Ceritra
Ceritra Cinta

Hargai Perbedaan Cara Mencintai atau Love Language Pasangan

Refa - Monday, 22 December 2025 | 10:00 AM

Background
Hargai Perbedaan Cara Mencintai atau Love Language Pasangan
Ilustrasi Pasangan (Pinterest/harvesttmoonn)

Salah satu konflik paling sunyi namun mematikan dalam sebuah hubungan adalah perasaan "Aku sudah memberikan segalanya, tapi kenapa dia masih merasa kurang?"

Sering kali, masalahnya bukan pada kurangnya rasa cinta, melainkan pada kesalahan penerjemahan.

Bayangkan seseorang berbicara bahasa Prancis dengan puitis kepada pasangannya yang hanya mengerti bahasa Jepang. Seindah apa pun puisi itu, pesannya tidak akan sampai. Hal yang sama terjadi dalam ekspresi kasih sayang. Setiap individu memiliki "dialek" cinta yang unik, yang dibentuk oleh pola asuh masa kecil dan pengalaman hidup.

Berikut adalah panduan untuk memahami dan menjembatani jurang perbedaan ekspresi cinta tersebut.

Jebakan "Proyeksi Diri" (Self-Projection)

Kesalahan terbesar manusia dalam mencintai adalah berasumsi bahwa orang lain ingin dicintai dengan cara yang sama seperti dirinya ingin dicintai.

Seorang individu yang merasa dicintai saat diberi hadiah (Gift Giving) akan cenderung membanjiri pasangannya dengan kado. Namun, jika pasangannya adalah tipe yang mendambakan waktu berkualitas (Quality Time), tumpukan kado itu tidak akan berarti banyak. Pasangan tersebut justru akan merasa kesepian di tengah tumpukan barang mewah.

Ini disebut proyeksi diri. Seseorang mencintai pasangannya bukan sebagaimana pasangannya butuhkan, melainkan sebagaimana dirinya ingin diperlakukan. Menghargai perbedaan dimulai dengan berhenti memaksakan standar pribadi kepada orang lain.

Membedah The 5 Love Languages

Psikolog Gary Chapman memetakan lima cara utama manusia mengekspresikan dan menerima cinta. Gesekan terjadi ketika dua dialek ini bertabrakan:

  • Words of Affirmation: Butuh pujian verbal, ucapan "aku sayang kamu", dan apresiasi lisan. Bagi tipe lain, ini mungkin terdengar gombal atau berlebihan.
  • Quality Time: Butuh atensi penuh tanpa gawai (gadget). Duduk diam berdua lebih berharga daripada kado mahal.
  • Acts of Service: Filosofinya adalah "Talk is cheap". Cinta itu memperbaiki keran bocor, memasakkan makanan, atau menjemput saat hujan.
  • Receiving Gifts: Bukan tentang harga, tapi simbol visual bahwa "dia memikirkanku saat aku tidak ada".
  • Physical Touch: Merasa aman dan dicintai melalui pegangan tangan, pelukan, atau kedekatan fisik.

Memahami bahwa pasangan mungkin memiliki "bahasa ibu" yang berbeda adalah kunci untuk berhenti menghakimi cara mereka mencintai.

Mengubah Rasa Tersinggung Menjadi Rasa Syukur

Ketika perbedaan cara mencintai ini tidak dipahami, sering muncul rasa tersinggung.

Contoh: Seseorang yang bahasa cintanya "Kata-kata" mungkin merasa pasangannya yang tipe "Tindakan" itu dingin dan kaku karena jarang memuji. Padahal, pasangan tersebut menunjukkan cintanya dengan selalu memastikan bensin mobil terisi penuh atau membayar tagihan tepat waktu.

Menghargai perbedaan berarti belajar melihat niat di balik aksi. Meskipun ekspresinya tidak sesuai harapan, upaya yang dilakukan adalah bukti cinta yang valid. Belajarlah menjadi "penerjemah" yang baik: "Oh, dia tidak bilang 'I love you', tapi dia menyeduh kopi untukku setiap pagi. Itu adalah cara dia bilang sayang."

Konsep "Cinta Dua Arah" (Bilingual Love)

Hubungan yang dewasa tidak hanya menuntut untuk dimengerti, tetapi juga belajar untuk berbicara bahasa asing.

Jika pasangan adalah tipe "Sentuhan Fisik" sementara pasangannya bukan, pasangan yang bukan tipe fisik perlu belajar (sedikit memaksakan diri) untuk lebih sering menggandeng tangan demi mengisi tangki cinta pasangannya. Sebaliknya, si tipe fisik perlu belajar memberi ruang atau memberi apresiasi verbal jika itu yang dibutuhkan pasangannya.

Ini bukan tentang mengubah kepribadian, melainkan tentang fleksibilitas. Mencintai adalah kata kerja, yang artinya membutuhkan usaha aktif untuk menyesuaikan frekuensi.

Komunikasi, Bukan Kode

Berharap pasangan bisa "membaca pikiran" adalah resep bencana.

Alih-alih diam dan berharap pasangan peka, komunikasikan kebutuhan secara spesifik dan logis.

  • Salah: "Kamu tuh nggak pernah romantis!" (Ambigu dan menyerang).
  • Benar: "Aku merasa sangat dicintai kalau kamu meluangkan waktu 15 menit saja tanpa HP sebelum tidur untuk ngobrol." (Spesifik dan instruktif).

Memberikan "buku panduan" kepada pasangan tentang cara mencintai diri sendiri bukanlah tindakan egois, melainkan tindakan yang memudahkan kedua belah pihak.

Logo Radio
🔴 Radio Live