Diamnya Laki laki Saat Teman Melecehkan Perempuan Adalah Luka
Nisrina - Saturday, 03 January 2026 | 08:45 AM


Ada sebuah fenomena sosial yang mengiris hati dan sering kali luput dari pembahasan serius, yakni budaya "diam" di kalangan pertemanan laki-laki. Banyak laki-laki yang sebenarnya melabeli diri mereka sebagai "orang baik" mereka tidak pernah menggoda perempuan di jalan, tidak melakukan kekerasan fisik, dan sopan dalam bertutur. Namun, kebaikan mereka mendadak luntur ketika mereka memilih bungkam seribu bahasa saat melihat teman satu tongkrongannya melakukan pelecehan, baik itu berupa siulan, komentar seksis, atau tindakan merendahkan perempuan lainnya.
Dalih yang sering digunakan adalah "itu bukan urusan saya" atau "saya nggak mau ikut campur biar nggak ribut". Mereka beranggapan bahwa dengan tidak ikut melakukan, mereka tetap bersih dan netral. Padahal, dalam konteks kekerasan dan pelecehan, tidak ada posisi netral. Ketika Anda melihat ketidakadilan terjadi di depan mata dan Anda memilih diam, secara tidak langsung Anda sedang memberikan validasi kepada pelaku. Diamnya Anda dianggap sebagai persetujuan sunyi (silent approval) oleh teman Anda yang bermasalah itu, membuatnya merasa bahwa tindakannya wajar dan diterima oleh lingkungan sosialnya.
Sikap diam ini sebenarnya didorong oleh keinginan kuat untuk fit in atau diterima dalam lingkaran pertemanan. Ada ketakutan sosial bahwa jika menegur, mereka akan dianggap "nggak asik", "baperan", atau sok suci, yang berujung dikucilkan dari circle. Akibatnya, mereka rela mengorbankan hati nurani demi menjaga solidaritas semu yang beracun. Padahal, solidaritas yang sejati seharusnya saling mengingatkan dalam kebaikan, bukan saling menutupi kebobrokan moral yang merugikan orang lain.
Bagi perempuan yang menjadi korban, diamnya "laki-laki baik" ini terasa sama menyakitkannya dengan tindakan pelaku. Ketika seorang perempuan dilecehkan dan teman-teman pelaku hanya diam menonton tanpa membela, di mata korban, seluruh kelompok itu adalah pelaku. Korban tidak bisa membedakan mana yang jahat dan mana yang "hanya diam", karena keduanya sama-sama membiarkan rasa takut dan trauma itu terjadi. Kekecewaan korban terhadap mereka yang diam sering kali melahirkan ketidakpercayaan general terhadap laki-laki.
Sudah saatnya definisi maskulinitas dan pertemanan ini diubah. Menjadi "orang baik" saja tidak cukup; kita butuh orang-orang yang berani bersuara. Menegur teman yang berbuat salah memang tidak nyaman, tapi itu adalah langkah krusial untuk memutus rantai budaya pelecehan. Jika kita benar-benar peduli pada ibu, saudara perempuan, atau teman wanita kita, mulailah dengan berani berkata "itu nggak lucu, Bro" atau "jangan kayak gitu lah" saat teman kita mulai melampaui batas. Keberanian kecil itulah yang membedakan laki-laki sejati dengan pengecut yang bersembunyi di balik kata netral.
Next News

Birthday Blues: Mengapa Sebagian Orang Justru Merasa Sedih Saat Ulang Tahun?
7 days ago

Mengapa Kita Senang Mendapat Ucapan Ulang Tahun?
7 days ago

Kue Ulang Tahun: Bagaimana Tradisi Ini Berawal?
7 days ago

Kenapa Tiup Lilin Menjadi Tradisi Saat Ulang Tahun?
7 days ago

Ulang Tahun: Mengapa Momen Bertambah Usia Selalu Terasa Istimewa?
7 days ago

Rumah Sebagai Safe Space: Mengapa Lingkungan Tempat Tinggal yang Bersih Memengaruhi Kesejahteraan Kita?
13 days ago

Menjemur di Bawah Matahari atau Di Tempat Teduh, Mana yang Lebih Baik?
13 days ago

Kebiasaan yang Tanpa Sadar Mengundang Kecoak, Tikus, dan Hama Lainnya Ke Rumah
13 days ago

Dari Mana Asal Debu di Rumah? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya
13 days ago

Jangan Asal Campur Bahan Pembersih Ini Risiko Fatalnya
13 days ago

