Lika Liku Perjuangan Perempuan di Dunia Kerja Modern
Nisrina - Saturday, 03 January 2026 | 01:15 PM


Menjadi perempuan di dunia kerja modern adalah sebuah perjalanan meniti tali di atas jurang. Di satu sisi, pintu kesempatan terbuka semakin lebar dibandingkan era sebelumnya. Kita melihat perempuan menduduki posisi CEO, memimpin proyek raksasa, dan berinovasi di bidang teknologi. Namun di sisi lain, bayang-bayang patriarki dan bias gender masih mengintip dari balik kubikel kantor. Perempuan sering kali harus bekerja dua kali lebih keras untuk mendapatkan pengakuan yang setara dengan rekan laki-laki mereka.
Salah satu tantangan terbesar yang sering tidak terlihat adalah beban ganda atau double burden. Setelah lelah bekerja seharian di kantor, perempuan, terutama yang sudah berkeluarga, masih diharapkan oleh masyarakat untuk menjadi manajer utama urusan domestik. Memasak, mengurus anak, dan membersihkan rumah seolah-olah menjadi kodrat yang tidak boleh dilepas, padahal mereka juga pencari nafkah. Kelelahan fisik dan mental akibat peran ganda ini sering kali menghambat perempuan untuk mengambil peluang karier yang lebih tinggi atau lebih menantang.
Selain itu, ada fenomena glass ceiling atau atap kaca yang tak kasat mata. Secara aturan tidak ada larangan bagi perempuan untuk naik jabatan, namun secara budaya dan politik kantor, jalannya sering kali dipersulit. Stereotip bahwa perempuan terlalu emosional, tidak tegas, atau akan terganggu fokusnya jika hamil dan melahirkan, masih menjadi pertimbangan bias para pengambil keputusan. Akibatnya, banyak talenta perempuan hebat yang mentok di level manajemen menengah tanpa pernah diberi kesempatan memegang kemudi utama.
Belum lagi masalah kesenjangan upah yang masih menjadi isu global. Di banyak sektor, perempuan masih dibayar lebih rendah daripada laki-laki untuk pekerjaan dan tanggung jawab yang sama persis. Hal ini sering kali dibalut dengan alasan negosiasi gaji yang kurang agresif dari pihak perempuan, padahal sistemlah yang seharusnya menjamin keadilan tanpa perlu diminta. Perempuan juga sering terjebak dalam tugas-tugas "rumah tangga kantor" seperti mencatat notulen, menyiapkan konsumsi rapat, atau mengorganisir acara ulang tahun, yang tidak masuk dalam penilaian kinerja promosi.
Meski tantangannya berat, ketangguhan perempuan di dunia kerja tidak perlu diragukan. Yang dibutuhkan saat ini bukan hanya semangat dari individunya, melainkan perombakan sistemik. Perusahaan perlu menciptakan kebijakan yang ramah keluarga, cuti ayah yang setara, dan lingkungan yang bebas dari pelecehan. Dunia kerja yang inklusif bagi perempuan pada akhirnya akan menguntungkan semua pihak karena keberagaman perspektif adalah kunci inovasi.
Next News

Cek 5 Gejala Freon Habis Ini Agar Servis Gak Sampai Jutaan
20 hours ago

Wangi Hotel Bintang Lima Tanpa Kimia! Rahasia Rebusan Kulit Jeruk & Kayu Manis
7 hours ago

Bagaimana Segelas Air Hangat Menyelamatkanmu dari GERD Saat Berpuasa?
6 hours ago

Jangan Salah Sisi! Bahaya Tidur Miring ke Kanan Setelah Sahur
5 hours ago

Jaket Vintage Bau? Ini Cara Membersihkannya Tanpa Merusak
8 hours ago

Diet Garam Nggak Harus Hambar! 5 Bahan Alami Ini Bikin Masakan Tetap Gurih Maksimal
10 hours ago

Daftar Makanan Tinggi Natrium yang Sering Tidak Disadari Ada di Meja Buka Puasa
11 hours ago

Waspada Tensi Melonjak! Rahasia Labu Siam dan Timun Sebagai Penawar Bom Gula Ramadan
10 hours ago

Tips Mencuci Baju Biar Nggak Luntur, Jangan Sampai Menyesal
11 hours ago

Bukan Bersih, Ternyata Cara Setrika Ini Bikin Kemeja Jadi Kuning
12 hours ago






