Ceritra
Ceritra Warga

Kebiasaan Orang Jawa yang Dianggap Aneh oleh Orang Luar Jawa

Refa - Wednesday, 07 January 2026 | 11:00 AM

Background
Kebiasaan Orang Jawa yang Dianggap Aneh oleh Orang Luar Jawa
Ilustrasi Orang Jawa yang sedang Bercengkrama (Pinterest/dairysiaid)

Pernah nggak sih, punya teman dari luar Jawa yang main ke rumah, lalu wajahnya berubah bingung saat melihat bapak menyilakan minum? Atau mungkin sebaliknya, kamu yang sedang merantau ke Tanah Jawa seringkali merasa ada "frekuensi" yang nggak nyambung saat ngobrol dengan warga lokal?

Sering ada cerita lucu ketika teman dari Sumatera curhat dengan nada gemas. Katanya, "Bingung sama orang sini. Ditawari makan bilangnya 'nggak usah, makasih', tapi pas dipaksa dikit, eh mau juga. Jadi maunya apa?"

Momen-momen kecil seperti ini sering terjadi. Bagi mereka yang tumbuh besar dengan filosofi Jawa, hal-hal tersebut terasa sealami bernapas. Tapi bagi pendatang yang baru pertama kali bersentuhan dengan budaya ini, rasanya seperti masuk ke dunia yang penuh teka-teki. Ada kode-kode tak tertulis yang kadang bikin geleng-geleng kepala, tapi di sisi lain, justru di situlah letak hangatnya.

Mari duduk sebentar dan membicarakan kebiasaan-kebiasaan unik ini, bukan untuk menertawakannya, tapi untuk memahaminya lebih dalam.

Kenapa nunjuk arah kok pakai jempol, bukan telunjuk?

Ini pertanyaan klasik yang sering muncul di benak pendatang. Di belahan dunia mana pun, menunjuk sesuatu itu lumrahnya pakai jari telunjuk. Tegas, jelas, dan akurat. Tapi kalau kamu main ke Jogja atau Solo, dan bertanya arah jalan ke seorang ibu di pinggir jalan, kemungkinan besar beliau akan mengarahkan tangannya dengan jempol yang diacungkan, sementara empat jari lainnya ditekuk sopan.

Bagi orang luar, gestur ini mungkin terlihat kikuk. Tapi sebenarnya, ini adalah bentuk perendahan hati yang paling dasar. Menunjuk dengan telunjuk, dalam rasa bahasa tubuh orang Jawa, bisa dianggap sedikit agresif atau memerintah, seperti bos menunjuk anak buah.

Dengan menggunakan jempol dan sedikit membungkukkan badan, orang tersebut seolah berkata: "Menghormati kamu adalah prioritas, dan membantu tanpa merasa lebih tinggi itu penting." Jadi, ini bukan sekadar soal arah mata angin, tapi soal menempatkan rasa hormat di ujung jari.

Udah panas terik, kok malah pesen teh hangat?

Bayangkan Surabaya di jam 12 siang. Matahari rasanya ada dua di atas kepala. Orang yang berpikir logis pasti akan mencari es batu atau air mineral dingin dari kulkas. Tapi coba perhatikan bapak-bapak di angkringan atau warung kopi. Apa yang sering dipesan? Segelas teh panas atau kopi hitam yang asapnya masih mengepul.

Sering muncul pertanyaan, "Itu lidahnya nggak melepuh? Badannya nggak makin gerah?"

Jawabannya: justru itu nikmatnya. Ada sensasi menenangkan saat cairan hangat mengalir ke tenggorokan. Bagi masyarakat Jawa, minum bukan sekadar memuaskan dahaga, tapi sebuah ritual untuk ngleremke ati (menenangkan hati). Air es mungkin menyegarkan sesaat, tapi teh hangat dipercaya bikin perut nyaman dan keringat yang keluar setelahnya justru bikin badan terasa lebih enteng.

Bilang “Iya” padahal aslinya “Enggak”, kok bisa?

Nah, ini mungkin bagian yang paling sering bikin salah paham. Budaya ewuh pakewuh atau rasa sungkan adalah tulang punggung interaksi sosial di Jawa. Orang-orang dididik untuk tidak menyakiti perasaan orang lain, bahkan jika itu harus mengorbankan kenyamanan sendiri.

Misalnya, saat bertamu dan disuguhi camilan yang sebenarnya tidak terlalu disuka, jarang sekali ada yang bilang, "Nggak ah, nggak enak." Itu tabu. Biasanya, tamu akan tetap mengambil sedikit, mencicipinya, lalu tersenyum sambil bilang, "Inggih, enak."

Bagi orang yang terbiasa bicara to the point, sikap ini mungkin dianggap berbelit-belit atau bahkan tidak jujur. Tapi coba lihat dari kacamata lain: ini adalah cara menjaga harmoni. Penolakan langsung dianggap bisa meretakkan suasana. Jadi, masyarakat di sini belajar "menari" di antara kata-kata, berharap lawan bicara cukup peka untuk membaca apa yang tersirat, bukan cuma yang tersurat.

Pada akhirnya, kebiasaan-kebiasaan ini hanyalah warna-warni cara manusia menjalani hidup. Orang Jawa mungkin terlihat rumit dengan segala unggah-ungguhnya, atau aneh dengan selera makannya, tapi tujuannya selalu bermuara pada satu hal, yaitu menciptakan ketenangan dan kebersamaan.

Logo Radio
🔴 Radio Live