Lawan Rasa Cringe! Alasan Kenapa Anak Muda Tetap Perlu Sungkem ke Orang Tua
Refa - Saturday, 21 March 2026 | 11:00 AM


Sungkeman: Antara Air Mata, Lutut yang Pegal, dan Kenapa Tradisi Ini Jangan Sampai Wafat
Bayangin deh, Lebaran baru aja dimulai. Aroma opor ayam dan sambal goreng ati udah menyeruak dari dapur sejak subuh. Kamu udah tampil rapi dengan baju baru yang dibeli hasil war di marketplace, rambut klimis, dan parfum yang wanginya semerbak satu ruangan. Tapi, ada satu momen yang buat sebagian anak muda zaman sekarang rasanya lebih mendebarkan daripada ketemu gebetan, yaitu momen sungkeman.
Jujur aja, siapa sih yang nggak ngerasa sedikit kikuk atau awkward pas harus jongkok di depan orang tua, pegang tangan mereka, terus mulai ngomong kalimat minta maaf yang puitis itu? Ada perasaan gengsi yang tiba-tiba muncul, atau rasa kagok karena sehari-hari biasanya kita cuma ngomong "Laper, Mak" atau "Minjem duit dong, Pak". Tapi di hari itu, tiba-tiba kita harus bertransformasi jadi sosok yang sangat melankolis.
Sayangnya, belakangan ini tradisi sungkeman pelan-pelan mulai tergeser. Anak-anak muda sekarang lebih sibuk nyari angle foto OOTD yang estetik buat di-upload ke Instagram Story atau sibuk balas chat "Minal Aidin" di WhatsApp grup yang jumlahnya ribuan. Sungkeman seringkali dianggap formalitas yang membosankan atau malah dianggap kuno dan bikin ribet karena harus antre berdasarkan urutan umur. Padahal, kalau kita mau bedah lebih dalam, sungkeman itu lebih dari sekadar urusan lutut ketemu lantai.
Filosofi di Balik Lutut yang Menekuk
Sungkeman itu asalnya dari budaya Jawa, tapi maknanya sudah meresap ke berbagai lapisan masyarakat di Indonesia. Secara teknis, sungkeman berasal dari kata "sungkem" yang artinya sujud atau tanda hormat. Tapi jangan salah kaprah, ini bukan sujud menyembah Tuhan, melainkan bentuk penghormatan setinggi-tingginya kepada mereka yang lebih tua, terutama orang tua yang sudah membesarkan kita dengan segala drama dan keringatnya.
Di era yang serba instan ini, kita sering kehilangan momen buat bener-bener "hadir". Kita sering ngerasa sudah cukup minta maaf lewat chat dengan emoji maaf atau stiker lucu. Padahal, ada vibrasi yang beda banget pas kita bener-bener menyentuh tangan orang tua, menciumnya, dan mendengar suara mereka yang bergetar saat memberikan maaf. Itu adalah momen ego stripping, di mana gengsi kita yang setinggi langit dipaksa buat runtuh dan mengakui kalau kita hanyalah "anak kecil" yang masih butuh doa mereka.
Kenapa Mulai Dilupakan?
Ada beberapa alasan kenapa tradisi ini mulai terasa asing bagi sebagian orang:
- Digitalisasi Emosi: Kita udah terbiasa mengekspresikan perasaan lewat layar. Ngomong langsung itu rasanya berat banget, apalagi kalau hubungannya emang lagi nggak sinkron sama orang tua.
- Vibe yang Terlalu Formal: Kadang tata caranya yang kaku bikin anak muda ngerasa cringe. "Harus pakai bahasa kromo nggak ya?" atau "Duh, nanti kalau gue nangis gimana?". Ketakutan akan terlihat emosional ini seringkali bikin orang milih buat skip momen ini.
- Pergeseran Gaya Hidup: Banyak keluarga yang sekarang lebih milih merayakan Lebaran di hotel atau tempat wisata, sehingga suasana sakral rumah jadi hilang dan tergantikan dengan suasana liburan yang santai.
Padahal, kalau kita lihat dari sisi psikologis, sungkeman itu salah satu metode healing paling murah dan ampuh. Selama setahun, mungkin ada banyak kata-kata kasar yang kita lempar ke Ibu, atau ada sikap cuek kita yang bikin Ayah kecewa. Sungkeman itu kayak tombol reset. Begitu kita bangun dari sungkem, rasanya beban di pundak itu kayak diangkat. Ada perasaan lega yang nggak bisa digantikan sama self-reward belanja baju atau nongkrong di kafe mahal.
Kenapa Harus Tetap Dijaga?
Mungkin terdengar klise, tapi tradisi adalah jangkar identitas kita. Tanpa tradisi kayak sungkeman, kita cuma bakal jadi manusia-manusia digital yang kering akan nilai-nilai penghormatan. Ada beberapa alasan kuat kenapa kita nggak boleh biarin sungkeman hilang ditelan zaman:
Pertama, ini soal koneksi manusiawi. Di dunia yang makin individualis, sungkeman memaksa kita buat melakukan kontak fisik dan batin yang tulus. Kamu nggak bisa sungkeman sambil main HP, kan? Itu adalah momen langka di mana perhatian kita 100% fokus buat orang tua.
Kedua, melatih kerendahan hati. Anak muda zaman sekarang sering dididik buat jadi ambisius dan percaya diri tinggi. Itu bagus, tapi kadang bikin kita lupa caranya menunduk. Sungkeman ngajarin kita kalau setinggi apa pun jabatan atau pendidikan kita nanti, kita tetap harus punya adab di depan orang yang lebih tua.
Ketiga, sungkeman adalah momen "curhat" terselubung. Nggak jarang, momen sungkeman malah jadi ajang orang tua ngasih nasihat yang ngena banget ke hati, atau bahkan mereka yang minta maaf duluan karena ngerasa belum jadi orang tua yang sempurna. Di situ lah terjadi rekonsiliasi yang luar biasa indah.
Membawa Sungkeman ke Gaya Masa Kini
Kita nggak perlu kok jadi super kaku kayak di drama kolosal buat melestarikan sungkeman. Kalau emang nggak bisa bahasa Jawa halus, ya pakai bahasa Indonesia yang sopan juga nggak masalah. Yang penting itu niatnya, bukan seberapa puitis susunan katanya. Bahkan sekarang banyak kok keluarga yang sungkemannya sambil bercanda dikit biar suasananya nggak terlalu tegang, tapi tetap dapet esensinya.
Jadi, buat kalian yang Lebaran besok masih ngerasa males atau gengsi buat sungkeman, coba deh sekali aja lakuin dengan sepenuh hati. Jangan cuma mikirin "habis ini dapet salam tempel berapa ya?", tapi coba rasain hangatnya tangan orang tua kalian. Karena percaya deh, suatu saat nanti, momen antre buat sungkeman dan pegalnya lutut saat jongkok itu bakal jadi hal yang paling kalian rindukan pas mereka udah nggak ada.
Tradisi itu nggak akan mat.
i selama kita masih mau melakukannya. Jangan sampai kita baru sadar berharganya sebuah tradisi pas tradisi itu sudah benar-benar jadi artefak di buku sejarah. Yuk, tetap jaga sungkeman, karena sekeren-kerennya anak zaman sekarang, bakal lebih keren lagi kalau dia tetap tahu caranya menghormati akar budayanya sendiri. Lagian, menangis pas sungkeman itu bukan berarti cengeng kok, itu tandanya hatimu masih punya "sinyal" buat ngerasain kasih sayang yang tulus.
Next News

Bahaya Memanaskan Masakan Santan Berulang Kali dan Trik Aman Menyimpannya
in 3 hours

Bahaya Mengerikan Air Keras Bagi Tubuh dan Langkah Pertolongan Pertama
in 2 hours

Strategi Cerdas Mudik Sehat Bugar Sampai Kampung Halaman
in an hour

Panduan Mudik Aman dan Nyaman Bagi Penderita Gangguan Irama Jantung
in 30 minutes

Baju Baru Kena Kuah Opor? Jangan Panik, Ini Solusinya!
in an hour

Jangan Malu Bawa Koran! Trik Bertahan di Saf Luar Agar Ibadah Tetap Khusyuk
an hour ago

Anti-Kiper! 6 Jurus Jitu Ngobrol Bareng Saudara Jauh Tanpa Rasa Canggung
in 5 hours

Mengapa Maaf Saat Idulfitri Terasa Begitu Bermakna?
in 3 hours

Sering Begah Habis Makan Enak? Kenali Pemicu Utama Ini
in an hour

Kalori Tersembunyi di Makanan Lebaran yang Perlu Kamu Tahu Sebelum Kalap
in 15 minutes






