Dari Tersedak Anggur di Spanyol hingga Melempar Piring di Denmark, Inilah Cara Paling Aneh Manusia Memancing Keberuntungan
Refa - Wednesday, 31 December 2025 | 11:30 AM


Malam ini, miliaran manusia di seluruh dunia akan melakukan ritual yang sama: menatap jam dinding, menghitung mundur sepuluh detik, lalu bersorak saat jarum menunjuk angka dua belas. Di Indonesia, kita mungkin merayakannya dengan meniup terompet kertas atau membakar jagung bersama tetangga. Namun, kalau kita menggeser peta dunia sedikit ke barat atau utara, kita akan menemukan bahwa manusia rela melakukan hal-hal yang sangat tidak masuk akal, bahkan sedikit berbahaya, demi satu hal abstrak bernama keberuntungan.
Obsesi manusia terhadap nasib baik di tahun yang baru melahirkan tradisi-tradisi ajaib. Di malam pergantian tahun, logika sering kali dikesampingkan demi simbolisme. Bagi banyak kebudayaan, cara kamu menghabiskan detik pertama di tahun baru akan menentukan nasibmu selama 365 hari ke depan. Maka, jangan heran kalau malam ini di berbagai belahan bumi, orang-orang sedang sibuk melakukan "ritual pemancing nasib" yang mungkin terdengar seperti lelucon.
Ujian Tersedak Masal di Madrid
Kalau kamu sedang berada di Spanyol malam ini, tepatnya di Puerta del Sol, Madrid, kamu tidak akan melihat orang berciuman saat lonceng berbunyi. Kamu akan melihat ribuan orang dengan pipi menggembung, berusaha mati-matian menelan dua belas butir anggur dalam waktu dua belas detik. Tradisi ini bernama Las Doce Uvas de la Suerte. Aturannya sederhana tapi brutal. Kamu harus memakan satu butir anggur untuk setiap dentang lonceng jam dua belas malam.
Terdengar mudah? Cobalah sendiri. Mengunyah dan menelan satu buah anggur per detik sambil tertawa dan berdesakan adalah tantangan fisik yang nyata. Mitosnya mengatakan kalau kamu gagal menghabiskan 12 anggur tepat waktu, nasib buruk akan mengintai. Namun kalau berhasil, kamu dijamin makmur. Jadi, momen paling sakral pergantian tahun di Spanyol sering kali diwarnai dengan wajah-wajah panik yang berusaha agar tidak tersedak biji anggur. Ini bukti bahwa orang Spanyol sangat serius soal nasib baik, bahkan jika harus mempertaruhkan saluran pernapasan mereka.
Sampah Pecahan Piring adalah Tanda Cinta
Berpindah ke Denmark, definisi "bertamu" di malam tahun baru punya arti yang sangat agresif. Kalau di pagi hari tanggal 1 Januari warga Copenhagen membuka pintu rumah dan menemukan tumpukan pecahan piring beling dan gelas di teras, mereka tidak akan marah atau memanggil polisi. Mereka justru akan tersenyum bangga.
Tradisi Denmark mengharuskan orang untuk menyimpan piring retak atau gelas tua sepanjang tahun, lalu melemparkannya ke pintu rumah teman atau kerabat yang mereka sayangi di malam tahun baru. Semakin tinggi tumpukan sampah beling di depan pintu rumahmu, artinya semakin banyak orang yang mencintaimu dan mendoakan nasib baik untukmu. Bunyi pecahan keramik yang berisik dianggap sebagai musik persahabatan. Bayangkan sebuah budaya di mana vandalisme properti justru menjadi bahasa cinta tertinggi; itulah uniknya cara orang Denmark merayakan kebersamaan.
Lari Keliling Komplek Membawa Koper Kosong
Sementara itu di Amerika Latin, khususnya di Kolombia dan Ekuador, orang-orang punya cara unik untuk memanifestasikan impian traveling mereka. Tepat setelah tengah malam, jangan kaget kalau melihat orang-orang berlarian kencang mengelilingi blok perumahan sambil menyeret koper kosong. Mereka tidak sedang diusir dari rumah atau mengejar pesawat.
Ritual lari membawa koper ini dipercaya akan menjamin bahwa tahun depan pemiliknya akan banyak bepergian atau liburan ke tempat jauh. Semakin cepat dan jauh mereka berlari, semakin jauh pula destinasi liburan yang akan mereka capai. Selain itu, urusan pakaian dalam juga jadi hal krusial di sana. Memakai celana dalam warna kuning di malam tahun baru dipercaya mendatangkan kekayaan, sementara warna merah akan mendatangkan jodoh. Jadi, di balik pakaian pesta yang glamor malam ini, banyak orang di Amerika Latin yang diam-diam menaruh harapan besar pada warna pakaian dalam mereka.
Pada akhirnya, semua tradisi aneh ini, mulai dari tersedak anggur, memecahkan piring, hingga lari membawa koper, menunjukkan satu sifat dasar manusia yang menyentuh hati. Kita semua takut pada ketidakpastian masa depan. Ritual-ritual ini, sekonyol apa pun bentuknya, adalah cara manusia untuk merasa memiliki kendali atas nasib, sebuah upaya kolektif untuk menertawakan ketakutan dan menyambut misteri tahun depan dengan penuh harapan.
Next News

Bosan Main Monopoli yang Itu-itu Aja? Cobain 6 Edisi Unik Ini Biar Nongkrong Gak Garing
12 hours ago

Gak Perlu Malu Lagi! Cara Tenxi Mengubah Dangdut Jadi "Swag" dan Mendunia
12 hours ago

Warna Pink dalam Perspektif Sejarah: Dari Simbol Maskulinitas hingga Identitas Feminitas
a day ago

Mengapa Sebagian Orang Justru Mengantuk Setelah Minum Kopi?
a day ago

Fenomena Efek Proust: Ketika Aroma Menghidupkan Kembali Kenangan
a day ago

Dilema Lemari Penuh: Strategi Mengelola Pakaian Lama agar Tetap Bernilai Guna
a day ago

Bedah House Music: Fondasi Ritmis di Balik Estetika Lagu K-pop yang Adiktif
2 days ago

Asal Usul Pepatah "An Apple a Day Keeps the Doctor Away"
2 days ago

Mengapa Bayi Perlu Menangis Saat Baru Lahir?
2 days ago

Mengapa Wanita Menjadi Lebih Sensitif Saat Menstruasi?
4 days ago





