Ceritra
Ceritra Warga

Kenapa Barang yang Kita Rakit Sendiri Terasa Lebih Berharga?

Nisrina - Wednesday, 31 December 2025 | 03:51 PM

Background
Kenapa Barang yang Kita Rakit Sendiri Terasa Lebih Berharga?
Seorang perempuan merakit kursi yang ia beli sendiri (Freepik/)

Ada fenomena psikologis yang sangat menarik terjadi setiap kali kita pulang membawa kardus berat berisi perabotan rakitan dari IKEA atau toko furnitur sejenis. Kita harus bersusah payah membongkar kardus, membaca instruksi bergambar yang membingungkan, memutar ratusan baut dengan kunci L kecil, dan berkeringat selama berjam-jam. Namun anehnya, setelah meja atau rak buku itu berdiri tegak, kita merasakan kepuasan yang luar biasa. Bahkan jika hasilnya sedikit miring atau ada satu baut yang tersisa, kita tetap merasa benda itu jauh lebih indah dan berharga daripada furnitur mahal yang dibeli dalam keadaan sudah jadi.

Bias kognitif ini dinamakan The IKEA Effect. Diteliti secara mendalam oleh profesor psikologi dan ekonomi perilaku Dan Ariely, efek ini menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan irasional untuk memberikan nilai yang jauh lebih tinggi pada suatu objek jika mereka turut serta dalam proses pembuatannya. Keringat, frustrasi, lecet di tangan, dan waktu yang kita korbankan diterjemahkan oleh otak sebagai investasi emosional. Kita tidak lagi melihat benda itu sebagai sekadar tumpukan kayu dan sekrup, melainkan sebagai bukti kompetensi dan perjuangan kita.

Contoh klasik lain dari efek ini terjadi pada industri kue instan di tahun 1950-an. Saat itu, produsen merilis tepung kue instan yang sangat praktis, cukup tambahkan air lalu aduk dan panggang. Namun anehnya, produk ini tidak laku. Para ibu rumah tangga merasa bersalah dan merasa "menipu" karena prosesnya terlalu mudah. Mereka merasa tidak benar-benar memasak. Produsen kemudian mengubah resepnya: mereka menghilangkan bubuk telur dari adonan dan mewajibkan konsumen untuk memecahkan dan menambahkan telur segar sendiri. Penjualan pun meroket drastis. Hanya dengan menambahkan sedikit usaha (memecahkan telur), konsumen merasa memiliki andil dalam penciptaan kue tersebut.

Manusia memiliki kebutuhan mendasar untuk merasa berguna dan kompeten. Kita ingin melihat dampak dari tangan kita sendiri di dunia fisik. Rasa "kepemilikan" (ownership) yang lahir dari usaha sendiri jauh lebih kuat dan tahan lama. Itulah sebabnya sayur yang kita tanam sendiri di kebun terasa lebih enak daripada sayur supermarket, dan syal rajutan sendiri yang berantakan terasa lebih hangat daripada syal butik.

Jadi, furnitur rakitan yang berdiri di sudut kamarmu itu mungkin terlihat biasa saja atau bahkan murahan di mata tamu yang berkunjung. Namun bagimu, itu adalah mahakarya tak ternilai. The IKEA Effect mengajarkan kita pelajaran hidup yang penting: bahwa terkadang kebahagiaan dan rasa bangga tidak datang dari kemudahan dan kenyamanan, melainkan dari kesulitan dan usaha yang kita berikan untuk mewujudkan sesuatu. Kita mencintai apa yang kita perjuangkan.

Logo Radio
🔴 Radio Live