Ceritra
Ceritra Update

Krisis Sudan: 30 Juta Jiwa, Jutaan Anak Kelaparan

- Saturday, 25 October 2025 | 03:00 PM

Background
Krisis Sudan: 30 Juta Jiwa, Jutaan Anak Kelaparan

Pernahkah kamu merasa hidup ini kadang kejam? Kita mungkin sering galau karena kuota internet sekarat, atau karena pesanan ojol nyasar. Tapi, bayangkan sejenak, ada jutaan orang di luar sana yang bahkan tidak tahu apakah mereka akan makan hari ini atau tidak. Di sudut Afrika, tepatnya di Sudan, kondisi ini bukan lagi imajinasi, melainkan realita pahit yang sedang dialami oleh lebih dari 30 juta warganya. Angka ini setara dengan sekitar sepuluh kali lipat penduduk Jakarta, lho! Dan yang lebih bikin miris, hampir separuhnya, sekitar 14,7 juta, adalah anak-anak yang seharusnya lagi asyik main dan belajar, bukan berjuang mati-matian cuma buat bertahan hidup.

Kondisi ini, jujur saja, bikin hati teriris. PBB melalui badan-badan seperti OCHA (Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan), WFP (Program Pangan Dunia), dan UNICEF, sudah getol banget menyuarakan alarm bahaya ini. Mereka bilang, Sudan sekarang membutuhkan bantuan kemanusiaan darurat yang nggak kaleng-kaleng. Dan pemicunya? Konflik bersenjata yang pecah pada April 2023, yang membuat negara ini jungkir balik dan berantakan.

Ketika Perut Keroncongan Bukan Hanya Kiasan

Dampak paling langsung dari konflik ini adalah krisis pangan yang luar biasa. Coba bayangkan, 18 juta orang di Sudan menghadapi kerawanan pangan akut. Ini bukan cuma soal lapar biasa, ya. Ini kondisi di mana orang-orang tidak tahu kapan dan dari mana mereka akan mendapatkan makanan selanjutnya. Ibaratnya, mereka hidup dari hari ke hari dengan perut yang terus-terusan keroncongan. Dan yang paling parah, 5 juta di antaranya sudah berada di ambang kelaparan darurat. Lima juta jiwa! Angka itu setara dengan seluruh penduduk Singapura. Kalau dibiarkan, ujung-ujungnya bisa fatal, bukan cuma bikin kurus kering, tapi juga merenggut nyawa.

Angka ini semakin mengerikan kalau kita bicara soal anak-anak. Hampir 3,7 juta anak di Sudan menderita gizi buruk. Gizi buruk ini bukan cuma bikin anak-anak jadi lemas dan mudah sakit, tapi juga bisa menghambat perkembangan otak dan fisik mereka secara permanen. Anak-anak yang seharusnya tumbuh sehat dan ceria, kini harus berjuang melawan kelaparan dan penyakit. Ini adalah tragedi yang nggak bisa dibayangin.

Sistem Kesehatan yang di Ambang Kolaps

Seolah penderitaan akibat kelaparan belum cukup, sistem kesehatan di Sudan juga sudah berada di ambang kehancuran. Bayangin aja, lagi sakit parah, tapi rumah sakit cuma tinggal nama, atau kalaupun ada, nggak punya obat, nggak punya dokter, bahkan nggak ada air bersih. Konflik telah menghancurkan infrastruktur, termasuk fasilitas kesehatan. Petugas medis yang tersisa pun kewalahan, bekerja di bawah ancaman dan dengan sumber daya yang sangat terbatas. Akibatnya, penyakit yang seharusnya bisa diobati dengan mudah, kini bisa berubah jadi vonis mati. Penyakit-penyakit yang di negara lain mungkin sudah jarang ditemui, seperti campak atau kolera, bisa menyebar dengan cepat tanpa bisa dikendalikan. Kondisi ini seperti kiamat kecil bagi mereka yang sakit.

Jutaan Jiwa Terpaksa Angkat Kaki

Konflik juga telah menyebabkan gelombang pengungsian masif. Sekitar 10 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka, baik mengungsi di dalam negeri maupun mencari perlindungan ke negara-negara tetangga. Sepuluh juta! Angka ini lebih banyak dari penduduk seluruh Provinsi Banten. Mereka terpaksa angkat kaki, ninggalin semua kenangan, harta benda, dan masa depan yang sudah mereka rencanakan, cuma demi nyari selamat. Mereka hidup dalam ketidakpastian, di kamp-kamp pengungsian yang serba terbatas, atau di tempat-tempat baru yang asing. Kehilangan rumah bukan cuma soal kehilangan bangunan, tapi juga kehilangan identitas, komunitas, dan stabilitas hidup.

Dunia Berhutang pada Sudan

PBB dan badan-badan kemanusiaan lainnya sudah berteriak kencang, menyerukan komunitas internasional untuk segera memberikan dukungan finansial. Mereka punya Rencana Respons Kemanusiaan Sudan senilai 2,7 miliar dolar AS. Angka ini memang besar, tapi sebanding dengan skala krisisnya. Namun, tahu nggak berapa persen yang sudah terpenuhi? Cuma sekitar 16 persen saja! Angka 16 persen ini mirip kayak kita lagi ngerjain tugas kelompok, tapi yang kerja cuma satu orang, sisanya leha-leha. Padahal, taruhannya adalah jutaan nyawa manusia.

Kekurangan dana ini sangat menghambat upaya bantuan di lapangan. Bayangin, bagaimana mau menyalurkan makanan, obat-obatan, atau membangun shelter kalau dananya minim banget? Ini bukan cuma soal angka di atas kertas, tapi soal logistik, sumber daya manusia, dan kecepatan respons. Kalau dana tidak segera terkumpul, PBB khawatir bencana kemanusiaan yang terjadi sekarang akan semakin parah, berubah menjadi malapetaka yang tidak terbayangkan. Ini bukan cuma peringatan, tapi ancaman nyata.

Krisis di Sudan ini adalah cerminan betapa rapuhnya kehidupan manusia di tengah konflik dan ketidakpedulian. Kita mungkin merasa jauh, tapi apa yang terjadi di sana adalah tanggung jawab kita bersama sebagai sesama manusia. Mungkin kita tidak bisa secara langsung mengirimkan bantuan, tapi setidaknya, mari kita sebarkan informasi ini, tingkatkan kesadaran, dan jika ada kesempatan, berikan dukungan sekecil apa pun melalui lembaga-lembaga terpercaya. Karena pada akhirnya, kemanusiaan itu universal, dan setiap nyawa itu berharga, tidak peduli di belahan dunia mana pun ia berada.

Logo Radio
🔴 Radio Live