

Gaza. Lagi-lagi nama tempat ini jadi sorotan dunia, tapi bukan karena hal yang menyenangkan. Bukannya membaik, situasi kemanusiaan di sana malah makin jungkir balik, apalagi buat anak-anak yang nggak tahu apa-apa. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini bikin kita semua menghela napas panjang, dan mungkin juga kesal, karena laporan mereka yang bilang kalau tingkat kelaparan di Gaza bukannya berkurang, malah cenderung memburuk sejak gencatan senjata sementara berakhir. Ini kayak film horor yang terus-terusan tayang tanpa jeda, cuma bedanya ini nyata dan korbannya adalah manusia.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, tanpa tedeng aling-aling bilang kalau lebih dari 8.000 anak di bawah lima tahun di Gaza udah didiagnosis menderita kekurangan gizi akut. Bayangin aja, angka segitu banyak itu bukan cuma statistik kosong, tapi potret ribuan nyawa mungil yang seharusnya lagi sibuk main petak umpet atau nangis minta permen, malah harus berjuang mati-matian cuma buat bertahan hidup. Dan yang lebih bikin hati miris, setidaknya 28 anak juga udah meninggal dunia karena malnutrisi dan dehidrasi. Kebanyakan dari mereka di Gaza utara, wilayah yang memang aksesnya udah kayak masuk ke labirin tanpa peta, susah banget ditembus.
Kematian anak-anak karena hal-hal yang seharusnya bisa dicegah di era modern ini adalah tamparan keras buat kita semua. Anak-anak ini meninggal bukan karena penyakit langka atau kecelakaan, tapi karena perut mereka kosong dan tubuh mereka kekurangan cairan. Ini bukan cuma tragedi, tapi juga kegagalan kolektif kemanusiaan. Harusnya kan, nggak ada anak yang mati kelaparan di dunia ini, apalagi di zaman teknologi udah segambreng kayak sekarang.
Nah, sekarang pertanyaan besarnya: kenapa sih ini bisa terjadi? Tedros punya jawabannya, dan jawabannya ini sebenernya bukan hal baru, tapi masalah yang terus-terusan menghantui pengiriman bantuan kemanusiaan di Gaza. Ibaratnya, mereka mau nolong, tapi jalannya buntu di mana-mana. Pertama, kondisi keamanan yang nggak menentu. Jangankan ngirim bantuan, bergerak beberapa meter aja udah kayak main Russian roulette. Jalanan yang rusak parah juga jadi PR gede. Coba deh bayangin, mau ngirim truk bantuan gede, tapi jalannya udah kayak habis kena gempa bumi. Mana bisa nyampe tepat waktu?
Belum lagi soal prosedur birokrasi yang rumitnya minta ampun. Ngurus izin ini itu, harus lewat meja ini itu, persis kayak mau ngurus dokumen penting di birokrasi yang lagi antre panjang banget. Padahal di lapangan, setiap detik itu berharga. Satu jam terlambat berarti potensi nyawa melayang lebih banyak lagi. Ditambah lagi, kekurangan bahan bakar. Bahan bakar ini kan nyawa buat segalanya: genset rumah sakit biar listrik nyala, mobil pengangkut bantuan biar bisa bergerak, sampai pompa air bersih. Kalau bahan bakar nggak ada, ya udah deh, semua kegiatan langsung macet total.
Puncak dari segala keruwetan ini adalah penutupan penyeberangan Rafah. Penyeberangan ini itu ibarat pintu gerbang utama buat bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza. Begitu pintu gerbang ini dikunci rapat, pasokan vital langsung tersendat. Rumah sakit di sana udah kayak medan perang sendiri, kewalahan banget menangani pasien yang membludak, sementara pasokan obat-obatan, alat medis, dan bahkan air bersih udah di ambang kritis. Mereka bukan cuma kekurangan ranjang, tapi juga kekurangan harapan.
Dampak penutupan Rafah ini tuh kayak efek domino yang nggak ada habisnya. Nggak ada bantuan masuk, stok habis, rumah sakit lumpuh, orang-orang nggak bisa berobat, makin banyak yang sakit, dan ujung-ujungnya, makin banyak yang meninggal. Apalagi anak-anak, mereka adalah kelompok yang paling rentan. Sistem imun mereka belum sekuat orang dewasa, tubuh mereka juga butuh nutrisi lebih untuk tumbuh dan berkembang. Kalau gizi aja kurang, apalagi mau bertahan dari penyakit atau cedera.
Jadi, situasi di Gaza ini bukan cuma soal konflik bersenjata, tapi udah merembet ke krisis kemanusiaan yang mendalam dan multidimensional. Ini bukan sekadar berita lewat yang bisa kita skip di linimasa media sosial. Ini adalah panggilan darurat yang butuh respons cepat dan konkret dari semua pihak. Kita bicara tentang masa depan ribuan anak yang terenggut, tentang martabat kemanusiaan yang tergerus habis. Dunia nggak bisa cuma bisa geleng-geleng kepala atau ngeluarin pernyataan kecaman doang. Aksi nyata itu perlu, sekarang juga.
Mungkin terdengar klise, tapi memang begitu adanya. Krisis ini harus jadi pengingat bahwa di balik hingar-bingar dunia dan urusan politik yang rumit, ada nyawa-nyawa tak berdosa yang sedang berjuang keras hanya untuk melihat matahari esok hari. Semoga saja, ada jalan keluar dan bantuan bisa mengalir tanpa hambatan lagi, biar anak-anak di Gaza bisa kembali tersenyum, bermain, dan punya kesempatan tumbuh dewasa seperti anak-anak lainnya di belahan dunia ini.
Next News

Tak Punya Pohon Kakao, Tapi Swiss Jadi Raja Cokelat Dunia, Ini Rahasianya
in 5 hours

Di Balik Keputusan Elon Musk Membungkam Sisi Liar Grok
in 3 hours

Strategi Evelyn Afnilia Membidik Momen Emas Lebaran 2026 Lewat 'Tunggu Aku Sukses Nanti'
in 2 hours

FIX! Jakarta Masuk Daftar, BTS Resmi Gelar Tur Dunia 2026!
in 2 hours

Kim Hye Yoon dan Park Solomon Hadirkan Romansa Fantasi Segar dalam 'No Tail to Tell'
15 minutes ago

Selamat Tinggal Konten Toxic! Fitur Reset Instagram Ini Jadi Penyelamat Mental Health Kamu
2 hours ago

Donald Trump Mau Beli Greenland, NATO Diancam Bubar: Emangnya Ini Jual Beli Tanah Kavling di Citayam?
an hour ago

Awas Tertipu! Video dari Google Veo 3.1 Saking Realistisnya Sampai Butuh Tanda Khusus
4 hours ago

Era Baru TikTok Shop 2026, Awas Kerkun 'Shadowban Duit'!
20 hours ago

Bangkit dari Sorotan Miring, Go Min Si Siap Mengguncang Bioskop Lewat Film 'Moral Family'
21 hours ago





