

Menjadi perempuan di dunia kerja modern adalah sebuah perjalanan meniti tali di atas jurang. Di satu sisi, pintu kesempatan terbuka semakin lebar dibandingkan era sebelumnya. Kita melihat perempuan menduduki posisi CEO, memimpin proyek raksasa, dan berinovasi di bidang teknologi. Namun di sisi lain, bayang-bayang patriarki dan bias gender masih mengintip dari balik kubikel kantor. Perempuan sering kali harus bekerja dua kali lebih keras untuk mendapatkan pengakuan yang setara dengan rekan laki-laki mereka.
Salah satu tantangan terbesar yang sering tidak terlihat adalah beban ganda atau double burden. Setelah lelah bekerja seharian di kantor, perempuan, terutama yang sudah berkeluarga, masih diharapkan oleh masyarakat untuk menjadi manajer utama urusan domestik. Memasak, mengurus anak, dan membersihkan rumah seolah-olah menjadi kodrat yang tidak boleh dilepas, padahal mereka juga pencari nafkah. Kelelahan fisik dan mental akibat peran ganda ini sering kali menghambat perempuan untuk mengambil peluang karier yang lebih tinggi atau lebih menantang.
Selain itu, ada fenomena glass ceiling atau atap kaca yang tak kasat mata. Secara aturan tidak ada larangan bagi perempuan untuk naik jabatan, namun secara budaya dan politik kantor, jalannya sering kali dipersulit. Stereotip bahwa perempuan terlalu emosional, tidak tegas, atau akan terganggu fokusnya jika hamil dan melahirkan, masih menjadi pertimbangan bias para pengambil keputusan. Akibatnya, banyak talenta perempuan hebat yang mentok di level manajemen menengah tanpa pernah diberi kesempatan memegang kemudi utama.
Belum lagi masalah kesenjangan upah yang masih menjadi isu global. Di banyak sektor, perempuan masih dibayar lebih rendah daripada laki-laki untuk pekerjaan dan tanggung jawab yang sama persis. Hal ini sering kali dibalut dengan alasan negosiasi gaji yang kurang agresif dari pihak perempuan, padahal sistemlah yang seharusnya menjamin keadilan tanpa perlu diminta. Perempuan juga sering terjebak dalam tugas-tugas "rumah tangga kantor" seperti mencatat notulen, menyiapkan konsumsi rapat, atau mengorganisir acara ulang tahun, yang tidak masuk dalam penilaian kinerja promosi.
Meski tantangannya berat, ketangguhan perempuan di dunia kerja tidak perlu diragukan. Yang dibutuhkan saat ini bukan hanya semangat dari individunya, melainkan perombakan sistemik. Perusahaan perlu menciptakan kebijakan yang ramah keluarga, cuti ayah yang setara, dan lingkungan yang bebas dari pelecehan. Dunia kerja yang inklusif bagi perempuan pada akhirnya akan menguntungkan semua pihak karena keberagaman perspektif adalah kunci inovasi.
Next News

Alasan Kenapa Makanan Bioskop Lebih Mahal Daripada Tiket Film Yang Dijual
10 hours ago

Kenapa Film Horor Selalu Laris di Indonesia? Membedah Fenomena Genre Paling Konsisten
14 hours ago

Kenapa Abu Vulkanik Sangat Berbahaya Bagi Mesin Pesawat?
11 hours ago

Kenapa Ada Orang Harus Dengar Musik Agar Bisa Konsentrasi?
8 days ago

Alasan Medis Kenapa Toleransi Pedas Tiap Orang Berbeda
8 days ago

Termometer Sang Konduktor: Bagaimana Suhu Mengatur Jam Kehidupan Surabaya
9 days ago

Tren Belanja Online Warga Surabaya: Dari Marketplace ke Live Shopping
9 days ago

Bukan Sekadar 'Buta Aturan': Menelusuri Akar Rendahnya Kepatuhan Hukum di Indonesia
20 days ago

Trotoar Berbagi: Dilema Pedagang Kaki Lima Antara Hak Ekonomi dan Hak Pejalan Kaki
20 days ago

Graffiti: Seni atau Perusak Lingkungan?
20 days ago

