

Pernahkah kamu sedang asyik melayang menuju alam mimpi, tubuhmu mulai rileks, napas melambat, namun tiba-tiba seluruh tubuhmu tersentak hebat seolah-olah kamu baru saja terpeleset dari pinggir tebing? Jantungmu berpacu kencang dan matamu terbuka lebar karena kaget. Fenomena yang sering mengganggu kenyamanan tidur ini disebut Hypnic Jerk atau sentakan hipnagogik. Meskipun rasanya menakutkan, ini adalah kejadian yang sangat normal dan dialami oleh hampir semua manusia di bumi, mulai dari bayi hingga orang tua.
Secara fisiologis, Hypnic Jerk adalah kontraksi otot tak sadar yang cepat dan kuat. Ini biasanya terjadi pada tahap awal tidur yang disebut tahap non-REM 1. Pada fase ini, sistem saraf tubuh sedang melakukan transisi dari mode sadar ke mode istirahat. Detak jantung menurun, suhu tubuh turun, dan otot-otot mulai melemas secara total. Namun terkadang, proses transisi ini tidak berjalan mulus. Ada semacam gangguan sinyal listrik di otak yang menyebabkan otot berkontraksi tiba-tiba. Penyebab pastinya bisa diperparah oleh kelelahan ekstrem, konsumsi kafein berlebih, atau stres tinggi.
Namun penjelasan yang paling menarik datang dari sudut pandang biologi evolusioner. Para ilmuwan mengajukan hipotesis bahwa sentakan ini adalah sisa-sisa insting purba warisan nenek moyang primata kita. Jutaan tahun yang lalu, leluhur manusia tidur di atas dahan pohon untuk menghindari predator di tanah. Tidur di ketinggian tentu memiliki risiko fatal yakni jatuh ke tanah yang bisa berujung pada kematian atau cedera parah. Oleh karena itu, otak primata mengembangkan mekanisme keamanan khusus.
Saat kita mulai tertidur lelap, otot-otot tubuh akan mengalami relaksasi total atau atonia. Bagi bagian otak kita yang lebih primitif, sensasi otot yang melemas secara drastis dan sensasi melayang ini terkadang salah diartikan. Otak mengira tubuh sedang benar-benar jatuh bebas dari ketinggian pohon. Sebagai respons darurat, otak segera mengirimkan sinyal kejut listrik ke otot-otot utama agar menegang kembali. Tujuannya sederhana yakni agar "kera" yang sedang tidur itu terbangun kaget dan segera mencengkeram dahan pohon kembali supaya tidak jatuh.
Jadi, meskipun sekarang kita tidur di kasur busa yang empuk dan aman di dalam kamar yang terkunci, otak purba kita masih tetap waspada. Ia masih menjalankan protokol keamanan zaman batu untuk menyelamatkanmu dari bahaya jatuh yang sebenarnya sudah tidak ada. Sentakan yang menyebalkan itu sebenarnya adalah cara tubuhmu berkata "Hati-hati, pegangan yang kuat!" meski terdengar konyol di zaman modern ini. Mengetahui hal ini mungkin bisa membuatmu sedikit lebih memaklumi tingkah aneh tubuhmu sendiri saat tidur nanti malam.
Next News

Alasan Kenapa Makanan Bioskop Lebih Mahal Daripada Tiket Film Yang Dijual
9 hours ago

Kenapa Film Horor Selalu Laris di Indonesia? Membedah Fenomena Genre Paling Konsisten
13 hours ago

Kenapa Abu Vulkanik Sangat Berbahaya Bagi Mesin Pesawat?
10 hours ago

Kenapa Ada Orang Harus Dengar Musik Agar Bisa Konsentrasi?
8 days ago

Alasan Medis Kenapa Toleransi Pedas Tiap Orang Berbeda
8 days ago

Termometer Sang Konduktor: Bagaimana Suhu Mengatur Jam Kehidupan Surabaya
9 days ago

Tren Belanja Online Warga Surabaya: Dari Marketplace ke Live Shopping
9 days ago

Bukan Sekadar 'Buta Aturan': Menelusuri Akar Rendahnya Kepatuhan Hukum di Indonesia
20 days ago

Trotoar Berbagi: Dilema Pedagang Kaki Lima Antara Hak Ekonomi dan Hak Pejalan Kaki
20 days ago

Graffiti: Seni atau Perusak Lingkungan?
20 days ago

