Ceritra
Ceritra Update

Membedah Perbedaan Tata Kelola Destinasi Lokal Indonesia dan Eropa, Apa Saja yang Perlu Diperbaiki?

Refa - Tuesday, 23 December 2025 | 12:00 PM

Background
Membedah Perbedaan Tata Kelola Destinasi Lokal Indonesia dan Eropa, Apa Saja yang Perlu Diperbaiki?
Amalfi Coast, Italia (Pinterest/gallegoreyes)

Membandingkan pariwisata Indonesia dengan Eropa bukan sekadar membandingkan keindahan pantai tropis dengan megahnya bangunan klasik. Di balik perbedaan visual tersebut, terdapat jurang perbedaan yang signifikan dalam hal "sistem operasi" atau tata kelola manajemen destinasi.

Eropa, dengan sejarah pariwisata modern yang telah matang, cenderung menawarkan keteraturan dan pelestarian. Sementara Indonesia, dengan kekayaan alam yang melimpah, menawarkan eksotisme dan keramahtamahan, namun sering kali bergulat dengan isu infrastruktur dan keberlanjutan.

Berikut adalah bedah perbedaan fundamental dalam pengelolaan pariwisata di kedua wilayah ini.

Konektivitas: Antara Integrasi Mulus dan Tantangan Logistik

Perbedaan paling mencolok yang dirasakan wisatawan saat berkunjung ke Eropa adalah integrasi transportasi. Di negara-negara seperti Swiss, Jerman, atau Belanda, satu tiket sering kali bisa digunakan untuk kereta, bus, hingga kapal feri yang jadwalnya terhubung presisi hingga hitungan menit. Desa wisata terpencil sekalipun biasanya masih terjangkau oleh transportasi umum yang layak. Hal ini mendorong distribusi wisatawan yang lebih merata, sehingga tidak hanya kota besar yang mendapatkan kue ekonomi pariwisata.

Sebaliknya, tantangan utama di Indonesia adalah masalah "last mile connectivity" atau akses menuju titik akhir. Bandara internasional mungkin sudah megah, namun untuk mencapai destinasi lokal unggulan, wisatawan sering kali harus menyewa kendaraan pribadi dengan biaya tinggi atau menghadapi ketidakpastian transportasi umum. Akibatnya, pariwisata Indonesia sering kali terpusat di "kantong-kantong" tertentu seperti Bali selatab atau Yogyakarta kota, sementara potensi luar biasa di daerah pelosok sulit berkembang karena mahalnya akses logistik.

Filosofi Atraksi: Autentisitas vs. "Instagramable" Buatan

Wisata Ketinggian di Swiss

(Sumber: Pinterest/kashafamaaan)

Pendekatan Eropa terhadap objek wisata sangat berfokus pada pelestarian autentisitas dan narasi sejarah. Sebuah kastil tua atau desa kuno akan dibiarkan apa adanya. Renovasi dilakukan seminimal mungkin hanya untuk penguatan struktur tanpa mengubah bentuk asli. Mereka menjual "cerita" dan suasana masa lalu. Jarang sekali ditemukan papan nama warna-warni mencolok atau spot foto buatan yang merusak estetika bangunan asli.

Wisata Ketinggian di Indonesia

(Sumber: Pinterest/khaledkhatab17)

Di Indonesia, tren pengelolaan pariwisata lokal sering kali terjebak pada fenomena "wisata selfie". Pengelola destinasi sering kali karena tuntutan pasar media sosial cenderung mengubah bentang alam dengan membangun dek kayu, tulisan raksasa berwarna mencolok, atau ornamen buatan (seperti sayap kupu-kupu atau sarang burung raksasa) demi kebutuhan foto instan. Meskipun strategi ini efektif menarik massa dalam jangka pendek, hal ini sering kali mengorbankan keaslian alam dan menciptakan polusi visual yang justru menghilangkan nilai jangka panjang destinasi tersebut.

Manajemen Keramaian (Crowd Control) dan Overtourism

Eropa telah lama menerapkan aturan ketat untuk menangani overtourism. Venesia (Italia) menerapkan tiket masuk kota bagi pelancong harian, dan Barcelona (Spanyol) membatasi jumlah hotel baru serta melarang penyewaan apartemen jangka pendek di pusat kota. Tata kelola di sana berani mengatakan "tidak" demi menjaga kualitas hidup warga lokal dan kelestarian situs warisan dunia. Kualitas pengalaman lebih diutamakan daripada kuantitas pengunjung.

Sementara itu, narasi pariwisata di Indonesia masih didominasi oleh pengejaran angka kunjungan. Keberhasilan sering kali diukur dari seberapa macet jalanan menuju lokasi wisata saat musim liburan. Mekanisme pembatasan pengunjung (kuota harian) masih sangat jarang diterapkan, kecuali di beberapa kawasan konservasi ketat seperti Pulau Komodo atau Candi Borobudur (naik ke struktur). Akibatnya, daya dukung lingkungan sering terlampaui, menyebabkan masalah sampah dan kemacetan parah yang justru menurunkan kepuasan wisatawan itu sendiri.

Isu Lingkungan dan Pengelolaan Limbah

Sistem pengelolaan sampah menjadi pembeda yang sangat kontras. Di destinasi wisata Eropa, budaya daur ulang sudah mendarah daging. Wisatawan akan kesulitan menemukan tempat sampah campur aduk. Mereka dipaksa memilah sampah atau membawa sampah mereka kembali. Air keran yang bisa diminum (tap water) di banyak negara Eropa juga mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai secara drastis.

Di Indonesia, keindahan alam sering kali ternoda oleh manajemen limbah yang buruk. Plastik sekali pakai masih menjadi raja. Meskipun banyak gerakan sadar lingkungan mulai tumbuh di level komunitas (seperti di Desa Wisata Penglipuran Bali), secara nasional, infrastruktur pengolahan sampah di daerah wisata belum mampu mengimbangi volume sampah yang dihasilkan oleh turis. Pemandangan tumpukan sampah di balik warung-warung pantai yang indah masih menjadi pekerjaan rumah terbesar tata kelola pariwisata nusantara.

Keunggulan Indonesia: Sentuhan Manusia dan Keramahtamahan

Meski tertinggal dalam infrastruktur keras, Indonesia unggul telak dalam infrastruktur lunak: sumber daya manusia. Konsep "Desa Wisata" di Indonesia menawarkan kehangatan interaksi yang jarang ditemukan di Eropa. Di Eropa, pelayanan pariwisata cenderung profesional, efisien, namun berjarak. Interaksi dengan staf hotel atau pemandu wisata sering kali terasa transaksional.

Di Indonesia, batas antara tamu dan keluarga sering kali kabur. Wisatawan bisa diajak makan bersama di dapur warga, diajari membatik dengan sabar, atau disapa dengan senyum tulus oleh penduduk lokal yang tidak bekerja di sektor wisata sekalipun. Hospitality atau keramahtamahan Indonesia muncul dari budaya gotong royong dan rasa ingin memuliakan tamu. Inilah aset terbesar pariwisata Indonesia yang sulit direplikasi oleh sistem manajemen Eropa yang kaku.

Logo Radio
🔴 Radio Live