JOMO, Seni Menikmati Ketertinggalan di Tengah Bisingnya Dunia Digital
Nisrina - Friday, 26 December 2025 | 09:11 AM


Di era di mana notifikasi ponsel berbunyi setiap detik dan arus informasi mengalir deras tanpa henti, kita sering kali dihinggapi rasa cemas yang aneh jika tertinggal berita terbaru. Kita hidup dalam budaya yang menuntut untuk selalu "hadir" dan "tahu", seolah-olah ketidaktahuan adalah sebuah dosa sosial. Fenomena ini akrab disebut FOMO atau Fear of Missing Out, sebuah ketakutan akan kehilangan momen yang memaksa kita untuk terus menggulir layar ponsel hingga larut malam, memantau kehidupan orang lain, dan merasa gelisah saat melihat keseruan yang tidak kita ikuti. Namun, di tengah kelelahan mental akibat tuntutan konektivitas tanpa jeda tersebut, muncul sebuah penawar yang menenangkan bernama JOMO atau Joy of Missing Out. JOMO bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan sebuah deklarasi kemerdekaan diri untuk berani tidak tahu, berani tidak hadir, dan berani melepaskan diri dari hiruk-pikuk dunia maya demi kedamaian batin.
Mempraktikkan JOMO berarti kita secara sadar memilih untuk menetapkan batasan yang sehat antara dunia nyata dan dunia digital. Ini adalah seni menemukan kepuasan dari apa yang sedang kita lakukan saat ini, tanpa merasa perlu membandingkannya dengan apa yang dilakukan orang lain di tempat lain. Ketika kita berhenti mencemaskan pesta yang tidak kita hadiri, tren TikTok yang tidak kita pahami, atau perdebatan viral yang tidak kita ikuti, kita justru mendapatkan kembali kendali atas dua aset paling berharga dalam hidup: waktu dan atensi. Kita tidak lagi menjadi hamba algoritma yang didikte oleh notifikasi, melainkan menjadi tuan atas pikiran kita sendiri. JOMO mengajarkan kita bahwa tidak mengetahui gosip terbaru selebritas tidak akan mengurangi kualitas hidup kita, justru sebaliknya, hal itu memberi ruang bagi pikiran untuk beristirahat dan bernapas lega.
Esensi dari JOMO adalah hadir sepenuhnya di masa kini atau being present. Saat kita meletakkan ponsel dan memilih untuk tidak "terhubung" dengan dunia luar, kita sebenarnya sedang terhubung kembali dengan diri sendiri dan orang-orang terdekat di sekitar kita. Kita menjadi lebih peka terhadap rasa kopi yang kita sesap di pagi hari, lebih mendengarkan saat berbincang dengan sahabat tanpa distraksi, dan lebih tenang saat membaca buku di sudut kamar. Menutup diri sejenak dari kebisingan luar bukanlah tanda ketertinggalan atau anti-sosial, melainkan sebuah strategi pertahanan diri untuk menjaga kewarasan. Pada akhirnya, JOMO menyadarkan kita bahwa hidup tidak diukur dari seberapa banyak informasi yang kita konsumsi atau seberapa cepat kita merespons pesan, tetapi seberapa dalam dan bermakna kita menikmati momen-momen nyata yang sedang berlangsung di depan mata.
Next News

Jangan Sampai Perut Kenyang Tapi Otak "Busung Lapar": Membedah Prioritas Pendidikan Selain MBG
11 hours ago

Soft saving vs YOLO spending: nabung pelan atau nikmatin hidup sekarang?
3 days ago

Doomscrolling economy: kebiasaan scroll berita bikin makin cemas soal masa depan
3 days ago

Adaptasi cepat: "survival skill" utama Gen Z di dunia yang terus berubah
3 days ago

Self-preparedness: skill penting yang jarang diajarkan di Sekolah!
4 days ago

Bukan Sekadar Tinta: Membedah Ritual Rasa Sakit dan Komitmen di Balik Seni Tato
15 hours ago

Shortcut Menuju Melarat: Membongkar Algoritma dan Manipulasi Psikologi di Balik Slot Gacor
15 hours ago

FOMO vs realita: tekanan sosial di era semua serba update
4 days ago

Climate Anxiety: Kenapa Berita Lingkungan Bikin Kita Sesak?
4 days ago

Kenapa Petinggi Korporat Sekarang Lebih Pilih Ransel daripada Pakai Koper?
5 days ago





