Ceritra
Ceritra Warga

Lelah Tanpa Sebab: Mengapa Tubuh Terasa Habis Energi Meski Seharian Tidak Melakukan Apa-apa?

Refa - Friday, 02 January 2026 | 01:00 PM

Background
Lelah Tanpa Sebab: Mengapa Tubuh Terasa Habis Energi Meski Seharian Tidak Melakukan Apa-apa?
Ilustrasi Lelah (Pinterest/anotherorion)

Fenomena ini sangat umum terjadi. Seharian menghabiskan waktu di tempat tidur atau sofa tanpa melakukan aktivitas fisik berat, namun saat malam tiba, tubuh justru terasa remuk redam seolah baru saja menyelesaikan lari maraton. Rasa lelah yang muncul tanpa sebab fisik ini sering kali memicu kebingungan dan rasa bersalah. Seseorang mungkin merasa dirinya "pemalas", padahal ada penjelasan ilmiah mengapa energi bisa terkuras habis meski raga diam di tempat.

Ternyata, "tidak melakukan apa-apa" secara fisik tidak selalu berarti tubuh dan otak sedang beristirahat total. Berikut adalah faktor-faktor tersembunyi penyebab kelelahan tersebut.

Beban Pikiran Menguras Energi Fisik

Alasan utama sering kali tersembunyi di balik tempurung kepala. Meskipun tubuh diam, otak manusia adalah mesin pembakar energi yang sangat aktif. Organ ini mengonsumsi sekitar 20 persen dari total kalori tubuh meskipun beratnya hanya sebagian kecil dari berat badan keseluruhan.

Saat seseorang diam namun pikirannya terus berputar, memikirkan kekhawatiran masa depan, merenungi masalah pekerjaan, atau terjebak dalam overthinking, otak bekerja dalam intensitas tinggi. Kondisi ini dikenal sebagai kelelahan mental atau mental fatigue. Beban kognitif yang tidak terlihat ini membakar glukosa dalam darah dengan cepat, meninggalkan tubuh dalam keadaan letih lesu meskipun otot-otot tidak digunakan untuk mengangkat beban.

Jebakan Istirahat Semu di Depan Layar

Definisi "tidak melakukan apa-apa" di era modern sering kali identik dengan "berdiam diri sambil menatap layar ponsel". Padahal, aktivitas scrolling media sosial bukanlah bentuk istirahat bagi sistem saraf.

Banjir informasi visual, berita negatif, notifikasi yang tiada henti, hingga perbandingan sosial yang terjadi di alam bawah sadar menempatkan otak dalam kondisi waspada terus-menerus atau hyper-arousal. Stimulasi berlebih ini memicu kelelahan sensorik. Mata yang tegang menatap cahaya biru mengirimkan sinyal stres ke otak, yang kemudian diterjemahkan oleh tubuh sebagai rasa lelah fisik yang nyata.

Tubuh yang "Macet" Akibat Kurang Gerak

Paradoks biologis juga turut bermain peran. Tubuh manusia secara evolusi dirancang untuk bergerak. Saat seseorang berada dalam posisi diam (sedenter) terlalu lama, sirkulasi darah melambat secara signifikan.

Kondisi ini menyebabkan suplai oksigen dan nutrisi yang menuju ke sel-sel tubuh menjadi tidak optimal. Akibatnya, metabolisme menurun dan tubuh masuk ke mode "hemat daya" ekstrem, yang justru dirasakan sebagai kelesuan atau lethargy. Rasa kantuk dan lemas yang muncul saat rebahan seharian sebenarnya adalah sinyal bahwa sistem tubuh sedang "macet" karena kurangnya pemicu sirkulasi darah.

Kebosanan Menurunkan Kadar Dopamin

Faktor emosional juga tidak bisa diabaikan. Kebosanan atau boredom sering kali disalahartikan sebagai relaksasi, padahal kebosanan adalah bentuk stres ringan bagi otak.

Ketika tidak ada aktivitas yang bermakna atau menantang, otak memproduksi lebih sedikit dopamin, yaitu neurotransmiter yang mengatur motivasi dan energi. Penurunan kadar dopamin ini membuat seseorang merasa lesu, tidak bertenaga, dan hampa. Dalam kondisi ini, berdiam diri tanpa tujuan yang jelas justru lebih melelahkan secara mental dibandingkan sibuk mengerjakan hobi yang disukai.

Kesimpulan

Kelelahan jenis ini adalah peringatan halus dari tubuh. Rasa lelah tersebut bukanlah tanda bahwa seseorang membutuhkan lebih banyak jam tidur, melainkan sinyal bahwa tubuh membutuhkan jenis istirahat yang berbeda—mungkin istirahat dari layar digital, istirahat dari kecemasan, atau justru membutuhkan sedikit gerakan fisik ringan untuk "membangunkan" kembali sistem energi yang tertidur.

Logo Radio
🔴 Radio Live