mungkin memang diam. Tapi mereka diam bukan karena setuju, melainkan karena merasa sakit hati, dipermalukan, atau lelah.
Di sinilah letak kekeliruan terbesar kita. Kita sering memperlakukan obrolan sehari-hari layaknya ruang sidang atau arena debat capres. Padahal dalam hubungan antarmanusia, saat satu orang merasa "menang" dan yang lain merasa "kalah", sebenarnya dua-duanya sudah kalah.
Mari kita bedah kenapa nafsu untuk selalu benar ini justru racun yang mematikan hubungan.
1. Jebakan Ego Gladiator
Sejak sekolah, kita diajarkan bahwa jawaban benar itu cuma satu (pilihan ganda) dan siapa yang nilainya paling tinggi adalah pemenangnya. Tanpa sadar, mentalitas kompetisi ini terbawa ke meja makan. Saat ada perbedaan pendapat sedikit saja, "jiwa gladiator" kita bangkit. Kita tidak lagi mendengarkan untuk memahami, tapi mendengarkan untuk mencari celah serangan balasan.
Masalahnya, komunikasi sosial itu bukan olahraga kompetitif. Tidak ada piala buat orang yang paling sering membungkam pasangannya. Kalau tujuan kita bicara hanya untuk membuktikan kita lebih pintar, lebih bermoral, atau lebih ingat detail kejadian masa lalu, kita sedang tidak berkomunikasi. Kita sedang memuaskan ego sendiri di atas perasaan orang lain.
2. Kebenaran Itu Punya Banyak Wajah
Di dunia nyata, jarang sekali ada situasi yang hitam-putih mutlak. Seringkali, dua orang bisa memiliki sudut pandang yang berbeda tapi sama-sama valid. Ini yang sering dilupakan oleh si "tukang debat".
Bayangkan sebuah tabung. Dilihat dari atas, bentuknya lingkaran. Dilihat dari samping, bentuknya persegi panjang. Siapa yang benar? Keduanya benar. Seringkali kita ngotot setengah mati mempertahankan sudut pandang "lingkaran" kita dan menyalahkan sudut pandang "persegi panjang" orang lain. Komunikasi yang sehat bukan soal memaksakan satu pandangan, tapi mencoba berjalan ke sisi lawan bicara untuk melihat apa yang mereka lihat. Kalimat "Oh, aku baru sadar kamu melihatnya dari sisi itu," jauh lebih berharga daripada "Kamu salah, yang bener itu gini."
3. Harga Mahal Sebuah Kemenangan
Mari bicara soal biaya. Menang argumen itu harganya mahal, dan mata uangnya adalah kedekatan emosional. Setiap kali kita memaksakan kehendak atau merendahkan logika orang lain demi kemenangan argumen, kita sedang menggerus saldo kepercayaan dalam "rekening" hubungan.
Contoh sederhananya begini: Kita berdebat dengan pasangan soal jalan tikus mana yang lebih cepat. Kita ngotot lewat jalan A, pasangan mau lewat B. Ternyata jalan A memang lebih cepat 5 menit. Kita puas dan bilang, "Tuh kan, apa aku bilang!" Kita menang secara fakta logis (hemat 5 menit), tapi kita kalah secara emosional karena pasangan merasa disepelakan dan malas ngobrol sepanjang sisa perjalanan. Apakah 5 menit itu sepadan dengan 2 jam keheningan yang canggung? Seringkali tidak.
4. Ganti Musuh
Orang yang jago komunikasi paham bahwa musuh sebenarnya adalah masalah yang sedang dihadapi, bukan lawan bicaranya. Pola pikirnya harus diubah dari Me vs You menjadi Us vs The Problem.
Pergeseran mindset ini akan mengubah total cara kita bicara. Alih-alih menyerang dengan kalimat "Kamu tuh boros banget sih!" (yang memancing pertengkaran), kita akan mengajak kerjasama: "Keuangan kita bulan ini agak merah nih. Gimana ya caranya supaya kita bisa hemat bareng-bareng?" Dengan cara ini, tidak ada yang disalahkan, tidak ada yang perlu defensif, dan solusi dicari bersama. Dalam skenario ini, kemenangannya adalah milik bersama.
Next News

Ini Cara Tepat Membersihkan Motor Setelah Terabas Hujan Agar Awet
in 7 hours

Bagaimana Gelombang Alfa Menentukan Batas Antara 'Aku' dan Dunia Luar
in 6 hours

Sekali Coba Pasti Ketagihan! Ini Resep Nasi Bogana Lengkap ala Tradisi
in 6 hours

Bukan Sekadar Ibadah, Begini Uniknya Cara Orang Indonesia Merayakan Isra’ Mi’raj
in 5 hours

Menguak Misteri Genetik Mengapa Manusia Kehilangan Ekor
in 5 hours

Ngeri! Ini Siksaan Neraka yang Dilihat Nabi Muhammad SAW Saat Isra’ Mi’raj
in 5 hours

Bukan Langsung 5 Waktu, Begini Kisah Panjang Perintah Sholat Saat Isra Mi’raj
in 4 hours

Mengungkap Kebiasaan Remeh yang Diam-Diam Merusak Kesehatan Tenggorokan
in 4 hours

Jarang Dibahas! Fakta-Fakta Tersembunyi Isra’ Mi’raj yang Tak Banyak Diketahui Umat Muslim
in 4 hours

Waspadai Nyeri Leher yang Bisa Jadi Sinyal Senyap Serangan Jantung
in 3 hours






