Ceritra
Ceritra Warga

Kenapa Pesan Tulus Malah Bikin Orang Ilfeel? Ini Penyebabnya

Refa - Tuesday, 13 January 2026 | 10:30 AM

Background
Kenapa Pesan Tulus Malah Bikin Orang Ilfeel? Ini Penyebabnya
Ilustrasi kirim pesan ke teman (Pinterest/naveed20920851)

Pernah mengalami kejadian seperti ini? Kita mengirim pesan panjang lebar dengan niat tulus menyemangati teman, tapi balasannya malah dingin atau lebih parah cuma di-read doang. Kita pun jadi overthinking: "Salahku apa? Padahal niatku kan baik."

Di sinilah letak kesalahpahaman terbesar dalam komunikasi. Kita sering mengukur keberhasilan pesan dari niat pengirim, padahal penerima menilainya dari dampak yang dirasakan. Niat setulus malaikat pun bisa terdengar seperti sindiran tajam kalau bungkusnya salah.

Kenapa "miskomunikasi rasa" ini sering terjadi? Berikut beberapa penyebab utamanya.

1. Masalah "Nada" yang Hilang di Layar

Musuh terbesar ketulusan di era digital adalah teks polos. Tulisan tidak punya nada suara, ekspresi wajah, atau intonasi. Kalimat yang diucapkan dengan senyum lembut bisa terdengar ketus saat dibaca di layar HP.

Bayangkan kita mengirim pesan singkat: "Kamu harus istirahat." Niat kita mungkin perhatian dan khawatir. Tapi bagi penerima yang lagi stres dikejar deadline, kalimat itu bisa terbaca dengan nada memerintah atau meremehkan usahanya. Tanpa emoji atau konteks tambahan, otak manusia punya kecenderungan "negativity bias", yaitu otomatis menafsirkan hal yang ambigu sebagai sesuatu yang negatif atau menyerang.

2. Kata "Tapi" yang Menghapus Segalanya

Ini kesalahan klasik yang sering tidak disadari. Kita memberikan pujian atau empati, lalu diikuti kata "tapi". Secara psikologis, kata "tapi" berfungsi sebagai penghapus bagi semua kalimat yang ada sebelumnya.

Contohnya saat kita bilang, "Aku ngerti banget perasaan kamu, tapi kamu juga jangan terlalu emosional dong." Kalimat setelah kata "tapi" itu membatalkan validasi yang kita berikan di awal. Pesan yang sampai ke lawan bicara bukan "Aku dimengerti", melainkan "Aku dinilai salah karena emosional". Ketulusan di awal kalimat langsung menguap begitu saja.

3. Jebakan Kata "Setidaknya"

Saat melihat orang lain susah, insting pertama kita seringkali ingin menghibur dengan mencari sisi positifnya. Sayangnya, ini sering terpeleset menjadi toxic positivity. Kata kuncinya biasanya diawali dengan "Setidaknya..." atau "Untungnya...".

Misalnya, teman baru saja kemalingan motor. Dengan niat menghibur, kita bilang, "Ya sudahlah, setidaknya kamu nggak terluka fisik." Secara logika itu benar, tapi secara rasa, itu terdengar seperti kita meremehkan kesedihan mereka kehilangan barang berharga. Pesan tulus ini gagal karena alih-alih menemani rasa sedihnya, kita malah memaksa mereka untuk langsung bersyukur saat mereka belum siap.

4. Waktu yang Salah = Pesan yang Salah

Ketulusan itu punya "jam tayang". Pesan yang sangat bijak dan tulus bisa jadi bumerang kalau disampaikan di waktu yang tidak tepat. Ini soal kesiapan mental penerima pesan.

Bayangkan pasangan baru saja melakukan kesalahan fatal dan sedang merasa sangat bersalah. Lalu kita masuk dengan nasihat tulus, "Makanya, lain kali harus lebih teliti biar nggak rugi." Meskipun nadanya lembut dan niatnya mendidik, pesan itu akan terdengar seperti ceramah yang menyojokkan. Saat emosi sedang tinggi, orang butuh ditenangkan, bukan dinasihati. Nasihat terbaik di waktu yang buruk adalah nasihat yang buruk.

Logo Radio
🔴 Radio Live