Ceritra
Ceritra Warga

Kamu Merasa Jago Ngomong? Justru Itu Tanda Kamu Perlu Baca Ini

Refa - Tuesday, 13 January 2026 | 12:00 PM

Background
Kamu Merasa Jago Ngomong? Justru Itu Tanda Kamu Perlu Baca Ini
Ilustrasi komunikasi dalam lingkup kantor (Pinterest/idionnevanzyl)

Banyak orang yang menganggap remeh kemampuan komunikasi dengan alasan, "Ah, kita kan sudah belajar ngomong sejak umur 2 tahun. Apa susahnya?"

Di dunia kerja dan kehidupan sosial, seringkali hard skill (seperti coding, akuntansi, atau desain) dianggap sebagai raja. Sementara komunikasi, negosiasi, dan empati dilabeli sebagai soft skill, istilah yang kadang membuatnya terdengar lembek, opsional, dan tidak terlalu krusial.

Padahal, kenyataannya justru sebaliknya. Kita bisa menjadi orang paling jenius di ruangan, tapi kalau kita tidak bisa menyampaikan ide itu ke orang lain, kejeniusan itu tidak akan ada harganya. Ibarat punya emas berton-ton tapi terkubur di pulau terpencil tanpa peta.

Kenapa skill yang kelihatannya sepele ini justru sering jadi penentu kesuksesan? Ini alasannya.

1. Ilusi Sudah Bisa

Masalah terbesar dari komunikasi adalah ilusi kompetensi. Karena kita melakukannya setiap hari (ngobrol, chat, email), kita merasa sudah jago. Padahal, ada jurang pemisah yang lebar antara "sekadar bicara" dan "berkomunikasi efektif".

Bicara itu hanyalah proses mengeluarkan suara. Sedangkan berkomunikasi adalah proses mentransfer makna dari satu kepala ke kepala lain dengan presisi. Banyak orang pintar bicara tapi buruk dalam mendengarkan, atau jago berdebat tapi gagal membangun koneksi. Menganggap kita tidak perlu belajar komunikasi adalah jebakan ego yang paling umum terjadi.

2. Pintu Masuk vs Tangga Naik

Coba perhatikan pola karir di sekitar kita. Hard skill biasanya adalah tiket masuk untuk mendapatkan pekerjaan. Kita diterima kerja karena bisa mengoperasikan software tertentu atau paham teknis mesin. Tapi, soft skill, terutama komunikasi, adalah tiket untuk naik jabatan.

Saat seorang karyawan ingin dipromosikan menjadi manajer atau pemimpin tim, kemampuan teknisnya menjadi nomor dua. Yang dicari adalah: Bisakah dia memotivasi tim? Bisakah dia meredam konflik? Bisakah dia mempresentasikan visi perusahaan ke klien? Seringkali, orang yang kariernya mentok bukan karena kurang pintar, tapi karena dia sulit diajak kerja sama atau gagal "menjual" idenya ke atasan.

3. Oli Pelumas Kehidupan

Bayangkan sebuah mesin canggih dengan ribuan gerigi besi. Tanpa oli pelumas, gerigi-gerigi itu akan saling bergesekan, panas, dan akhirnya macet atau patah. Dalam kehidupan sosial dan organisasi, komunikasi adalah olinya.

Ketika komunikasi macet, gesekan antarmanusia terjadi. Proyek gagal karena instruksi tidak jelas, hubungan asmara kandas karena gengsi minta maaf, atau pertemanan hancur karena salah paham pesan teks. Kita sering menyalahkan "orangnya" atau "keadaannya", padahal akar masalahnya seringkali sesederhana cara penyampaian yang salah. Biaya yang harus dibayar akibat komunikasi buruk itu sangat mahal, mulai dari kehilangan uang, waktu, hingga kehilangan orang tersayang.

4. Pembeda di Era AI

Di zaman sekarang, kecerdasan buatan (AI) sudah bisa menulis kode, membuat gambar, bahkan menganalisis data lebih cepat dari manusia. Hard skill perlahan mulai bisa diotomatisasi. Tapi, ada satu hal yang (belum) bisa digantikan mesin: sentuhan manusia.

Kemampuan untuk membaca yang tersirat, memahami emosi di balik kata-kata, membujuk orang yang sedang ragu, dan memberikan rasa nyaman lewat obrolan adalah nilai jual tertinggi manusia saat ini. Di masa depan, orang yang dicari bukan lagi "robot hidup" yang jago hitungan, tapi komunikator ulung yang bisa menjembatani teknologi dan manusia.

Logo Radio
🔴 Radio Live