Jebakan FOMO yang Membuat Hidup Terasa Kurang
Nisrina - Saturday, 03 January 2026 | 03:15 PM


Media sosial telah menciptakan penyakit psikologis baru yang disebut FOMO atau Fear of Missing Out, yaitu rasa takut tertinggal atau tidak dilibatkan dalam momen-momen seru orang lain. Saat kita membuka Instagram atau TikTok, kita disuguhi parade kesuksesan, liburan mewah, dan hubungan romantis orang lain. Secara tidak sadar, otak kita mulai membandingkan behind the scene kehidupan kita yang berantakan dengan highlight reel kehidupan orang lain yang sudah diedit sempurna. Hasilnya adalah perasaan tidak cukup, cemas, dan rendah diri.
FOMO membuat kita hidup dalam kejaran bayang-bayang. Kita membeli barang yang tidak kita butuhkan hanya karena sedang tren. Kita pergi ke tempat-tempat viral bukan karena ingin menikmatinya, tapi demi validasi instastory. Kita kehilangan kemampuan untuk menikmati momen "di sini dan saat ini" karena sibuk memikirkan apa yang dilakukan orang lain di tempat lain. Hidup didikte oleh algoritma dan standar kebahagiaan orang lain, sehingga kita lupa bertanya apa yang sebenarnya membuat diri kita sendiri bahagia.
Bahaya terbesar FOMO adalah ia mencuri rasa syukur. Kita menjadi buta terhadap berkah yang ada di depan mata karena terlalu sibuk melirik rumput tetangga yang terlihat lebih hijau. Padahal, di balik foto senyum lebar di media sosial, setiap orang memiliki perjuangan dan lukanya masing-masing yang tidak ditampilkan. Kita membandingkan "dalamnya" kita dengan "luarnya" orang lain, sebuah perbandingan yang tidak adil dan menyakitkan.
Untuk melawan FOMO, kita perlu memperkenalkan konsep JOMO atau Joy of Missing Out. Ini adalah kebahagiaan dan kelegaan karena tidak terlibat dalam hiruk pikuk orang lain. JOMO mengajak kita untuk fokus pada prioritas pribadi dan menikmati kesendirian atau kebersamaan yang berkualitas tanpa gangguan gawai. Merasa cukup dengan apa yang kita miliki dan tidak merasa perlu membuktikan apa pun kepada dunia maya adalah tingkat kedewasaan mental yang membebaskan.
Mulailah membatasi konsumsi media sosial jika dirasa sudah mulai mengganggu ketenangan jiwa. Ingatlah bahwa hidup terbaik adalah hidup yang dinikmati secara nyata, bukan yang dipamerkan. Fokuslah menanam dan menyiram rumput di halaman sendiri, niscaya ia akan tumbuh hijau dan indah tanpa perlu kita iri pada halaman tetangga. Kebahagiaan sejati bersifat internal, tidak bergantung pada seberapa update kita terhadap tren dunia.
Next News

Malam Paling Agung di Masjidil Aqsa Saat Nabi Muhammad SAW Menjadi Imam Seluruh Nabi
in an hour

4 Lokasi Bersejarah yang Disinggahi dan Menjadi Tempat Sholat Rasulullah Saat Isra' Mi'raj
in 35 minutes

Bukan Sekadar Perjalanan, Ini Protokol Langit Saat Nabi Muhammad SAW Naik Buraq
in 35 minutes

Langkahnya Sejauh Pandangan Mata, Keajaiban Buraq dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj
in 5 minutes

Kenapa Rajaban Selalu Dinanti? Tradisi Jawa Rayakan Isra’ Mi’raj dengan Cara Berbeda
25 minutes ago

Mengapa Isra’ Mi’raj Terjadi Setelah Tahun Kesedihan? Ini Jawabannya
an hour ago

Salat Masih Terasa Hampa? Coba Renungi Makna Al-Fatihah Ayat per Ayat
an hour ago

Bukan Sihir! Penyakit Aneh Ini Bisa Bikin Kamu Mabuk Berat Cuma Gara-gara Sepotong Roti
in 20 minutes

Sholat Sering Melamun? Coba 6 Teknik Ini agar Lebih Khusyuk
2 hours ago

Bukan Beban, Ini Alasan Sholat Disebut Hadiah Langsung dari Allah
3 hours ago






