Ceritra
Ceritra Warga

Dulu Cuma Dimakan Raja, Sekarang Bisa Dibeli di Warung! Ini 3 Kuliner Kerajaan Nusantara

Refa - Wednesday, 14 January 2026 | 03:00 PM

Background
Dulu Cuma Dimakan Raja, Sekarang Bisa Dibeli di Warung! Ini 3 Kuliner Kerajaan Nusantara
Ilustrasi selat solo (Kompascom/Shutterstock)

Kekayaan kuliner Nusantara tidak hanya terbentuk dari keberagaman rempah-rempah yang melimpah, tetapi juga dari sejarah panjang kerajaan-kerajaan yang pernah berjaya di kepulauan ini. Banyak hidangan yang kini dapat dinikmati secara bebas di warung kaki lima atau restoran sederhana, dulunya merupakan sajian eksklusif yang hanya boleh dicicipi oleh kaum bangsawan atau disajikan pada momen sakral di dalam tembok istana. Pergeseran status kuliner ini memungkinkan masyarakat luas untuk menikmati kemewahan rasa yang dulunya menjadi simbol status sosial dan diplomasi politik para raja.

Gudeg Manggar

Berbeda dengan gudeg pada umumnya yang berbahan dasar nangka muda, Gudeg Manggar merupakan varian istimewa yang terbuat dari bunga kelapa muda atau manggar. Hidangan ini memiliki sejarah panjang sebagai menu favorit para raja di Keraton Yogyakarta, khususnya Sultan Hamengkubuwono VII. Tekstur manggar yang lebih padat dan rasa gurih yang khas membedakannya dari gudeg nangka. Pada masa lalu, hidangan ini dianggap memiliki filosofi perlawanan dan kekuatan, serta dipercaya dapat memancarkan aura kecantikan bagi siapa pun yang menyantapnya. Karena bahan bakunya yang lebih sulit didapat dibandingkan nangka, Gudeg Manggar dulunya sangat jarang dinikmati oleh rakyat jelata dan menjadi simbol jamuan keraton.

Selat Solo

Selat Solo adalah bukti nyata akulturasi budaya antara cita rasa Jawa dan pengaruh kolonial Eropa yang terjadi di dalam dapur Keraton Kasunanan Surakarta. Hidangan ini lahir dari keinginan raja untuk menyajikan makanan yang sesuai dengan lidah tamu-tamu Belanda, namun tetap mempertahankan identitas lokal. Kata "Selat" sendiri merupakan pelafalan lokal dari kata "Salad" atau "Slachtje" (bistik). Daging sapi dimasak menyerupai bistik Eropa, namun kuahnya dimodifikasi menjadi lebih encer, manis, dan kaya rempah seperti pala dan cengkeh, menggantikan saus kental ala Barat. Sajian ini dulunya merupakan menu diplomasi kelas tinggi yang menjembatani dua budaya berbeda di meja makan istana.

Coto Makassar

Di Sulawesi Selatan, Coto Makassar yang kini menjadi sarapan populer masyarakat luas, menyimpan cerita tentang hierarki sosial Kerajaan Gowa-Tallo pada abad ke-16. Konon, terdapat pembagian bahan baku yang ketat dalam penyajian hidangan berkuah rempah ini. Bagian daging sapi murni kualitas terbaik (sirloin atau tenderloin) hanya disajikan untuk disantap oleh keluarga kerajaan dan tamu kehormatan. Sementara itu, bagian jeroan seperti hati, usus, limpa, dan jantung diolah untuk para pengawal kerajaan atau abdi dalem. Meskipun berawal dari pemisahan kelas, kini perpaduan daging dan jeroan justru menjadi karakteristik utuh yang memperkaya cita rasa Coto Makassar yang dinikmati semua kalangan.

Logo Radio
🔴 Radio Live