Fenomena Cross-dress Cosplay sebagai Anomali Toleransi di Tengah Masyarakat Konservatif
Nisrina - Wednesday, 17 December 2025 | 12:24 PM


Di tengah hiruk-pikuk festival budaya pop Jepang yang kini semakin menjamur di berbagai kota besar di Indonesia, terdapat sebuah pemandangan yang menarik untuk dikaji ulang secara sosiologis. Di antara ribuan pengunjung, sering kali kita menangkap sosok karakter perempuan yang begitu anggun, dengan riasan mata yang presisi, gaun yang menjuntai indah, dan gestur yang memikat. Namun, ketika sosok tersebut disapa atau berbicara, terdengar suara bariton yang maskulin. Ia adalah seorang laki-laki yang sedang melakukan cross-dress atau cross-play, sebuah praktik memerankan karakter fiksi yang berlawanan jenis kelamin dengan pemerannya. Menariknya, respons yang ia terima bukanlah cemoohan atau penghakiman, melainkan decak kagum, tepuk tangan, dan antrean panjang orang-orang yang ingin mengajak berfoto bersama.
Fenomena ini menghadirkan sebuah paradoks yang menggelitik jika disandingkan dengan realitas sosial masyarakat kita yang dikenal memegang teguh norma gender biner. Di ruang publik konvensional, laki-laki yang mengenakan pakaian perempuan atau berperilaku feminin sering kali menjadi sasaran stigma, perundungan, bahkan dianggap sebagai ancaman moral yang serius. Isu-isu seputar LGBT sering kali memantik reaksi keras dan defensif dari mayoritas masyarakat yang mungkin bisa dikategorikan sebagai homofobia atau transfobia. Namun, di dalam "gelembung" acara cosplay, tembok tebal norma tersebut seolah mencair. Seorang laki-laki yang berdandan cantik ("trap" dalam istilah slang komunitas) justru dipuji atas totalitas, dedikasi, dan kemampuan make-up tingkat tinggi yang dimilikinya.
Kenyataan ini membuka ruang diskusi baru bahwa masyarakat kita sejatinya tidak sepenuhnya kaku atau anti terhadap ekspresi gender yang cair, asalkan hal tersebut dikemas dalam wadah yang mereka sukai dan pahami, yaitu hiburan dan seni. Dalam konteks cosplay, tubuh manusia dipandang sebagai kanvas seni. Ketika seorang cosplayer melakukan cross-dress, audiens tidak melihatnya sebagai pernyataan orientasi seksual atau identitas gender permanen, melainkan sebagai bentuk profesionalitas hobi. Ada semacam kesepakatan tak tertulis bahwa di area konvensi, batas antara realitas dan fiksi menjadi kabur. Seseorang dihargai bukan karena siapa dia di kehidupan nyata, melainkan seberapa akurat ia mampu menghidupkan karakter fiksi yang dicintai banyak orang.
Sikap permisif ini menunjukkan bahwa ketakutan atau kebencian terhadap hal-hal yang berbau lintas gender (homofobia) di masyarakat kita sering kali bersifat situasional dan tidak absolut. Ketika elemen "ancaman terhadap nilai moral" digantikan oleh elemen "kreativitas dan hiburan", resistensi masyarakat menurun drastis. Cross-player diterima karena mereka dianggap sedang "bermain peran", sebuah aktivitas yang memiliki jarak aman dari realitas sehari-hari. Hal ini membuktikan bahwa prasangka sosial sebenarnya bisa dinegosiasikan. Masyarakat mampu menoleransi, bahkan merayakan ambiguitas gender, ketika mereka memiliki konteks budaya yang sama dan rasa kepemilikan terhadap objek yang ditampilkan.
Pada akhirnya, fenomena cross-dress dalam dunia cosplay mengajarkan kita tentang sisi humanis yang sering tersembunyi. Bahwa di balik lapisan nilai konservatif, terdapat kemampuan untuk mengapresiasi keindahan dan usaha keras manusia tanpa sekat gender. Ini adalah bukti kecil bahwa ruang aman untuk berekspresi bisa tercipta ketika kita memandang orang lain melalui lensa karya dan kreativitas, bukan sekadar pelabelan sosial semata. Meskipun jalan menuju inklusivitas total mungkin masih panjang, namun apa yang terjadi di lantai pameran budaya pop memberikan secercah harapan bahwa masyarakat kita sebenarnya memiliki kapasitas untuk menjadi lebih luwes dan terbuka daripada yang sering digambarkan.
Next News

Malam Paling Agung di Masjidil Aqsa Saat Nabi Muhammad SAW Menjadi Imam Seluruh Nabi
in 4 hours

4 Lokasi Bersejarah yang Disinggahi dan Menjadi Tempat Sholat Rasulullah Saat Isra' Mi'raj
in 3 hours

Bukan Sekadar Perjalanan, Ini Protokol Langit Saat Nabi Muhammad SAW Naik Buraq
in 3 hours

Langkahnya Sejauh Pandangan Mata, Keajaiban Buraq dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj
in 3 hours

Kenapa Rajaban Selalu Dinanti? Tradisi Jawa Rayakan Isra’ Mi’raj dengan Cara Berbeda
in 2 hours

Mengapa Isra’ Mi’raj Terjadi Setelah Tahun Kesedihan? Ini Jawabannya
in 2 hours

Salat Masih Terasa Hampa? Coba Renungi Makna Al-Fatihah Ayat per Ayat
in an hour

Bukan Sihir! Penyakit Aneh Ini Bisa Bikin Kamu Mabuk Berat Cuma Gara-gara Sepotong Roti
in 3 hours

Sholat Sering Melamun? Coba 6 Teknik Ini agar Lebih Khusyuk
in 30 minutes

Bukan Beban, Ini Alasan Sholat Disebut Hadiah Langsung dari Allah
a few seconds ago






