Ceritra
Ceritra Update

Ketika Langit Pondok Pesantren Runtuh: Tragedi Asrama Putri di Situbondo yang Mengguncang Hati

- Thursday, 30 October 2025 | 03:00 PM

Background
Ketika Langit Pondok Pesantren Runtuh: Tragedi Asrama Putri di Situbondo yang Mengguncang Hati


Pondok pesantren. Sebuah tempat yang seringkali kita bayangkan sebagai oase ketenangan, penuh dengan lantunan ayat suci, gelak tawa santriwati yang riang, dan ritme kehidupan yang teratur dalam balutan kesederhanaan. Di Desa Blimbing, Situbondo, tepatnya di Pondok Pesantren Syafi'iyah Syekh Abdul Qodir Jailani, gambaran itu begitu nyata. Namun, takdir punya rencana lain yang kerap kali tak terduga, seolah ingin mengingatkan kita betapa rapuhnya segala sesuatu.

Pada suatu hari yang seharusnya berlalu biasa saja, kedamaian itu pecah berkeping-keping. Sebuah insiden mengerikan terjadi, bak disambar petir di siang bolong. Bangunan asrama putri yang selama ini menjadi rumah bagi puluhan santriwati, mendadak ambruk. Gedung yang menjadi saksi bisu mimpi-mimpi dan harapan para penghuninya itu, tiba-tiba menyerah pada usia atau entah pada apanya, meninggalkan puing-puing dan jeritan histeris yang mengiris hati.

Kabar ambruknya asrama ini sontak menyebar bak api di padang ilalang. Mengguncang bukan hanya Desa Blimbing, tapi juga seluruh Situbondo, bahkan mungkin seantero negeri. Bagaimana tidak? Sebuah tempat yang semestinya aman, menjadi saksi bisu musibah yang menelan korban. Bayangkan saja, adik-adik santriwati yang mungkin sedang tidur lelap, atau mungkin tengah bercengkrama seusai mengaji, tiba-tiba harus menghadapi kenyataan paling pahit: bangunan di atas kepala mereka runtuh.

Malam itu, atau mungkin pagi buta, suasana berubah drastis dari hening ke hiruk-pikuk yang mencekam. Debu tebal mengepul, bercampur dengan suara reruntuhan yang masih sesekali terdengar, dan yang paling memilukan, tangisan serta teriakan minta tolong dari balik tumpukan material bangunan. Warga, pengurus pesantren, dan siapa saja yang ada di sekitar lokasi langsung bahu-membahu. Mereka bekerja keras, mencoba menyelamatkan para santriwati yang tertimbun. Tanpa komando, tanpa menunggu aba-aba, insting kemanusiaan bergerak begitu cepat.

Medan yang berat dan risiko yang tinggi tidak menyurutkan semangat mereka. Mereka mengais, mengangkat, dan menyingkirkan puing-puing berat dengan tangan kosong, atau alat seadanya. Cahaya senter dan lampu seadanya menyala, menembus kegelapan dan debu, menciptakan pemandangan yang serupa dengan adegan film-film bencana, namun ini adalah kenyataan yang jauh lebih pahit. Setiap tarikan napas terasa panjang, setiap galian penuh harapan cemas.

Satu per satu, korban berhasil dievakuasi. Ada yang berhasil keluar dengan luka ringan, ada pula yang harus dilarikan ke rumah sakit terdekat dengan luka-luka yang lebih serius. Raut wajah mereka penuh ketakutan, shock, dan kebingungan. Total sebelas santriwati berhasil diselamatkan, meski dengan kondisi terluka. Rasa syukur menyelimuti, namun ada bayangan hitam yang masih menggantung, sebuah pertanyaan yang belum terjawab: bagaimana dengan yang lainnya?

Pertanyaan itu akhirnya terjawab, namun dengan cara yang paling menyakitkan. Dari balik reruntuhan, setelah perjuangan panjang dan penuh haru, satu santriwati ditemukan dalam kondisi tak bernyawa. Kabar ini seperti palu godam yang menghantam, memecah harapan yang baru saja tumbuh. Gadis kecil itu adalah Putri, usianya baru 12 tahun, berasal dari Besuki. Seharusnya, di usia semuda itu, ia sedang asyik mengejar ilmu, bermain dengan teman-temannya, atau merajut cita-cita. Bukan terenggut nyawanya dalam sebuah tragedi yang tak terduga.

Kisah Putri langsung mengundang simpati dan duka mendalam dari banyak pihak. Sebuah nyawa yang masih sangat belia, harus pergi begitu cepat, meninggalkan kenangan manis dan luka yang menganga di hati keluarga, guru, dan teman-temannya. Ia telah dimakamkan pada Rabu, 29 Oktober 2025. Tanggal yang mungkin terasa jauh di depan, namun bagi mereka yang merasakan kehilangan, setiap hari setelah kejadian itu terasa bagaikan sebuah penantian panjang akan keikhlasan.

Meninggalnya Putri dan luka-luka yang diderita sebelas santriwati lainnya tentu saja bukan sekadar angka atau statistik. Di balik setiap nama, ada cerita, ada keluarga, ada mimpi yang kini harus tertunda atau bahkan terputus. Tragedi ini bukan hanya tentang bangunan yang ambruk, tapi juga tentang kepercayaan yang goyah, tentang rasa aman yang tiba-tiba sirna, dan tentang betapa pentingnya perhatian terhadap infrastruktur di tempat-tempat pendidikan, terutama yang dihuni oleh anak-anak.

Kita tahu, banyak bangunan di negeri ini yang mungkin sudah tua, dibangun bertahun-tahun lalu dengan standar yang berbeda dengan sekarang. Tapi apakah ini bisa menjadi alasan? Tentu saja tidak. Insiden ini harus menjadi alarm keras bagi kita semua, terutama bagi pihak-pihak yang bertanggung jawab atas pengelolaan fasilitas publik dan pendidikan. Sudah seharusnya ada audit berkala, pengecekan ketat, dan perawatan yang memadai untuk memastikan keamanan semua bangunan, terutama yang dihuni oleh jiwa-jiwa muda yang sedang menuntut ilmu.

Bayangkan saja, para orang tua menitipkan anak-anak mereka ke pesantren dengan harapan agar mereka mendapatkan pendidikan agama dan karakter yang baik, serta lingkungan yang aman. Ketika harapan itu berujung pada tragedi, bukan hanya duka yang muncul, tapi juga pertanyaan besar akan tanggung jawab. Tentu saja, ini bukan saatnya untuk saling menyalahkan, namun ini adalah momen yang tepat untuk berkaca, mengevaluasi, dan bertindak agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

Masyarakat Situbondo dan seluruh keluarga besar Pondok Pesantren Syafi'iyah Syekh Abdul Qodir Jailani kini tengah berduka, namun mereka juga menunjukkan kekuatan dan solidaritas yang luar biasa. Dukungan moril dan material mengalir deras, menunjukkan bahwa di tengah kesedihan, semangat gotong royong dan kepedulian masih sangat hidup. Para santriwati yang terluka perlahan mulai pulih, meski trauma pasti akan membekas. Semoga mereka diberi kekuatan untuk kembali bangkit dan meneruskan perjuangan mereka.

Kisah Putri, gadis kecil dari Besuki, akan selalu menjadi pengingat. Pengingat akan pentingnya keselamatan, pengingat akan kerapuhan hidup, dan pengingat akan pentingnya rasa kemanusiaan yang tak pernah padam. Semoga tragedi ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, agar setiap bangunan, setiap sudut tempat di mana anak-anak menuntut ilmu, benar-benar menjadi tempat yang aman dan nyaman, jauh dari segala jenis mara bahaya.

Logo Radio
🔴 Radio Live