Melawan Ageism: Kenapa Semua Generasi Punya Hak yang Sama di Dunia Kerja
Nisrina - Wednesday, 10 December 2025 | 02:45 PM


Setiap 10 Desember, Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia, kita merayakan prinsip fundamental kesetaraan: bahwa setiap individu berhak diperlakukan adil tanpa memandang ras, gender, atau agama. Namun, ada satu bentuk diskriminasi yang sering luput dari perhatian, yaitu Ageism atau diskriminasi berdasarkan usia.
Ageism di dunia kerja dapat menyerang siapapun, baik pekerja senior yang dianggap "tidak relevan" dengan teknologi, maupun pekerja muda (Gen Z) yang dianggap "tidak berpengalaman" atau "kurang loyal." Pada intinya, ageism melanggar Hak atas Pekerjaan dan Hak untuk Mendapatkan Perlakuan Adil yang dijamin oleh konstitusi dan deklarasi HAM universal.
Berikut adalah alasan mengapa kita harus melawan ageism dan mengakui bahwa semua generasi punya hak yang sama di dunia kerja:
1. Konstitusi Menjamin Hak atas Pekerjaan Tanpa Diskriminasi
Di Indonesia, hak setiap warga negara atas pekerjaan dijamin oleh Pasal 27 ayat (2) UUD 1945. Selain itu, hukum ketenagakerjaan melarang adanya diskriminasi dalam bentuk apa pun, termasuk usia, dalam proses perekrutan, promosi, atau pemutusan hubungan kerja.
- Dampak Ageism: Diskriminasi usia, baik terhadap calon karyawan senior (di atas 40 tahun) dengan label "terlalu mahal" atau calon karyawan muda (di bawah 25 tahun) dengan label "tidak serius," adalah bentuk pelanggaran hak untuk mencari nafkah dan mendapatkan kesempatan yang setara.
2. Setiap Generasi Membawa Nilai Unik (Value Proposition)
Anggapan bahwa generasi tertentu lebih unggul dari yang lain adalah mitos yang merusak produktivitas dan inovasi tim.
- Nilai Generasi Senior (Baby Boomers & Gen X): Mereka membawa pengalaman institusional, keahlian manajemen krisis, dan kematangan etika kerja yang teruji waktu. Keahlian ini tidak bisa digantikan oleh kecanggihan teknologi.
- Nilai Generasi Muda (Milenial & Gen Z): Mereka membawa perspektif digital yang segar, kemauan belajar yang cepat (agility), dan inovasi disruptif.
Tim yang paling sukses adalah tim yang intergenerasional (menggabungkan berbagai usia), di mana hak dan kontribusi setiap usia dihargai secara setara.
3. Melawan Stigma yang Merugikan Individu
Ageism seringkali didasarkan pada stereotip dangkal, bukan pada kemampuan aktual:
- Stigma Senior: "Tidak bisa beradaptasi dengan teknologi baru."
- Stigma Junior: "Tidak bisa memikul tanggung jawab besar."
Stigma-stigma ini merusak kesehatan mental dan membatasi potensi karir seseorang. Ageism adalah bentuk ketidakadilan sosial yang menghalangi individu untuk berkembang hanya karena tanggal lahir mereka.
Mewujudkan Kesetaraan Usia di Tempat Kerja
Di Hari HAM Sedunia ini, mari kita berkomitmen untuk menjadikan tempat kerja sebagai lingkungan yang inklusif. Menghormati HAM berarti menghargai setiap karyawan, apakah ia baru lulus kuliah atau hanya tinggal 5 tahun lagi pensiun, dan berdasarkan kompetensi, bukan usia. Hak atas pekerjaan dan perlakuan adil berlaku sama untuk semua usia.
Next News

Pilih Sepatu Olahraga Tepat Biar Kaki Stabil dan Bebas Cedera
2 hours ago

Tren Dompet, Pouch dan Tas Mini: Solusi Praktis Tanpa Ransel Berat
8 hours ago

Pilih Estetika Totebag atau Fungsi Ransel? Ini Panduannya!
3 days ago

Digital Detox: Solusi dari Kebiasaan Scroll Tanpa Henti di Era Digital
3 days ago

Selama Ini Dibenci, Kecoak Justru Punya Kebiasaan yang Lebih Higienis dari Kita
3 days ago

Transformasi Gaya: Pilih Makeup Baddie Bold atau Soft Korean Kalem
3 days ago

Lebih dari Pelindung: Fungsi Tersembunyi Casing HP Lipat Ala Bapak-bapak
3 days ago

Mengenal Midnight Craving: Alasan Ilmiah Perut Keroncongan Saat Scrolling Medsos di Malam Hari
3 days ago

Kamar Cantik Tapi Lembap? Waspada Bahaya Jamur dan Atasi Masalah Udara Sekarang
3 days ago

Bukan Malas, Ini Alasan Kenapa Kamu Merasa Lelah Luar Dalam
4 days ago


